Senin, April 20, 2026

Menperin: Implementasi Industri 4.0 Tak Meninggalkan Sektor Generasi Pertama Hingga Ketiga

Must Read

Moneter.id – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
mengatakan era digitalisasi atau industri 4.0 merupakan transformasi yang harus
dijalani dan tidak bisa dihindari. Dalam penerapan revolusi industri keempat
ini, Indonesia tidak akan meninggalkan atau menggantikan sektor industri yang
saat ini masih menggunakan teknologi di era industri generasi pertama hingga
ketiga.

“Meski saat ini pemerintah mendorong revolusi industri keempat, tetapi saya
tegaskan bahwa sektor yang masih di industri pertama juga masih berjalan, termasuk
pula yang di generasi kedua dan ketiga. Semuanya saling melengkapi dan berjalan
seiringan,” ucapnya di Jakarta, Minggu (10/2).

Menperin menuturkan, industri generasi pertama yang masih ada di Indonesia, di
antaranya berada di sektor agrikultur atau pertanian. Kemudian, industri generasi
kedua seperti sektor pembuatan rokok kretek tangan dan industri batik yang
menggunakan canting, hingga saat ini masih beroperasi. “Terhadap sektor
tersebut, pemerintah berkomitmen untuk terus mengembangkannya dengan lebih
produktif dan inovatif,” tuturnya.

Sementara itu, industri generasi ketiga,
yang telah menggunakan mesin otomatis dengan melibatkan hubungan antara manusia
dan mesin pun tidak akan ditinggalkan. Saat ini, Indonesia sedang siap memasuki
revolusi industri keempat, dengan pemanfaatan teknologi digital, yang diproyeksikan
akan menjadi lompatan besar bagi semua sector manufaktur.

“Di industri keempat ini, mesin beroperasi sendiri, bukan human to machine lagi, tetapi machine
to machine learning
karena faktor intelektual yang diinput dalam program System Application and Product in data
processing (SAP)
. Ini sudah masuk ke yang namanya artificial intelligence,” jelasnya.

Airlangga menilai, implementasi industri 4.0 memiliki potensi luar biasa dalam
merombak aspek rantai nilai di sektor industri, serta mampu mengubah berbagai
aspek dalam kehidupan manusia.  “Tidak
hanya dalam proses produksi manufaktur, industri 4.0 melahirkan model bisnis
yang baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi dan produksi yang tinggi
dengan kualitas yang lebih baik,” terangnya.

Lebih lanjut, terkait dengan kekhawatiran tergantikannya tenaga manusia dengan
tenaga mesin, sebenarnya terjadi pada saat revolusi industri ketiga, bukan pada
revolusi industri keempat. Justru pada revolusi industri keempat atau era
digitalisasi, akan butuh banyak pekerjaan di bidang analisa data atau artificial intelligence. “Biasanya
pekerjaan ini berhubungan dengan statistik,” tandasnya.

Oleh karena itu, memasuki revolusi industri 4.0, pemerintah mendorong sumber
daya manusia (SDM) yang mumpuni melalui reskilling.
“Untuk memantapkan industri 4.0, vokasi dan retraining
sangat diperlukan. Industri 4.0 adalah tantangan yang sangat baik bagi
Indonesia karena dengan industri 4.0 akan menjadi lebih efektif dan produktif,”
imbuhnya.

Guna memacu peningkatan pendidikan vokasi industri untuk menunjang SDM kompeten
dalam menghadapi era industri 4.0, Kemenperin telah menjalankan program link and match, dengan menggandeng sebanyak
2.074 SMK dan 745 perusahaan dari wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan
Sulawesi.

Selain itu dilakukan pelatihan industri
berbasis kompetensi dengan sistem 3 in 1, pembangunan infrastruktur kompetensi
(SKKNI, LSP dan Sertifikasi Kompetensi), serta pembangunan pusat inovasi dan
pengembangan SDM industri 4.0.


 


- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Angel Pieters Rilis Garis Tangan, Single Terbaru Tentang Keikhlasan Melepas Seseorang

Angel Pieters hari ini secara resmi merilis single terbarunya, “Garis Tangan” sebuah karya lagu yang dipercaya menyimpan cerita tentang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img