Moneter.id – Menteri
Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan bahwa Kementerian
Perdagangan (Kemenperin) terus berupaya menjaga dan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi nasional melalui peningkatan ekspor dan akses pasar.
Pada
laporan empat tahun Pemerintahan Jokowi-JK hari ini ini, Selasa (23/10), di
Kantor Sekretariat Negara, Jakarta, Mendag Enggar mengungkapkan sejumlah
capaian dan strategi yang telah ditempuh terkait pemasaran produk Indonesia ke
luar negeri dan peningkatan ekspor hingga 2018.
“Pemerintah
telah bekerja keras mendorong perekonomian Indonesia, termasuk dengan terus
menggenjot kinerja ekspor Indonesia, terutama di sektor nonimgas. Kinerja
ekspor Indonesia dari tahun ke tahun sejak 2016 hingga 2018 tercatat terus
membaik meskipun mendapat ancaman dari ketidakpastian perekonomian global,”
ungkap Enggar.
Total
nilai ekspor Indonesia pada 2017 membaik dibandingkan pada periode 2016 dengan
mencatat peningkatan sebesar 16,2%, dari USD 145,1 miliar menjadi USD 168,7
miliar. Sementara itu, kinerja ekspor pada periode Januari—September 2018 juga
tercatat meningkat total nilainya dibandingkan periode Januari—September 2017
sebanyak 9,41%, dari USD 123,3 miliar menjadi USD 134,9 miliar.
“Beberapa
komoditas penyumbang nilai ekspor terbesar Indonesia di pasar dunia sepanjang
2016 hingga 2018 antara lain produk tambang dan logam; farmasi; transportasi
dan persenjataan; semen; produk perkebunan; serta BBM, migas, dan pupuk,” ujar
Enggar.
Adapun
negara tujuan ekspor utama Indonesia yaitu China, Amerika Serikat (AS), Jepang,
India, dan Singapur yang menguasai pangsa pasar ekspor Indonesia dengan
persentase sebesar 23,34% ekspor Indonesia ke dunia.
Menurut
Mendag, kinerja ekspor Indonesia digenjot dengan berbagai strategi, yakni
dengan gencar melakukan sejumlah diplomasi ekonomi, seperti misi dagang, forum
bisnis, pameran, dan festival, termasuk juga melakukan penetrasi ke pasar-pasar
nontradisional.
“Pemerintah
Indonesia secara konsisten meningkatkan perdagangan melalui gelaran pameran dan
festival seperti Trade Expo, dan Festival Indonesia. Trade Expo Indonesia (TEI)
ke-33 pun akan segera dimulai pada esok hari. Sedangkan, perluasan akses pasar
kita lakukan dengan misi dagang ke negara-negara tradisional dan
nontradisional. Pada 2018 ini saja telah dilaksanakan sebanyak sepuluh kali
misi dagang,” ujar Enggar.
Sejak
awal 2018, strategi pemasaran produk Indonesia melalui misi dagang ke India,
Pakistan, Selandia Baru, Taiwan, Bangladesh, Tunisia, Maroko, AS, Swiss, dan
Spanyol sukses mencetak transaksi lebih dari USD 10 miliar.
Transaksi
terbesar diperoleh pada misi dagang ke Pakistan sebesar USD 6,5 miliar melalui
transaksi di bidang energi (gas), produk makanan olahan, rempahrempah, kopi,
teh, kelapa sawit, kakao, serta investasi pada proyek penyulingan minyak sawit.
Selain itu untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia juga telah
menyelenggarakan IndonesiaAfrica Forum yang menghasilkan transaksi sejumlah USD
596,56 juta.
Sementara,
pada 2017—2018, sejumlah perundingan perdagangan internasional juga telah
berhasil disepakati dan atau diratifikasi, yaitu Indonesia-Chile Comprehensive Economic
Partnership Agreement (CEPA); Indonesia-Australia CEPA; MoU
Indonesia-Palestina; ASEAN-Hong Kong FTA; Protocol to Amend ASEAN Comprehensive
Investment Agreement (ACIA); ASEAN-Japan Investment, Service and MNP
Agreements; serta Protocol to Amend Indonesia-Pakistan PTA.
Sementara
itu, perjanjian perdagangan internasional yang masih dalam proses perundingan
dan ditargetkan selesai pada akhir 2018 dan semester pertama 2019 antara lain
Indonesia-EFTA CEPA, Indonesia-Iran PTA, Indonesia-Turkey CEPA, RCEP, dan
Indonesia-EU CEPA.
“Berbagai
perjanjian perdagangan internasional memiliki andil besar dalam memasarkan
produk-produk Indonesia dengan adanya pemberian preferensi, misalnya saja
perjanjian Indonesia-Chile dalam kerangka CEPA yang disepakati 14 Desember 2017
yang menghapus tarif bea masuk terhadap 7.669 pos tarif Chile atau mencakup
94,5% nilai ekspor Indonesia ke Chile pada 2016,” ucap Enggar.
Untuk
itu, kata Enggar, Pemerintah Indonesia terus berkomitmen menjalin kerja sama
yang lebih luas lagi dengan beberapa negara mitra.
Adapun
perjanjian perdagangan yang terus diupayakan untuk dijajaki yaitu dengan Sri
Lanka, Peru, Kanada, Taiwan, Yordania, serta dengan beberapa regional seperti
The Gulf Cooperation Council (GCC), Southern African Customs Union (SACU), East
African Community (EAC), dan Economic Community of West African States
(ECOWAS).
“Melalui
berbagai perjanjian perdagangan internasional, baik yang telah disepakati
maupun yang masih dalam proses perundingan, diharapkan semakin meningkatkan
daya saing dengan semakin terbukanya akses pemasaran produk-produk Indonesia di
kancah global,” pungkas Enggar.
(TOP)




