Kamis, Juli 23, 2026

BI Perkuat Jurus Tarik Dana Asing, Insentif Hedging Ditambah Meski Suku Bunga Tetap 5,75%

Must Read

Bank Indonesia (BI) memilih mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21-22 Juli 2026. Namun, di balik keputusan menahan suku bunga, bank sentral meluncurkan paket kebijakan baru yang lebih agresif untuk menarik aliran modal asing sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Selain mempertahankan BI-Rate, BI juga menahan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.

“Keputusan BI-Rate dan kebijakan lain dimaksud merupakan bagian terintegrasi dari bauran kebijakan Bank Indonesia yang tetap konsisten untuk semakin memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global, serta untuk mempertahankan inflasi pada tahun 2026 dan 2027 berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%,” tulis Bank Indonesia dalam hasil RDG yang diumumkan Rabu (22/7).

Salah satu kebijakan utama yang diumumkan adalah peningkatan insentif bagi investor asing melalui instrumen lindung nilai. BI menaikkan insentif pengurangan premi swap jual lindung nilai dari 10% menjadi 12,5% serta memperluas insentif DNDF jual lindung nilai sebesar 15%. Selain itu, insentif juga diberikan untuk transaksi Local Currency Transaction (LCT) guna memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi dengan negara mitra.

Di sektor likuiditas, BI memperbesar plafon Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang dapat diterima perbankan menjadi maksimal 6% dari Dana Pihak Ketiga (DPK), lebih tinggi dibandingkan sebelumnya sebesar 5,5%. Kebijakan tersebut mulai berlaku efektif pada 1 September 2026.

Bank sentral juga memperluas aset yang dapat dijadikan underlying transaksi repo dengan memasukkan obligasi dan sukuk PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) serta PT Sarana Multigriya Finansial (SMF). Langkah ini diharapkan mampu memperdalam pasar uang sekaligus mengurangi segmentasi likuiditas di industri perbankan.

Menurut BI, langkah tersebut diperlukan karena ketidakpastian global kembali meningkat setelah eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026 yang memicu kenaikan harga minyak dunia, mengganggu rantai pasok global, serta meningkatkan tekanan inflasi.

Di tengah tantangan tersebut, BI menilai ekonomi domestik masih menunjukkan daya tahan. Konsumsi rumah tangga tetap terjaga berkat berbagai stimulus pemerintah, sementara investasi bangunan dan belanja pemerintah menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.

“Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7%,” tulis BI.

Dari sisi eksternal, aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia masih berlanjut. Pada triwulan II 2026, investasi portofolio asing mencatat arus masuk bersih (net inflows) sebesar US$8,5 miliar, terutama ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Cadangan devisa Indonesia hingga akhir Juni 2026 juga tetap tinggi di level US$145,6 miliar.

Bank Indonesia optimistis berbagai kebijakan tersebut mampu menjaga stabilitas rupiah. Hingga 21 Juli 2026, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.885 per dolar AS, relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni.

“Bank Indonesia meyakini nilai tukar Rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia melalui berbagai penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” tegas BI.

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2026 meningkat menjadi 12,67% secara tahunan dari 11,51% pada Mei, didukung kenaikan kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi. Di sisi lain, transaksi pembayaran digital terus tumbuh pesat. Volume transaksi digital pada triwulan II 2026 mencapai 16,07 miliar transaksi atau naik 36,88% secara tahunan, sedangkan transaksi QRIS melonjak hingga 100,12%.

Melalui kombinasi kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran tersebut, BI berharap stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga sekaligus memperkuat momentum pertumbuhan di tengah tekanan ekonomi global yang masih tinggi.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Airlangga Dorong Komersialisasi Riset untuk Percepat Hilirisasi Industri Sawit

Pemerintah mendorong hasil riset di sektor kelapa sawit tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi dapat diadopsi industri guna mempercepat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img