Rabu, April 15, 2026

Sering Dikategorikan Kayu Murahan, Ekspor Kayu Ringan Ditingkatkan

Must Read

Moneter.id – Masyarakat
Eropa sejak beberapa tahun lalu mengalihkan perhatian dari kayu tropis (umumnya
kayu keras) sebagai akibat keperdulian terhadap kelestarian lingkungan. Alasan
utama adalah waktu panen kayu ringan untuk diameter yang sama jauh lebih cepat
dibandingkan dengan produksi kayu keras sehingga pasokannya dapat bersumber
dari kayu budidaya. Sifatnya yang fleksibel, ringan, relatif tahan api dan anti
rayap merupakan bahan yang ekonomis untuk berbagai aplikasi.

Marolop
Nainggolan, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan berharap kegiatan ini dapat
menstimulasi gairah industri kayu ringan dalam negeri untuk lebih berkarya dan
mendapatkan inspirasi akan contoh pengaplikasian kayu ringan yang lebih modern
dan futuristik di pasar global.  

“Selama
ini kayu ringan, sering dikategorikan kayu sembarang atau kayu murah, hanya
digunakan sebagai bahan baku pembuatan panel
bare core
atau pengisi block board
bernilai tambah rendah. Dengan memanfaatkan teknologi dan menyasar pasar yang
tepat, kayu jenis ini akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda,” jelas
Marolop Nainggolan disiaran pers yang diterima Moneter.id, Jumat (23/8)..

“Sektor
kayu telah menjadi fokus utama kami selama beberapa tahun terakhir ini karena Indonesia
merupakan salah satu eksportir utama dunia dan sektor ini sejalan dengan hasil
rakor Menko Perekonomian,” tambah Marolop.

“Kami
fokus mengembangkan jenis kayu ringan khususnya sengon karena jenis kayu ini
sebagian besar tumbuh di lahan masyarakat bukan di hutan alam, sehingga selain
dapat menambah nilai ekonomis jenis kayu ini juga terhindar dari illegal logging,” tambah Marolop.

Marolop
menjelaskan, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk tetap menjadi
pemain ekspor utama di produk kayu, namun perlu mengembangkan produk inovatif
melalui jenis kayu yang lebih ramah lingkungan antara lain jenis sengon yang
hanya dapat tumbuh dengan baik di Indonesia.

“Saat
ini produk yang dihasilkan sebagian besar adalah plywood dan barecore,
namun ke depan kami akan mendorong inovasi produk lain dapat dihasilkan
termasuk produk di sektor konstruksi dan furniture”, tegas Marolop.

Kebutuhan
akan penggunaan kayu di dunia semakin meningkat khususnya jenis kayu yang ramah
lingkungan. Sektor konstruksi mulai melirik jenis kayu ini karena lebih
inovatif dan ekonomis.

“Diharapkan
jenis kayu ini dapat lebih dipromosikan melalui aplikasi konstruksi seperti
untuk pembangunan gedung dan jembatan,” tambah Marolop.

Seperti
diketahui, Kementerian Perdagangan melalui Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional
akan terus mengembangkan potensi kayu ringan ini antara lain melalui kegiatan buyers mission, konferensi internasional
melalui ILCF (Indonesia Lightwood Cooperation Forum) yang akan mendatangkan
buyer potensial dari Jepang, Korea, Australia dan Jerman pada tanggal  10-15 Oktober 2019 di Yogyakarta, Magelang
dan Solo.

Kegiatan
ini merupakan rangkaian kegiatan Trade Expo Indonesia (TEI) yang akan
menampilkan pula keunggulan kayu ringan di Indonesian Lightwood Pavillion pada
tanggal 16-20 Oktober 2019.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

PRISM Bidik Peluang Pariwisata, Perluas Konsep Hotel Full-Service di Destinasi Strategis

PRISM, perusahaan induk OYO, memperluas strategi bisnisnya di sektor hospitality Indonesia dengan mendorong pengembangan hotel full-service di sejumlah destinasi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img