Senin, Maret 2, 2026

Neraca Perdagangan Februari Surplus USD 329,5 Juta

Must Read

Moneter.id – Menteri
Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan, neraca perdagangan Februari 2019
kembali surplus, setelah pada bulan sebelumnya neraca perdagangan mengalami
defisit sebesar USD 1,1 miliar. Pada Februari 2019, nilai ekspor lebih besar
dari nilai impor sehingga menghasilkan surplus sebesar USD 329,5 juta.

“Surplus ini disebabkan menurunnya permintaan
impor bulanan yang lebih tinggi daripada penurunan ekspor,” kata Mendag,
Rabu (20/03).

Lebih
rinci, Mendag menjelaskan bahwa surplus perdagangan Februari 2019 disumbang
surplus perdagangan nonmigas sebesar USD 793,6 miliar dan defisit neraca
perdagangan migas sebesar USD 464,1 miliar.

Negara-negara
mitra dagang penyumbang surplus nonmigas terbesar selama Februari 2019 yaitu
Amerika Serikat, India, Filipina, Belanda, dan Singapura dengan nilai USD 2,1
miliar. Sementara itu, China, Thailand, Jepang, Australia, dan Argentina
menjadi negara sumber defisit perdagangan nonmigas terbesar yang totalnya
mencapai USD 2,5 miliar.

Secara
kumulatif, kata Mendag, neraca perdagangan Januari-Februari 2019 masih
mengalami defisit USD 734,0 juta. Hal ini karena besarnya defisit perdagangan
migas yang mencapai USD 886,0 juta belum dapat diatasi dengan surplus neraca
perdagangan nonmigas yang hanya sebesar USD 152,0 juta.

“Surplus perdagangan bulan Februari belum
dapat memperbaiki neraca perdagangan periode Januari-Februari 2019. Oleh karena
itu, pemerintah telah merumuskan strategi peningkatan ekspor produk bernilai
tambah tinggi dan berdaya saing untuk mencapai target ekspor nonmigas di 2019
dan melebihi surplus neraca perdagangan nonmigas tahun 2018 yang mencapai USD
3,84 miliar,” ujar Mendag.

Dorong
Ekspor Produk Bernilai Tambah

Kinerja
ekspor Februari 2019 mencapai USD 12,5 miliar atau turun 11,3% dibandingkan ekspor
bulan yang sama pada 2018 (yoy). Penurunan ekspor ini disebabkan penurunan ekspor
migas sebesar 21,8% dan penurunan ekspor nonmigas sebesar 10,2%.

Untuk
mencapai target 2019, lanjut Mendag, kinerja ekspor nonmigas periode
Januari-Februari 2019 memerlukan dorongan optimal kinerja ekspor bulan-bulan
selanjutnya, Maret hingga Desember, yang diharapkan tumbuh minimal 10,3%.

“Hal ini menuntut kita berupaya keras
mendorong peningkatan ekspor produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing
yang strateginya telah kami rumuskan pada rapat kerja beberapa hari lalu,”
jelas Mendag.

Pada
Januari-Februari 2019, ekspor seluruh sektor mengalami pelemahan kecuali sektor
pertanian. Ekspor sektor pertanian yang tahun lalu turun 12,1%, tahun ini naik
4,65 (yoy). Sedangkan, ekspor sektor industri tahun lalu naik 6,1%, tahun ini
turun 6,0%; ekspor sektor pertambangan yang tahun lalu naik 39,5%, tahun ini
turun 13,35. Adapun ekspor sektor migas yang tahun lalu naik 9,15, tahun ini
turun 14,45.

“Pelemahan kinerja ekspor Januari-Februari 2019
disebabkan faktor tekanan harga beberapa komiditas utama Indonesia di pasar
internasional, seperti batu bara dan minyak sawit (CPO), meskipun volume
ekspornya mengalami peningkatan. Oleh karena itu, strategi peningkatan ekspor
fokus pada ekspor produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing,”
lanjut Mendag.

Selain
itu, secara keseluruhan penurunan ekspor nonmigas selama periode
Januari-Februari 2019 juga dipicu melemahnya ekspor ke sepuluh besar pasar,
kecuali ke Korea Selatan dan Vietnam yang naik, masing-masing sebesar 13,8% dan
25,2%.

Adapun
nilai ekspor nonmigas ke pasar di urutan sepuluh besar mencapai USD 16,5 miliar
atau turun 8,1%. Hal ini menyebabkan kontribusi sepuluh besar pasar mengalami
penurunan dari 69,0% menjadi 68,2% dari total ekspor nonmigas.

Total
Impor Januari-Februari 2019 Turun

Impor
selama Februari 2019 mencapai USD 12,2 miliar atau turun 13,98% dibandingkan
Februari 2018 (yoy). Dengan demikian, tercatat bahwa selama 2 bulan pertama
2019, total impor Indonesia mencapai USD 27,2 miliar atau menurun 7,85 dari
total impor Januari-Februari 2018 yang mencapai USD 29,5 miliar.

“Penurunan impor Januari-Februari 2019 ini terjadi
setelah pada periode yang sama selama dua tahun sebelumnya mengalami kenaikan
. Impor pada Januari- Februari 2018 meningkat
26,4% dan pada 2017 naik 13,0%,” ungkap Mendag.

Penurunan
impor tersebut disebabkan penurunan permintaan impor seluruh golongan barang,
yaitu impor barang konsumsi turun sebesar 18,8%, impor bahan baku/penolong
turun 7,6%, dan impor barang modal turun 2,3%.

Adapun barang konsumsi yang impornya mengalami penurunan signifikan
antara lain alat angkutan bukan untuk industri (-54,7%), bahan bakar dan
pelumas (-26,3%), dan mobil penumpang (-25,5%).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Sambut Ramadan 2026, Grand Travello Hotel Bekasi Hadirkan Showcase Kuliner dan Paket Spesial

Grand Travello Hotel menggelar Ramadan Showcase 2026 sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang berkualitas bagi masyarakat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img