Moneter.id – Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman
Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pertumbuhan ekonomi Bali bisa meningkat di
atas 6,5% setelah penyelenggaraan Pertemuan Tahunan Dana Moneter
Internasional-Bank Dunia (IMF-WB) 2018.
Dengan asumsi 19 ribu peserta dan delegasi, Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menghitung ekonomi Bali bisa tumbuh
hingga 6,54% tahun ini. Nyatanya, jumlah peserta pertemuan melebihi ekspektasi
dengan 36.619 orang.
“Kalau betul 36 ribu peserta maka dampaknya akan lebih dari 6,5%. Kita
bisa lihat angkanya di akhir tahun,” kata Luhut dalam media
briefing di kawasan Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10).
Masih berdasarkan penghitungan Bappenas, dampak tidak langsung lainnya dari
penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-WB bagi Bali adalah adanya kenaikan nilai
PDRB riil sebesar Rp894 miliar pada 2018, untuk menambah secara keseluruhan
PDRB riil Bali sebesar Rp1,2 triliun pada periode 2017-2019.
Keuntungan ekonomi ini antara lain berasal dari kegiatan tahapan penyiapan
infrastruktur yang investasinya mencapai Rp3 triliun, pengeluaran belanja dari
wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang diperkirakan mencapai Rp1,1
triliun serta penyelenggaraan acara pertemuan.
Pertemuan ini juga menciptakan 32.700 lapangan kerja dan meningkatkan upah riil
sebesar 1,13% serta kesempatan kerja rata-rata 1,26%.
Sebagai Ketua Panitia Nasional Pertemuan IMF-WB, Luhut kembali menegaskan bahwa
anggaran penyelenggaraan acara tersebut telah dihemat.
Dari pagu anggaran Rp855 miliar, dana yang digunakan hingga sehari
menjelang pertemuan berakhir pada 14 Oktober, sebesar Rp566 miliar. “Tapi angka itu masih mungkin turun di bawah Rp500 miliar setelah diaudit,
karena kami tidak membeli barang baru,” kata Luhut. Sebagian besar anggaran tersebut dimanfaatkan untuk penggunaan teknologi
informasi dan berbagai akomodasi lainnya.
Anggaran juga digunakan untuk mengembangkan infrastruktur seperti perluasan
apron Bandara Internasional Ngurah Rai, pembangunan underpass Simpang
Tugu Ngurah Rai untuk mengurangi kemacetan transportasi menuju tempat
penyelenggaraan pertemuan di Nusa Dua, serta revitalisasi TPA Regional
Sarbagita Suwung di Denpasar.
Sementara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut pemanfaatan anggaran untuk
sejumlah infrastruktur tersebut adalah investasi jangka panjang.
Pemerintah tidak banyak menggunakan anggaran yang bersumber dari APBN 2017 dan
2018 itu untuk membangun tempat penyelenggaraan, karena Nusa Dua telah memiliki
gedung seminar berskala internasional.
Luhut menjelaskan salah satu upaya penghematan yang dilakukan pemerintah adalah
menyewa 400 unit mobil Mercedes-Benz seri E200 tahun 2013 dan 2015 untuk para
pejabat dan ketua delegasi.
Luhut menolak jika mobil tersebut disebut mewah, dan menambahkan bahwa para
peserta dan delegasi membiayai sendiri penginapan dan pengeluaran mereka selama
berada di Bali. “Jadi kalau ada orang yang bilang mewah-mewah itu asbun
(asal bunyi) saja,” katanya.
Secara keseluruhan Luhut mengatakan penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-WB
berjalan lancar dan sukses. Peran Indonesia sebagai tuan rumah juga diapresiasi oleh banyak negara dan
perwakilan organisasi internasional. “Standard penyelenggaraan pertemuan
IMF-WB harus ditingkatkan karena apa yang Indonesia berikan begitu berkelas,”
tutupnya.
(TOP/Ant)




