Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menekankan peran manusia sebagai sumber kreativitas di era serba AI (Artificial Intelligence).
“Bahwa AI sebagai tools, sedangkan manusia perlu memaksimalkannya. AI hanyalah sebatas alat bantu, tetapi sumber kreativitas tetap berasal dari manusia. Pengalaman, rasa, empati, dan kemampuan membaca konteks tentu tidak bisa digantikan. Selama manusia masih memiliki keberanian untuk berpikir dan mencipta, kita tetap punya keunggulan,” ungkap Wamen Ekraf beberapa waktu lalu.
Sesi diskusi ini fokus membahas peran manusia dan kecerdasan buatan dalam ekosistem kreatif, perencanaan kota, serta kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP). “Teknologi termasuk AI perlu dimanfaatkan dan jangan terlalu dipandang sebagai ancaman bagi tiap subsektor ekonomi kreatif,” ucap Wamen Ekraf.
“Tantangan terbesar kita bukan menghindari AI atau perangkat teknologi lainnya, kita harus bisa menjadi manusia dan memanusiakan manusia. Sebab, kita semua bisa menjadi kreator dari suatu IP. Begitu banyak IP Indonesia yang sudah diterima pasar dunia dengan memanfaatkan teknologi. Internet sudah ada, gadget pun di tangan. Pakai internet sebagai ruang uji kepercayaan pasar dan bangun portofolio sehingga semakin berani amplifikasi ke pasar global,” tambah Wamen Ekraf.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania, menjelaskan bahwa teknologi seharusnya bisa memperkuat kapasitas manusia dalam melayani publik, bukan menggantikan peran manusia.
“AI bisa membantu membaca pola dan mempercepat proses awal perencanaan kota, tetapi keputusan tetap membutuhkan empati dan kemampuan memahami perilaku manusia. Seperti sistem informasi dan platform integrasi Jakarta Satu yang tidak hanya berbasis data, tetapi butuh esensi kepekaan terhadap kebutuhan masyarakatnya,” jelas Atika.
Sementara itu, inisiator IdeaFriends by IdeaFest, Maghfiro Ridho Maulana, menyampaikan bahwa karya kreatif atau IP yang muncul dari pengalaman manusia tetap memiliki daya tarik yang tidak bisa direplikasi sepenuhnya oleh mesin kecerdasan artifisial.
“Manusia itu tetap menjadi pusat dari segala kreativitas. Kita bisa merasakan mana karya yang dibuat hanya berdasarkan pola tertentu dan karya yang justru lahir dari pengalaman serta emosi manusia. Kreativitas tentu akan kembali terhadap autentisitas manusia,” imbuh Ridho.
Salah satu pembicara lain, Founder of Urun Daya Kota Foundation, Wiliam Reynold, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi sebagai tantangan yang harus mampu mempertahankan identitas manusia.
“Perspektif kota terdiri dari tiga unsur yaitu manusia, ruang, dan identitas yang menggabungkan semuanya dalam interaksi. Dengan tetap menjaga etika, nalar, dan kemampuan untuk tetap menjadi manusia, siapapun bisa membentuk suatu IP yang didasari kekuatan narasi dan value,” tutur William.




