Moneter.id – PT
Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar
Rp 175,45 miliar sepanjang 2018. Laba ini meningkat 16,35% dibandingkan tahun
sebelumnya yang mencapai Rp 150,80 miliar.
Sementara
pendapatan bersih perseroan tumbuh sebesar 9,12% menjadi Rp 1.599,76 miliar,
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 1.466,02 miliar.
Direktur
Utama Prodia, Dewi Muliaty menjelaskan bahwa kinerja positif yang ditorehkan
perseroan mencerminkan keberhasilan Prodia dalam menjaga pertumbuhan bisnisnya.
“Di
tengah kondisi pasar yang penuh tantangan pada tahun 2018, perseroan tetap
mampu menjaga pertumbuhan pendapatan, EBITDA, dan laba yang cukup baik,” ujarnya
di Jakarta, Minggu (24/03).
“Kami
berhasil mencapai target laba bersih dengan terus berfokus pada keunggulan dan
efisiensi operasional,” paparnya.
Perseroan
membukukan kenaikan EBITDA sebesar 16,08% dari Rp 239,05 miliar pada tahun 2017
menjadi Rp 277,49 miliar pada tahun 2018. Margin EBITDA juga berhasil
ditingkatkan menjadi 17,35%.
Kemudian
untuk pendapatan tes laboratorium tercatat sebesar Rp 1.408,87 miliar atau
berkontribusi sekitar 88,06% kepada pendapatan perseroan. Hal ini menunjukkan
kuatnya kinerja bisnis inti perseroan dan keunggulan operasional Prodia.
Pendapatan
non laboratorium meningkat menjadi Rp 204,47 miliar, atau naik sebesar 8,90%
dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 187,76 miliar.
Di samping
itu, pendapatan dari masing-masing segmen pelanggan juga turut mengalami
peningkatan dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan
perseroan.
Segmen
pelanggan individu dan rujukan dokter menyumbang masing-masing sekitar 32,32%
dan 30,01% kepada pendapatan perseroan.
Sedangkan,
kontribusi segmen referensi pihak ketiga dan klien korporasi sekitar 20,68% dan
16,98% terhadap pendapatan perseroan.
Sepanjang
tahun 2018, jumlah pemeriksaan mencapai 15.9 juta dan jumlah kunjungan mencapai
2.5 juta. Jumlah permintaan tes esoterik mengalami peningkatan sebesar 9,0%
pada tahun 2018 menjadi 517 ribu tes, dari 474 ribu tes di 2017. Pendapatan tes
esoterik mengalami peningkatan sebesar 17.3% pada tahun 2018 menjadi Rp 254,86
miliar dari Rp 217,33 miliar di 2017 atau berkontribusi sekitar 15,9% kepada
pendapatan perseroan 2018.
Tercatat
total aset perseroan di 2018 mencapai Rp 1.930,38 miliar, atau lebih tinggi Rp
82,18 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Aset lancar menjadi Rp 1.202,10
miliar dan aset non lancar menjadi Rp 728,29 miliar.
Sedangkan,
total liabilitas turun sekitar 24,10% menjadi Rp 368,22 miliar dibandingkan
tahun 2017 yang mencapai Rp 485,11 miliar.
Adapun
total liabilitas jangka pendek turun menjadi Rp 164,28 miliar dan total
liabilitas jangka panjang Rp 203,93 miliar.
Per 31
Desember 2018, perseroan menggunakan sekitar Rp 456,87 miliar dari total dana
hasil bersih penawaran umum senilai kurang lebih Rp 1.148 miliar. Dana
penawaran umum tersebut digunakan untuk pengembangan jejaring outlet, modal
kerja, serta investasi jangka pendek dan jangka panjang.
Pada
tahun 2018, perseroan telah membuka sejumlah cabang baru diantaranya di kota
Sorong, Jember, Sukabumi, Sampit, Bengkulu, dan Jepara.
Hingga
akhir tahun 2018, Perseroan telah mengoperasikan jejaring layanan sebanyak 292
outlet, termasuk diantaranya 143 laboratorium klinik, di 34 provinsi dan 123
kota di seluruh Indonesia.




