Moneter.id – PT Smartfren Telecom Tbk
(FREN) mencatat pendapatan sebesar Rp 1,99 triliun hingga kuartal I-2020.
Capaian ini meningkat sebesar 41,13% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp
1,41 triliun.
Dalam laporan keuangan FREN yang dirilis di Jakarta, Kamis
(4/6/2020) disebutkan, peningkatan pendapatan usaha ini berasal dari
pertumbuhan jasa telekomunikasi data perseroan menjadi Rp 1,81 triliun dari
sebelumnya Rp 1,33 triliun dan jasa telekomunikasi non data sejumlah Rp 105,98
miliar dari semula Rp 60,09 miliar.
“Lalu, jasa interkoneksi juga mengalami peningkatan
menjadi Rp 24,01 miliar dari periode sama tahun lalu yakni Rp 9,16 miliar,
diikuti dengan peningkatan pendapatan lain-lain menjadi Rp 56,19 miliar dari
semula Rp 4,33 miliar,” tulisnya.
Dijelaskan lagi, beban usaha perseroan juga meningkat
14,15% menjadi Rp 2,42 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 2,12
triliun. Alhasil, rugi usaha perseroan sepanjang kuartal I-2020 mengalami
penurunan sebesar 39,48% menjadi Rp 432,16 miliar dari periode sama tahun lalu
yang tercatat Rp 714,09 miliar.
Sementara
itu, beban lain-lain bersih perseroan mengalami kenaikan menjadi Rp 1,54
triliun jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang membukukan
pendapatan lain-lain bersih sejumlah Rp 64,67 miliar.
Perolehan ini disebabkan oleh rugi kurs mata uang
asing yang tercatat sejumlah Rp 1,26 triliun dari laba kurs tahun lalu, yakni
Rp 201,97 miliar.
Perseroan
juga mencatatkan peningkatan rugi sebelum pajak yang sebesar 204,37% menjadi 1,97
triliun dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang memperoleh Rp 649,42
miliar.
Sedangkan rugi bersih periode berjalan yang dapat
diatribusikan kepada pemilik perusahan tercatat naik 318,47% menjadi Rp 1,77
triliun dari periode kuartal I-2019 yakni Rp 424,66 miliar.
Secara
total aset, hingga periode 31 Maret 2020 perseroan mencatatkan kenaikan menjadi
Rp 33,08 triliun apabila dibandingkan dengan periode 31 Desember 2019 yang
memperoleh Rp 27,65 triliun.
Total liabiliat juga meningkat menjadi Rp 22,13
triliun dari semula Rp 14,91 triliun dan total ekuitas menurun menjadi Rp 10,95
triliun dari sebelumnya Rp 12,73 triliun.




