Moneter.co.id – Hari ini, Jumat
(06/10) delegasi Indonesia dan Australia menyelesaikan perundingan ke-9
Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang
berlangsung sejak 2-6 Oktober 2017, di Jakarta.
Pada
perundingan putaran kali ini Delegasi Indonesia dipimpin oleh Deddy Saleh,
sementara Delegasi Australia dipimpin oleh Trudy Witbreuk.
“Minggu ini
kedua delegasi telah berupaya keras mengoptimalkan waktu yang ada untuk
mencapai kesepakatan yang konkret dan dapat diimplementasikan, sehingga hasil
perundingan ini bermanfaat bagi kedua negara, sesuai arahan kedua Mendag,” kata
Deddy Saleh diketerangan resminya, Jumat (06/10)
Sejumlah isu
utama yang menjadi perhatian dalam putaran ke-9 adalah perdagangan barang
(termasuk ketentuan asal barang, prosedur kepabeanan, fasilitasi perdagangan,
hambatan teknis perdagangan, serta sanitasi dan fitosanitasi), perdagangan jasa
(termasuk jasa keuangan, pergerakan perseorangan, jasa keuangan, dan
telekomunikasi), investasi, perdagangan elektronik, dan ketentuan kerangka
kelembagaan.
“Sejak
perundingan IA-CEPA diaktifkan kembali 18 bulan lalu, Delegasi RI memegang
amanah Presiden untuk menyelesaikan perundingan ini pada tahun 2017 dengan dua
kata kunci yang kerap disampaikan Presiden yaitu keterbukaan dan daya saing,”
lanjut Deddy Saleh.
Menurutnya,
pembahasan naskah perjanjian pada dasarnya telah dibahas dan beberapa bahkan
telah disepakati secara prinsip, sedangkan pembahasan akses pasar di bidang
barang, jasajasa dan investasi masih terus dilakukan.
“Kerja sama
ekonomi yang berkelanjutan di bawah kerangka IA-CEPA terus dinegosiasikan agar
dapat merefleksikan kepentingan riil Indonesia dalam mendapat menfaat secara
keseluruhan dari perjanjian nantinya,” tegas Deddy Saleh.
Bersamaan
dengan berlangsungnya perundingan ini, kemarin, Kamis (5/10), telah
dilaksanakan pertemuan konsultasi dengan para anggota ‘Indonesia-Australia Business Partnership Group’ (IA BPG) yang
merupakan pertemuan rutin pada setiap putaran sebagai upaya kedua negara untuk
menciptakan IA-CEPA sebagai perjanjian perdagangan yang tepat sasaran, modern,
dan mengedepankan manfaat bersama.
“Pertemuan
kedua Delegasi dengan IA BPG merupakan bentuk sinergi pemerintah dengan
kalangan bisnis/swasta, karena pada akhirnya ketika perjanjian ini berlaku,
mereka lah yang akan melaksanakan dan mengambil manfaat secara langsung. Oleh
sebab itu, input para pelaku sangat kami butuhkan, misalnya bagaimana kedua
negara dapat menjadi power house dengan keberadaan IA-CEPA,” kata Direktur
Perundingan Bilateral Made Marthini, selaku Wakil Ketua Perunding Indonesia.
Putaran
IA-CEPA ke-10, yang akan menjadi putaran terakhir, direncanakan berlangsung di
Indonesia pada November 2017. Pada saat itu kedua negara diharapkan dapat
mencapai kesepakatan bersama.
“Menuju putaran
akhir IA-CEPA, Indonesia akan terus melakukan koordinasi secara intensif dengan
berbagai pemangku kepentingan di dalam negeri. Dengan berpegang teguh pada
Mandat Presiden, target penyelesaian perundingan dapat tercapai pada akhir
tahun,” pungkas Made.




