Selasa, Maret 3, 2026

Untuk bayar utang, Smartfren Telecom akan gelar ‘rights issue’

Must Read

Moneter.id

Untuk melunasi utang, emiten Grup Sinarmas, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) akan
melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMTED) (rights issue) dengan
target dana maksimal Rp 700 miliar.

Atas rencana aksi korporasi ini, perseroan telah memeroleh
persetujuan pemegang saham atas rencana rights issue pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar
Biasa (RUPSLB) yang digelar, 2 Maret 2021 lalu.

“Dana rights issue rencananya akan kami pakai untuk
pembayaran pinjaman bank serta modal kerja. Pinjaman bank yang akan jatuh tempo
di semester I ini adalah pinjaman dari CDB,” kata Direktur Keuangan Smartfren
Telecom Antony Susilo, Minggu (7/3).

Berdasarkan prospektus, Smartfren akan menerbitkan
saham baru maksimal 7 miliar saham. Pada aksi ini, perseroan juga akan
menerbitkan waran hingga 91,99 miliar waran atau sekitar 34,9% dari seluruh
modal ditempatkan dan disetor penuh.

Waran tersebut memberikan hak kepada pemegangnya untuk
memesan saham dari perseroan pada harga tertentu setelah enam bulan sejak waran
diterbitkan.

Jika terdapat pemegang saham yang tidak mengesekusi
haknya pada rights issue Smartfren
kali ini, maka persentase kepemilikan sahamnya akan terdilusi maksimal 37,6%.

Per 9 Februari, struktur pemegang saham Smartfren
antara lain PT Global Nusa Data sebanyak 30,30%, PT Wahana Inti Nusantara
sebanyak 18,49%, PT Bali Media Telekomunikasi sebanyak 12,26%, PT Dian
Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebanyak 12,15%, dan masyarakat menguasai 26,7%
saham.

Pada tahun 2021, Smartfren mengalokasikan belanja
modal (capital expenditure/capex)
sekitar US$ 200-300 juta pada tahun ini. perseroan diperkirakan akan
bergantung pada pendanaan eksternal untuk kebutuhan ekspansi maupun membayar
utang jatuh tempo sepanjang 2021.

Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings mencatat,
perseroan memiliki utang jatuh tempo sebesar US$ 37,5 juta pada semester
I-2021, dan US$ 37,5 juta pada semester II-2021.

Kemudian, arus kas bebas negatif Smartfren diprediksi
akan bertahan dalam jangka menengah. Hal ini karena perusahaan berencana untuk
mempertahankan belanja modal yang signifikan untuk memperkuat cakupan 4G long-term evolution (LTE).

“Kami memperkirakan arus kas dari operasi (cash flow from operation/CFO)
Smartfren akan tetap tidak mencukupi untuk menutupi belanja modal tahunan yang
diproyeksikan sekitar Rp2-4,5 triliun untuk 2021-2023, meskipun Smartfren telah
menunjukan perbaikan CFO,” kata Fitch.

Secara historis, Fitch mencatat, defisit free cash flow (FCF)
Smartfren tetap tinggi di atas Rp 3,8 triliun pada tahun 2018 dan 2019 karena
belanja modal yang signifikan di atas Rp 2,7 triliun.

Diketahui, Smartfren Telecom membukukan pendapatan Rp
9,40 triliun pada 2020, atau melonjak 34,63% dibanding 2019 sebesar Rp 6,98
triliun. Pendapatan jasa telekomunikasi data berkontribusi Rp 8,62 triliun,
non-data Rp 345,78 miliar, jasa interkoneksi Rp 170,09 miliar, dan lain-lain Rp
265,53 miliar.

Alhasil, perseroan mampu menekan rugi usaha 65,9%
menjadi Rp 784,67 miliar pada 2020, dibanding Rp 2,30 triliun pada 2019.
Perseroan pun meraih keuntungan dari perubahan nilai wajar opsi konversi
sebesar Rp 36,82 miliar, dari sebelumnya membukukan kerugian Rp 28,72 miliar.

Sehingga, rugi bersih perseroan menurun 30,3% menjadi
Rp 1,52 triliun, dari sebelumnya Rp 2,18 triliun.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BCA Alokasikan Dana Tunai Rp65,7 Triliun Guna Penuhi Kebutuhan Transaksi Ramadan dan Idulfitri 2026

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan kesiapannya dalam mendukung kelancaran transaksi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img