Selasa, Januari 27, 2026

Indonesia – Singapura Berpotensi Jadi ‘Twin Engine’ Kekuatan Ekonomi Asia

Must Read

Moneter.id – Indonesia dan Singapura berpotensi besar menjadi twin engine (mesin ganda) untuk
berkontribusi memacu pertumbuhan ekonomi di Asia. Pasalnya, kedua negara
semakin agresif menjalin kerja sama yang strategis mulai dari kemitraan sektor
industri, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta kegiatan penelitian
dan pengembangan.

“Dengan kolaborasi, tentunya akan tercipta peluang
ekonomi yang lebih besar. Jadi, saat ini tidak ada ‘kompetisi’ antara Indonesia
dan Singapura,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Indonesia-Singapore
Business Roundtable di sela rangkaian Industrial Transformation Asia-Pacific
(ITAP) 2018 di Singapura, Selasa (16/10).

Kegiatan ini dihadiri pejabat pemerintah, penyedia jasa
solusi, pelaku industri, akademisi, dan asosiasi usaha.

Menperin menjelaskan, langkah sinergi yang dilakukan
RI-Singapura bertujuan untuk saling melengkapi kebutuhan kedua negara sehingga
nantinya sama-sama menguntungkan dan membawa kesejahteraan masyarakat. “Maka
itu, peningkatkan kerja sama dalam kesiapan memasuki revolusi industri 4.0 saat
ini, menjadi sarana yang tepat untuk mendongkrak produktivitas,” tuturnya.

Airlangga melihat, masing-masing negara memiliki
keunggulan yang saling mendukung, terutama di tengah bergulirnya era digital.
Misalnya, Indonesia sudah
memiliki empat perusahaan rintisan (startup)
yang mencapai status unicorn atau
punya v
aluasi bisnis lebih dari USD1 miliar. “Kami proyeksi pada
tahun-tahun mendatang akan ada startup
lain yang juga mencapai status unicorn,”
ungkapnya.

Sementara itu, Singapura merupakan
investor terbesar di Indonesia. Sepanjang tahun 2017, Negeri Singa telah
menanamkan modalnya hingga
USD8,4 miliar atau
berkontribusi 26,2% dari total investasi asing di Indonesia. Capaian ini
melampaui Jepang sebesar USD5 miliar (15,5%), China USD3,4 miliar (10,4%), Hong
Kong USD2,1 miliar (6,6%), dan Korea Selatan USD20 miliar (6,3%).


Baca juga: Kemenperin Sempurnakan Peta Jalan Industri Fesyen Muslim


Pada semester I/2018, investasi Singapura ke Indonesia
tercatat hingga USD5,04 miliar atau naik 38% dibanding periode yang sama tahun
lalu. “Sedangkan, di tahun 2017, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Singapura
menembus USD9 miliar, yang menjadikan Singapura sebagai tujuan terbesar kelima
dalam pengapalan produk manufaktur nasional,” paparnya.

Pengalaman kerja sama RI-Singapura juga terwujud dalam
pengembangan Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah. “Saat ini, kami sudah
memiliki lebih dari 43 tenant di KIK.
Selanjutnya, kami tengah memfokuskan untuk pengembangan Politeknik Furnitur di
kawasan tersebut,” ungkap Menperin.

Kawasan industri terintegrasi pertama di Jawa Tengah itu
diproyeksikan menyerap potensi investasi sebesar USD500 juta. Pada tahap
pertama, lahan yang akan digarap seluas 1.000 hektare dengan target 300 tenant dan bakal menyerap tenaga kerja
sebanyak 500 ribu orang hingga tahun 2025. 

Airlangga menambahkan, kedua negara sepakat memperkuat kerja
sama di bidang pendidikan kejuruan terutama untuk mengisi kebutuhan di sektor
industri. “Guru dan dosen dari Indonesia telah dikirim untuk mengikuti program
pelatihan vokasi di Singapura, seperti di bidang permesinan, pembangkit
listrik, dan teknik otomasi industri,” jelasnya.

Bahkan, potensi kolaborasi RI-Singapura ke depannya akan
dijalin di bidang ekonomi digital seiring dengan berjalannya era revolusi
industri 4.0. Salah satu prioritasnya adalah pengembangan Nongsa Digital Park
di Batam sebagai wujud konkret kesepakatan kedua Kepala Pemerintahan untuk
menjadikan Batam sebagai ‘digital bridge
Singapura ke Indonesia.

Komitmen kerja sama bilateral yang baru saja terjalin,
yakni penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian RI Ngakan Timur Antara
dengan CEO Enterprise Singapore, Png Cheong Boon. Kesepakatan ini merupakan
hasil dari rangkaian kegiatan Pertemuan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia
(IMF-WBG) 2018.

Ruang lingkup pelaksanaan MoU yang akan dikolaborasikan
bersama, antara lain menghubungkan industri Indonesia dengan penyedia teknologi
Singapura, mengeksplorasi inisiatif untuk mendorong adopsi solusi inovasi manufaktur
antar industri, dan pengembangan kurikulum pelatihan terkait Industri 4.0 untuk
industri Indonesia.

MoU tersebut juga mendukung penerapan Making Indonesia
4.0 guna memacu lima sektor manufaktur, yakni industri makanan dan minuman,
tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektonika. Perjanjian kerja sama
ini mulai berlaku sejak tanggal ditandangani (11/10/2018) sampai dua tahun ke
depan dan dapat diperpanjang kembali dalam periode waktu yang sama.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Hadirkan Saham AS, Kini Diversifikasi Aset Lebih Praktis di Satu Aplikasi Valbury

Perusahaan pialang berjangka, Valbury Asia Futures (Valbury) memulai langkah di awal 2026 ini dengan memperkuat layanan multi aset di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img