Sabtu, Oktober 24, 2026

Produksi Gas Jangkrik dan Maha Digenjot, Pasokan Bertambah 290 MMSCFD

Must Read

Pemerintah menargetkan peningkatan produksi gas dari lepas pantai Kalimantan Timur menjadi salah satu penopang pasokan energi nasional. Pengembangan sumur Jangkrik North East #6 (JNE#6) dan fasilitas produksi Lapangan Maha-South Hub diproyeksikan menghasilkan tambahan gas sekitar 290 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), dengan target produksi mulai berkontribusi pada awal November 2026.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pengembangan kedua proyek tersebut mencerminkan upaya pemerintah meningkatkan ketersediaan energi melalui optimalisasi lapangan migas yang telah dikembangkan serta investasi pada fasilitas produksi baru.

“Ini adalah bentuk keseriusan pemerintah dan seluruh perusahaan, terutama Searah dan Eni, dalam mewujudkan Asta Cita Bapak Presiden, di mana salah satu di antaranya adalah mewujudkan kedaulatan energi,” ujar Bahlil saat meresmikan penerimaan gas JNE#6 dan fasilitas produksi Lapangan Maha-South Hub, Kamis (22/10).

Tambahan pasokan tersebut berasal dari dua sumber. Sumur JNE#6 diperkirakan memberikan tambahan produksi sekitar 60 MMSCFD, sedangkan Lapangan Maha ditargetkan menghasilkan sekitar 230 MMSCFD. Dengan demikian, total tambahan produksi mencapai sekitar 290 MMSCFD.

Bahlil menyebut, produksi eksisting perusahaan yang saat ini berada di kisaran 450 MMSCFD berpotensi meningkat menjadi sekitar 750 MMSCFD pada 1 November 2026. Peningkatan ini menjadi langkah penting untuk memperbesar ketersediaan gas, meski realisasi target tetap bergantung pada kesiapan operasional dan keberhasilan produksi sesuai jadwal.

Dari sisi pengembangan lapangan eksisting, JNE#6 mencatatkan hasil positif setelah pengeboran cabang baru atau side-tracking mulai menunjukkan peningkatan produksi sejak 9 Oktober 2026. Produksi gas sumur tersebut naik dari sekitar 10 MMSCFD menjadi 56 MMSCFD, atau lebih dari lima kali lipat. Kegiatan ini juga menambah perkiraan sumber daya gas awal di tempat (Gas Initially in Place/GIIP) sekitar 100 miliar kaki kubik (BCF).

Sementara itu, Lapangan Maha menjadi bagian utama dari penambahan kapasitas produksi baru. Fasilitas produksinya menelan investasi sekitar US$ 891 juta dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir Oktober 2026. Selain meningkatkan pasokan gas, proyek ini diperkirakan menciptakan lebih dari 700 lapangan kerja bagi tenaga kerja Indonesia.

Investasi tersebut juga diharapkan memberikan efek berganda bagi industri penunjang migas nasional, terutama sektor fabrikasi dalam negeri yang terlibat dalam pengembangan fasilitas lepas pantai. Keterlibatan industri lokal menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan investasi migas tidak hanya menghasilkan komoditas energi, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi di dalam negeri.

Presiden Direktur Searah Muara Bakau B.V. Mirko Araldi mengatakan, pengoperasian fasilitas Jangkrik kini sepenuhnya ditangani tenaga kerja Indonesia. Perusahaan juga terus melanjutkan kegiatan eksplorasi untuk mengidentifikasi potensi cadangan baru di wilayah operasinya.

“Fasilitas Jangkrik telah menjadi bagian penting dari operasi kami dan saat ini sepenuhnya dioperasikan oleh tenaga kerja Indonesia. Kami terus melanjutkan program eksplorasi, termasuk kegiatan survei seismik 3D/4D bersama mitra,” kata Mirko.

Survei seismik yang mencakup area sekitar 12.000 kilometer persegi tersebut dilakukan untuk mengevaluasi potensi eksplorasi di Cekungan Kutai. Wilayah ini dipandang memiliki prospek sumber daya migas yang besar dan berpotensi mendukung kesinambungan produksi dalam jangka panjang.

Potensi sumber daya di Cekungan Kutai diperkirakan mencapai 5 triliun kaki kubik gas atau 5 Tcf, serta 300 juta barel kondensat. Angka tersebut memperlihatkan besarnya potensi geologi yang masih dapat dievaluasi lebih lanjut. Namun, potensi sumber daya tidak secara otomatis menjadi cadangan terbukti atau produksi komersial karena masih memerlukan kegiatan eksplorasi, evaluasi teknis, dan pengembangan lapangan.

Pemerintah berharap peningkatan produksi dari Jangkrik dan Maha dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong investasi lanjutan di sektor hulu migas. Untuk itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, regulator, dan perusahaan dinilai diperlukan agar pengembangan lapangan dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Bahlil menegaskan, pemerintah akan memfasilitasi investasi perusahaan domestik maupun asing selama tetap mengikuti aturan dan mengedepankan prinsip saling menguntungkan. Menurut dia, manfaat pengembangan migas harus dirasakan oleh investor, industri dalam negeri, dan negara.

“Perusahaan harus memperoleh manfaat, perusahaan lokal harus memperoleh manfaat, dan negara juga harus mendapatkan manfaat. Tidak boleh ada pihak yang diuntungkan dengan merugikan pihak lain,” tegas Bahlil.

Dengan tambahan produksi yang ditargetkan mencapai 290 MMSCFD, pengembangan JNE#6 dan Lapangan Maha menjadi salah satu upaya meningkatkan pasokan gas dari wilayah Kalimantan Timur. Tantangan berikutnya adalah memastikan target produksi tercapai, kegiatan eksplorasi berlanjut, dan tambahan pasokan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kebutuhan energi serta aktivitas industri nasional.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Menkeu Lantik Lima Pejabat Eselon I, Perkuat Sinergi Pengelolaan Keuangan Negara

Keuangan Suahasil Nazara melantik lima Pejabat Pimpinan Tinggi Madya di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada Jumat (23/10/2026). Pelantikan ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img