Moneter.co.id – PT Bank Muamalat
Indonesia Tbk mencatatkan
modal inti sebesar Rp4,99 triliun pada akhir tahun 2017. Raihan ini mengalami
kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar Rp3,33 triliun. Kenaikan modal inti
tersebut berasal dari dana setoran modal sebesar Rp1,66 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan publikasi perseroan yang dikutip Selasa (3/4),
rasio kecukupan modal (Capital to Adequaty Ratio/CAR) Bank
Muamalat tercatat meningkat dari 12,74% pada 2016 menjadi 13,62%.
Padahal, pada kuartal ketiga tahun lalu, rasio CAR Bank Muamalat hanya
tercatat sebesar 11,58%, sedangkan total modal intinya sebesar Rp3,86
triliun.
Bank Muamalat sebelumnya berencana menambah permodalan dengan menerbitkan saham
baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dengan
target dana Rp4,5 triliun di akhir tahun lalu. Rencana awalnya, PT Mina Padi
Sekuritas Tbk akan menjadi pembeli siaga (standby buyer).
Untuk
menunjukkan komitmennya, Mina Padi telah menyetorkan dana Rp1,7 triliun ke
rekening escrow sebagai ‘tanda jadi’. Escrow merupakan perjanjian legal ketika
sebuah barang (umumnya berupa uang) disimpan oleh pihak ketiga, sementara
menunggu isi kontrak terpenuhi. Namun, rencana tersebut gagal
terealisasi.
Kendati gagal mengeksekusi rights issue Bank Muamalat, setoran
dana tersebut hingga akhir Februari lalu belum ditarik oleh Mina Padi.
“Ketika tanda tangan CSSA (perjanjian jual beli bersyarat) di Oktober,
kami memang langsung setorkan Rp1,7 triliun ke escrow seminggu
kemudian, semacam DP (uang muka). Itu uang investor. Saat ini, uangnya masih
ada di deposito, yang jelas uangnya masih ada,” ujar Direktur Utama Mina
Padi Djoko Joelijanto, akhir Februari lalu.
Selain
mencatatkan kenaikan CAR, Bank Muamalat hingga akhir tahun lalu juga
mencatatkan peningkatan rasio pembiayaan bermasalah (Non
Performing Financing/NPF). NPF gross perseroan naik dari 3,83% pada
2016 menjadi 4,43% pada 2017, sedangkan NPF net naik dari 1,4% menjadi 2,75%.
Kendati NPF menanjak, perseroan berhasil mencatatkan laba bersih sebesar
Rp248,39 miliar, naik 1,5 kali dibanding tahun 2016 sebesar Rp100,15 miliar.
Namun, kenaikan laba bersih tersebut bukan didorong oleh membaiknya kinerja
perseroan, melainkan tambahan keuntungan dari revaluasi aset tetap di tahun
lalu sebesar Rp210,33 miliar.
(HAP)




