Pertumbuhan kredit perbankan yang kembali menguat menjadi penopang utama likuiditas perekonomian nasional pada Juni 2026. Di tengah perlambatan laju uang beredar dalam arti luas (M2), Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit masih tumbuh dua digit, mencerminkan intermediasi perbankan yang tetap solid.
Dalam Analisis Perkembangan Uang Beredar (M2) Juni 2026 yang disampaikan melalui siaran pers Direktur Eksekutif Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso, posisi M2 pada Juni 2026 mencapai Rp10.432,8 triliun atau tumbuh 8,7% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan 10,8% pada Mei 2026.
“Perkembangan M2 pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat,” kata Direktur Eksekutif Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso.
BI mencatat penyaluran kredit pada Juni 2026 mencapai Rp8.916,7 triliun atau tumbuh 12,1% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan 10,8% pada bulan sebelumnya. Akselerasi kredit didorong oleh pembiayaan kepada debitur korporasi yang tumbuh 19,3% (yoy), sementara kredit kepada debitur perorangan meningkat 3,5% (yoy).
Berdasarkan jenis penggunaannya, Kredit Investasi menjadi segmen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 22,5% (yoy), meningkat dari 20,5% pada Mei. Peningkatan terutama ditopang pembiayaan sektor konstruksi dan industri pengolahan. Sementara itu, Kredit Modal Kerja tumbuh 9,6% (yoy), sedangkan Kredit Konsumsi relatif stabil di level 5,7% (yoy).
Di sektor properti, penyaluran kredit tumbuh 17,6% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 17,2%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan kredit konstruksi yang melonjak 47,1% (yoy), sementara kredit pemilikan rumah (KPR/KPA) dan kredit real estat tetap mencatat pertumbuhan meski melambat.
Penyaluran kredit kepada UMKM juga menunjukkan perbaikan. Pada Juni 2026, kredit UMKM tumbuh 1,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan 0,6% pada Mei. Kenaikan terutama berasal dari ekspansi kredit investasi UMKM yang tumbuh 13,5% (yoy).
Meski demikian, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) menunjukkan perlambatan. DPK tercatat sebesar Rp9.718,8 triliun atau tumbuh 8,1% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 10,8% pada Mei. Perlambatan terutama dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan giro dan tabungan, meski simpanan berjangka justru meningkat menjadi 6,3% (yoy).
Di sisi likuiditas, uang beredar dalam arti sempit (M1) tumbuh 9,8% (yoy) menjadi Rp5.937,5 triliun. Sementara itu, uang kuasi meningkat 6,9% (yoy) menjadi Rp4.409,3 triliun, ditopang percepatan pertumbuhan simpanan berjangka.
BI juga mencatat rata-rata tertimbang suku bunga kredit naik menjadi 8,79% pada Juni 2026 dari 8,70% pada bulan sebelumnya. Suku bunga simpanan berjangka pada seluruh tenor juga mengalami kenaikan.
Selain itu, uang primer (M0) adjusted tercatat sebesar Rp2.228 triliun atau tumbuh 13,8% (yoy). Menurut BI, pertumbuhan tersebut telah memperhitungkan dampak kebijakan insentif likuiditas yang ditempuh bank sentral.
“Pertumbuhan M0 adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted),” ujar Ramdan Denny Prakoso.




