Selasa, Februari 3, 2026

Pasar FMCG E-Commerce Indonesia Tembus Rp128 Triliun, Perilaku Belanja Bergeser ke Gaya Hidup

Must Read

Ketangguhan pasar Fast Moving Consumer Goods (FMCG) di kanal digital Indonesia semakin tak terbendung. Laporan terbaru bertajuk Compas.co.id FMCG E-commerce Outlook Report 2026 mengungkapkan bahwa total nilai penjualan hingga November 2025 (YTD) telah mencapai angka fantastis Rp128 Triliun.

​Pencapaian ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 27,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, laporan tersebut menyoroti bahwa lonjakan ini bukan sekadar fenomena konsumsi musiman, melainkan dampak dari pergeseran fundamental perilaku konsumen yang kini menjadikan belanja daring sebagai bagian dari rutinitas gaya hidup (habitual buying).

​CEO Compas.co.id, Hanindia Narendrata, menjelaskan bahwa pasar digital Indonesia telah memasuki fase matang. Konsumen saat ini tidak lagi hanya mencari kebutuhan pokok secara fungsional, tetapi mulai berinvestasi pada kualitas hidup mereka.

​”Kita melihat transisi di mana konsumen mulai memprioritaskan kenyamanan rumah, perawatan diri yang holistik, hingga stok dapur yang lebih cerdas. Ini merupakan sinyal kuat bagi pemilik merek untuk segera mengadaptasi strategi mereka di tahun 2026,” ungkap Narendrata.

​Dalam peta persaingan platform, Shopee tetap kokoh di posisi puncak dengan menguasai pangsa pasar sebesar 55,9%. Namun, perhatian pelaku industri tertuju pada Shop Tokopedia Group yang muncul sebagai mesin pertumbuhan baru.

​Platform ini mencatatkan lonjakan nilai transaksi luar biasa sebesar 60%, mencapai Rp50,2 Triliun. Fenomena ini menandai keberhasilan model Discovery Commerce, sebuah strategi yang secara efektif mengawinkan konten hiburan dengan aktivitas belanja langsung.

​Beberapa kategori produk mencatatkan tren pertumbuhan yang mendefinisikan wajah pasar FMCG sepanjang 2025:

  • ​Kecantikan (Beauty): Masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi 52,1%. Menariknya, parfum dan wewangian bukan lagi barang tersier melainkan kebutuhan esensial harian, terbukti dengan pertumbuhan kategori ini sebesar 53% yang mencapai nilai Rp6,1 Triliun.
  • ​Makanan & Minuman (F&B): Tumbuh 31% menjadi Rp26,2 Triliun. Tren belanja dalam jumlah besar (bulk) semakin populer, diiringi dengan budaya kopi di rumah yang mendorong sub-kategori kopi melesat hingga 120%.
  • ​Kesehatan (Health): Kesadaran akan pencegahan penyakit mendorong pertumbuhan sebesar 21%. Tren wellness terlihat jelas dari melonjaknya permintaan suplemen kecantikan hingga 81%.
  • ​Kebutuhan Rumah Tangga (Homecare): Kategori ini tumbuh 30% mencapai Rp4 Triliun. Investasi konsumen pada suasana hunian terlihat dari permintaan pengharum ruangan yang melonjak 65%.

​Memasuki tahun 2026, strategi multi-channel diprediksi akan menjadi kunci keberlanjutan bisnis. Narendrata menekankan bahwa setiap platform e-commerce memiliki karakter audiens yang unik, sehingga brand tidak bisa lagi menggunakan satu strategi seragam untuk semua kanal. Penggunaan strategi bundling dan fokus pada retensi konsumen akan menjadi pembeda antara merek yang bertahan dan yang tertinggal.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Indonesia–Aljazair Jajaki Kolaborasi Pariwisata, Perkuat Pasar Afrika Utara

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) membuka peluang kerjasama pariwisata sekaligus mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Aljazair. Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img