Kamis, Maret 5, 2026

Tahun Lalu, PTPN III Alami Kerugian Konsolidasi di Atas Rp 1,3 Triliun

Must Read

Moneter.co.id – Induk usaha (holding company) perkebunan, yakni PT Perkebunan Nusantara III (Persero), pada tahun lalu mengalami kerugian konsolidasi mencapai Rp 1,387 triliun. Kerugian konsolidasi tahun lalu tersebut meningkat dibanding 2015 yang sebesar Rp 1,083 triliun.

Hal itu terungkap dari laporan tahunan 2016 (audited) yang diperoleh Moneter.id, Senin (22/5). Laporan keuangan tersebut diteken pada Maret 2016 oleh Plt Direktur Utama PTPN III Erwan Pelawi. 

Namun, sebelum Erwan Pelawi selaku Plt dirut meneken laporan keuangan tersebut, jabatan dirut PTPN III untuk periode tersebut dijabat oleh Elia Massa Manik. Elia duduk sebagai dirut PTPN III sejak April 2016 hingga akhirya dia diangkat menjadi dirut di PT Pertamina (Persero) pada 16 Maret 2017. 

Adapun rincian rugi konsolidasi antara lain disumbangkan dari kerugian PTPN I sebesar Rp 87 miliar, PTPN II Rp 307 miliar, dan PTPN VII Rp 547 miliar.

Kerugian juga dialami oleh PTPN VIII sebesar Rp 377 miliar, PTPN IX Rp. 304 miliar, PTPN X Rp 156 miliar, PTPN XIII Rp 658 miliar, PTPN XIV Rp 138 miliar dan PT Riset Perkebunan Nusantara Rp 162 miliar. 

Data laporan keuangan tersebut juga mengungkapkan, kerugian tersebut sebagian besar merupakan akibat adanya penurunan nilai (impairment) sebesar Rp1,227 triliun yang disebabkan oleh nilai aset produktif yang tidak sesuai dengan potensi manfaat yang akan diperoleh dari aset tersebut.

Sementara, holding perkebunan hanya memeroleh laba bersih dari kontribusi PTPN III sebesar Rp 567 miliar, PTPN IV Rp 529 miliar, PTPN V Rp 42 miliar, PTPN VI Rp 5 miliar, PTPN XI Rp 195 miliar, PTPN XII Rp 41 miliar, PT KPBN Rp 4 miliar, dan PT Bio Industri Nusantara Rp 0,28 miliar.

Tahun lalu, komoditi kelapa sawit memberikan kontribusi laba sebelum pajak sebesar Rp 1,458 triliun atau meningkat 236,05 persen dibandingkan 2015 dan 220,83 persen dibandingkan RKAP 2016. 

Komoditi teh juga memberikan kontribusi negatif dan mengalami penurunan kerugian semula Rp 412 miliar pada 2015 menjadi rugi Rp 186 miliar pada 2016. 

Komoditi tebu yang sebelumnya pada 2015 memberikan kontribusi keuntungan senilai Rp 281 miliar, pada 2016 mengalami kerugian senilai Rp 783 miliar (mengalami penurunan laba senilai Rp 1,064 triliun atau 378,72 persen). 

Komoditi karet juga mengalami peningkatan kerugian dibandingkan 2015, yaitu dari rugi Rp 612 miliar meningkat menjadi rugi Rp 649 miliar atau meningkat 6,18 persen. 

Di satu sisi, total aset holding perkebunan pada 2016 mencapai Rp 111,962 triliun, meningkat 2,70 persen dari 2015 yang dibukukan sebesar Rp 109,024 triliun. 

Sementara, total liabilitas (utang yang mesti dibayar) holding perkebunan mencapai Rp 60,841 triliun atau 54,34 persen dari total liabilitas dan ekuitas. Jumlah liabilitas tersebut mengakibatkan beberapa PTPN mengalami kesulitan dalam menjalankan aktivitas operasionalnya.

Reporter : HYN

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Stockbit dan Bibit Catatkan Pertumbuhan yang Solid di Pasar Modal Indonesia

Di tengah lanskap startup Indonesia yang semakin kompetitif dan penuh dinamika dewasa ini, tidak banyak perusahaan teknologi finansial Tanah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img