Moneter.id – Kementerian Perindustrian bertekad untuk terus
mencetak sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten sesuai kebutuhan
dunia usaha saat ini. Salah satu upaya strategis yang telah dilakukan, yakni
menjalankan program Diklat 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja).
“Dalam upaya
menghasilkan SDM industri yang kompeten dan profesional, kami juga telah
merekrut untuk para
penyandang disabilitas di daerah Jawa Timur,” kata
Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar sesuai keterangannya yang
diterima di Jakarta, Sabtu (29/12).
Menurut Haris, implementasi program tersebut merupakan
kerja sama antara Balai
Diklat Industri Yogyakarta dengan
Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo)
wilayah Jawa
Timur. Kegiatan yang sudah dilaksanakan berupa Diklat 3 in 1 ini untuk memenuhi
kebutuhan tenaga kerja di industri alas
kaki.
Pada tahun 2017, diikuti sebanyak 50 peserta dari
Sekolah Luar Biasa (SLB) di wilayah Jawa Timur. Setelah mendapat pelatihan
kompetensi jahit upper alas kaki di
SLB Pembina Tingkat Nasional Bagian C Malang, seluruh lulusannya terserap kerja
di PT Wangta Agung, Surabaya.
Sementara
itu, di tahun 2018, sebanyak 45 peserta penyandang disabilitas dari wilayah Jawa
Timur, juga terserap kerja di PT Ecco Indonesia dan PT Widaya Inti Plasma,
Sidoarjo. Selain mengikuti pelatihan sekitar 20 hari, mereka mendapatkan
perlengkapan diklat, konsumsi selama diklat, dan bahan praktik.
“Bahkan
mereka mendapatkan sertifikat diklat dan yang lulus uji kompetensi juga mendapat sertifikat,” imbuh Haris.
Para pengajar diklat 3 in 1 tersebut merupakan widyaiswara BDI Yogyakarta dan instruktur
dari Aprisindo Jawa Timur.
Kepala BDI
Yogyakarta Tevi Dwi Kurniaty
menyampaikan, pelatihan ini sesuai dengan tujuan satuan
kerjanya untuk membantu
industri mendapatkan tenaga kerja terampil sesuai kebutuhan lapangan. “Maka itu,
kami berkerja sama dengan
perusahaan-perusahaan yang akan menerima mereka
bekerja,” terangnya.
Sementara itu, Sekretaris
Aprisindo Jawa Timur Ali Mas’ud mengemukakan,
banyak perusahaan anggota
asosiasinya
yang siap
menerima lulusan diklat 3 in1 dari penyandang disabilitas. Misalnya di PT Widaya Inti Plasma. “Para
peserta yang berasal dari
15 kabupaten kota di Jawa Timur ini akan direkrut oleh produsen sepatu merek
Trekkers tersebut,” ungkapnya.
Nur Habib
Ahmad yang mewakili
Humas PT Widaya Inti Plasma mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016
tentang Penyandang Disabilitas. Dalam payung hukum tersebut, disebutkan bahwa perusahaan swasta
wajib mempekerjakan sedikitnya satu
persen penyandang disabilitas dari jumlah seluruh karyawannya.
“Kami telah
memiliki 10 pekerja difabel yang ditempatkan di bagian penjualan online.
Sebelumnya kami juga sudah
punya pekerja difabel di bagian marketing,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
menegaskan, pihaknya terus
berupaya untuk meningkatkan
kompetensi penyandang disabilitas agar siap bekerja di sektor industri. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden
Joko Widodo yang ingin lebih secara masif melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan kualitas SDM di Indonesia.
Pada Kamis (27/12), Menperin dan Menteri Sosial Agus Gumiwang
Kartasasmita telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang Pelatihan, Sertifikasi,
dan Penempatan Kerja Bagi Penyandang Disabilitas. Langkah kolaborasi ini selain mampu
mengurangi jumlah pengangguran, dapat berkontribusi pula dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Pembangunan
ekonomi kita didorong menjadi inklusif. Artinya juga ramah dengan masyarakat
kita yang penyandang disabilitas. Kami mengapresiasi
kepada perusahaan yang telah menerima mereka bekerja, bahkan di Palembang ada
yang hingga 20%
dari populasi karyawannya,” ungkap Airlangga. Kemenperin pun memacu para
penyandang disabilitas agar
bisa menjadi wirausaha industri baru.
Dari MoU tersebut, Menperin
menargetkan pelaksanaan program Diklat 3in1 untuk para penyandang disabilitas dapat dijalankan pada Januari 2019. “Pada tahun depan, kami
menargetkan sebanyak 72.000 orang ikut serta dalam program Diklat 3 in 1. Nah, ini bisa menjadi peluang yang dapat
dimanfaatkan oleh saudara-saudara kita penyandang disabilitas supaya lebih
kompetitif,” kata Menperin.




