Minggu, Maret 1, 2026

World Bank Sebut Ekonomi Indonesia Tetap Positif

Must Read

Moneter.id – Bank Dunia atau World Bank dalam laporan
terbaru “Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Oktober 2018” menyatakan pertumbuhan
ekonomi Indonesia diperkirakan tetap positif didukung permintaan domestik yang
kuat, meskipun lingkungan global belum stabil dan tidak menentu.

Bank
Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,2% pada
tahun ini dan 2019, dan secara bertahap menguat menjadi 5,3% pada 2020.

Namun, lembaga keuangan internasional itu memperingatkan
bahwa risiko-risiko negatif juga meningkat.

Konsumsi swasta diperkirakan meningkat sehubungan
dengan pemilihan presiden tahun depan, berlanjutnya inflasi rendah, kondisi
pasar tenaga kerja yang kuat, dan pemulihan pertumbuhan kredit.

“Demikian pula karena ekspansi ruang
fiskal terkait dengan reformasi pendapatan yang sedang berlangsung, konsumsi
pemerintah juga diproyeksikan menguat,” kata laporan itu.

World Bank memperkirakan pertumbuhan investasi akan tetap kuat, khususnya setelah
pemilihan presiden karena berkurangnya ketidakpastian politik.

“Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang
diproyeksikan lebih kuat dan inflasi yang rendah, tingkat kemiskinan ekstrem di
Indonesia pada 2018 berdasarkan garis kemiskinan internasional diperkirakan
turun menjadi 4,9%, atau 0,8% lebih rendah dari 2017,” tulisnya lagi.

Mengingat
peningkatan ekspektasi dalam pertumbuhan, tingkat kemiskinan ekstrem
diproyeksikan menurun sebesar 0,7% pada 2019 dan 0,6% pada 2020.

Sementara itu, tulis laporan World Bank, tingkat
kemiskinan berdasarkan garis kemiskinan kelas pendapatan menengah ke bawah
diperkirakan menurun dari 27,3% pada 2017 menjadi 25,4% pada 2018 dan 21,9%
pada 2020.

Pengurangan
tersebut diproyeksikan lebih lambat daripada penurunan tahunan dalam kemiskinan
selama 2006-2010, ketika tingkat kemiskinan ekstrim turun rata-rata 2,9% per
tahun. Sebagian karena tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi sebesar 6,1% per
tahun selama periode sebelumnya.

Bank
Dunia memperingatkan risiko-risiko terhadap prospek pertumbuhan Indonesia,
terutama dampak negatif dari meningkatnya ketidakpastian global.

Normalisasi berkelanjutan kebijakan moneter
AS, bersama dengan gejolak yang terkait dengan Argentina dan Turki, mendorong
para investor keluar dari pasar negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sebagai
akibatnya, laporan Bank Dunia menyebutkan mata uang rupiah telah terdepresiasi
dan imbal hasil obligasi meningkat. Menurut laporan Bank Dunia, imbal hasil
obligasi yang lebih tinggi akan menyebabkan kenaikan biaya bagi korporasi, yang
bisa mengurangi pemulihan kredit baru dan investasi swasta. Meningkatnya
proteksionisme juga menimbulkan risiko yang kuat bagi Indonesia melalui
pertumbuhan yang lebih lambat dari sektor ekspor.

 

(TOP/Ant)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Motorola Resmi Luncurkan razr 60 di Indonesia: Era Baru Ponsel Lipat Pintar Berbasis AI

Motorola kembali menggebrak pasar ponsel premium tanah air dengan mengumumkan kehadiran motorola razr 60 di Jakarta pada Rabu, 25...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img