Moneter.id – Institut
Pertanian Bogor (IPB) menyiapkan lulusan dengan kemampuan sociopreneur yang akan mengisi kebutuhan sarjana pertanian di
desa-desa khususnya untuk wilayah Jawa Barat (Jabar).
“Gubernur
Jawa Barat sudah minta IPB untuk menghasilkan lulusan 500 orang per tahun yang
siap ditempatkan di desa untuk bisa memfasiltasi sebagai sociopreneur,” kata Rektor IPB, Dr Arif Satria dalam Seminar
Nasional Inovasi Agromaritim 4.0 di IPB Internasional Convention Center, Kota
Bogor, Jawa Barat, Kamis (6/12).
Menurut
Arif, rencana untuk menyiapkan lulusan ini telah dibahas dalam beberapa kali
pertemuan antara dirinya dengan Gubernur Ridwan Kamil beberapa waktu lalu.
Ia
menyebutkan, pertemuan pertama saat Gubernur Ridwan Kamil berkunjung ke Bogor
bulan Februari dan Oktober lalu. Dilanjut dengan pertemuan balasan yang
dilakukan Arif saat berkunjung ke Badung bulan November lalu. “Kami
sudah berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Barat dan menyatukan visi,”
katanya.
Kebutuhan
sarjana pertanian di desa sangat diperlukan agar sejalan dengan program
pembangunan pedesaan yang dilakukan oleh pemerintah melalui dana desa.
Selain
itu, pengembangan teknologi dan inovasi bidang pertanian seiring tuntutan era
revolusi industri 4.0, memerlukan sarjana-sarjana yang dapat mendampingi petani
mengakses hal tersebut. “Gubernur
sangat berharap IPB punya peran besar dalam mentransformasi pertanian di
Jabar,” katanya.
Hal
pertama yang akan dilakukan oleh IPB dalam menjawab permintaan tersebut,
lanjutnya, berangkat dari pemetaan komoditas di setiap kabupaten di wilayah
Jawa Barat. “Kita sudah mempunyi peralatannya yang berbasis kepada
4.0,” katanya.
Langkah
berikutnya, implementatif dari apa yang sudah dimiliki oleh IPB dalam
pengembangan sektor pertanian. Sepetri IPB sudah memiliki beberapa model-model
pertanian cerdas smart farming yang
akan diterapkan di Jabar.
Dengan
semua langkah tersebut, lanjut Arif, yang jadi persoalan adalah siapa yang akan
mengisinya. Karena Gubernur Jawa Barat memiliki program satu desa satu
perusahaan. “Siapa
manajernya, siapa dirutnya, maka itu berharap IPB yang akan berperan di sana,
ini yang disebut sociopreneur,” katanya.
Sociopreneur jelasnya,
adalah orang yang mempunyai kewirausahaan sosial yang mampu untuk
mengkonsolidasikan petani di beberapa alokasi serta mampu menerapkan
teknologi. “Jika teknologi 4.0 yang dimiliki IPB bisa
diterapkan di Jawa Barat, maka ada para lulusan barunya sudah siap
menjalankannya,” ucapnya.
Dan
untuk meningkatkan praktek pertanian presisi lanjut Arif, maka pemerintah
melalui dana desa atau BUMDes bisa memfasilitasi petani memiliki drone atau
fasilitas teknologi 4.0 lainnya.
Dengan
teknologi ini, petani dapat mengetahui waktu panen yang tepat, menghasilkan
buah yang okey. “Semua
ini tidak bisa dilakukan oleh petani sendiri, itulah perlunya petani sociopreneur yang berasal dari sarjana
IPB baik itu vokasi maupun strata satu,” kata Arif.
Arif
menambahkan, dalam waktu dekat dirinya bersama Gubernur Jawa Barat akan segera
menseminarkan untuk memfokuskan diri agar program transformasi pertanian di
Jawa Barat dapat berjalan dengan baik. (Ant)




