Senin, Januari 26, 2026

Riset LinkedIn: Orang Indonesia Paling Pede Tatap Masa Depan

Must Read

Moneter.id – LinkedIn,
jaringan profesional terbesar di dunia,
mengulas hasil studi perdana ‘LinkedIn Opportunity Index’. Studi
ini melibatkan sembilan negara di kawasan Asia Pasifik (APAC) di mana LinkedIn
memiliki 153 juta pengguna, termasuk diantaranya 11 juta pengguna yang berasal
dari Indonesia.

Indeks ini
dijadikan tolok ukur untuk memahami bagaimana masyarakat melihat peluang di
masa depan dan juga hambatan-hambatan dalam meraihnya. Riset ini melibatkan 11.000
responden dari sembilan negara di kawasan Asia Pasifik seperti, Indonesia,
Australia, Tiongkok, Hong Kong, India, Jepang, Malaysia, Filipina, dan
Singapura.

Data LinkedIn Opportunity Index
mengungkap bahwa Indonesia menjadi negara yang paling percaya diri dalam
menatap masa depan. Hal ini didorong oleh rasa percaya diri masyarakat
Indonesia terhadap potensi pertumbuhan ekonomi negara, serta kondisi yang
memungkinkan mereka untuk mendapatkan akses dan juga mengejar berbagai peluang
yang  dianggap penting.

Kondisi ini bertolak belakang dengan negara-negara
maju seperti Jepang, Hong Kong, dan Australia. Masyarakat di ketiga negara
tersebut menunjukan kecemasan yang lebih tinggi terhadap kondisi perekonomian
negara masing-masing, dan secara umum lebih mengelola ekspektasi mereka
terhadap akses untuk meraih peluang yang relevan.

“Kami percaya bahwa akses menuju, serta untuk
meraih, peluang seharusnya universal dan dapat diakses oleh siapapun. Melalui
studi perdana LinkedIn Opportunity Index, kami berusaha memahami aspirasi
masyarakat di kawasan Asia Pasifik, tentang kesempatan dalam meraih berbagai
peluang di masa depan, dan juga hambatannya,” Oliver Legrand, Managing Director, LinkedIn in Asia
Pacific.

Olivier
menjelaskan, pertumbuhan jumlah tenaga kerja di Asia Pasifik sejatinya bisa
menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi regional, jika dikelola secara efektif.
Dengan memetakan serta memahami persepsi dan aspirasi masyarakat terhadap
peluang di masa depan dan juga hambatannya, seiring waktu, kami berharap dapat
memfasilitasi penawaran dan permintaan peluang yang lebih seimbang di pasar.

Setengah atau
50% dari responden di Indonesia menyatakan bahwa “merintis bisnis milik
sendiri” sebagai aspirasi tertinggi dari peluang di masa depan. Ini senada
dengan dengan responden dari Filipina (53%) yang tertarik untuk berwiraswasta.
Sebaliknya responden di Australia (13%), Hong Kong (13%), dan Jepang (7%)
memiliki keinginan yang kecil untuk memulai bisnis baru.

Selain itu,
di Indonesia, sebanyak 38% responden mengatakan bahwa peluang untuk bisa
menggunakan kemampuan mereka sebagai aspirasi mereka tertinggi setelah peluang
merintis bisnis milik sendiri. Kondisi ini tidak mencerminkan aspirasi
responden lainnya di tingkat regional, di mana peluang untuk menjaga
keseimbangan kehidupan karier dan personal menjadi aspirasi tertinggi (dinyatakan
oleh 40%) bagi rata-rata responden di Asia Pasifik – sedangkan di Indonesia
hanya dinyatakan oleh 34% responden.

Peluang juga
tidak semata diartikan sebagai usaha personal dalam meraih kesempatan kerja.
Lebih dari itu, 82% orang Indonesia menyatakan bahwa mereka juga turut membantu
orang lain untuk terhubung dengan kesempatan kerja yang lebih baik.

Diantara
mereka, lebih dari setengah (sebanyak 56%) menyatakan bahwa mereka membantu
memperkenalkan kerabat mereka ke orang yang tepat agar bisa meraih kesempatan
kerja, sementara 47% menyatakan bahwa mereka telah menuliskan surat referensi
kerja bagi kerabat mereka.

Data ini
merefleksikan kultur Gotong Royong yang telah melekat di masyarakat Indonesia,
terutama dalam mencapai suatu tujuan, dan juga menekankan pentingnya peran
komunitas dalam membantu orang Indonesia untuk terhubung serta meraih
kesempatan di masa depan.

Status Finansial Jadi Halangan Terbesar
Menggapai Peluang.

Sebanyak 35%
dari responden di Indonesia percaya bahwa keterbatasan finansial menjadi
halangan terbesar dalam meraih peluang di masa depan. Sebanyak 29% responden di
Indonesia juga menyatakan bahwa kurangnya luasnya koneksi dan jaringan relasi
menjadi hambatan terbesar kedua, diikuti oleh rasa takut akan kegagalan (22%).

Di Indonesia, Ketekunan Jadi Pendorong
Kemajuan Hidup Masa Depan.

Sama seperti
lebih dari 90% responden di Asia Pasifik, 94% responden di Indonesia percaya
bahwa ketekunan dan kerja keras menjadi kunci untuk memajukan hidup di masa
depan.

Kemudian, kesediaan
untuk menerima perubahan (93%), mengenal orang atau memiliki koneksi yang tepat
(89%), dan tingkat pendidikan (84%).

Legrand menambahkan,
hambatan yang dikemukakan dalam hal mengejar peluang hidup memang nyata
terjadi. Meskipun kawasan ini menunjukan keberagamannya keberagaman, namun jika
kita menelisik lebih dalam terdapat lebih banyak kesamaan ketika berbicara
tentang aspirasi dan harapan.

“Kabar
baiknya, apapun arti dari peluang bagi masing-masing, kita selalu dapat
menemukan komunitas yang bisa membantu kita. Baik itu untuk mempelajari
keahlian baru, menjalin relasi, berbagi ilmu/pandangan, kita dapat saling
membantu membuka peluang bagi semua, untuk terhubung dan meraih peluang,” imbuh
Legrand.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Pelatihan Ekspor Digital Ajak UMKM Ambil Peluang untuk Tembus Pasar Global

Ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) antusias dalam mengikuti Pelatihan UMKM bertema “Membuka Peluang Ekspor di Era...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img