Selasa, Januari 27, 2026

Revisi UU Minerba Didorong Optimalkan Hilirisasi Industri

Must Read

Moneter.id – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, untuk memacu hilirisasi
industri, perlu adanya aturan mengenai pemberian izin yang berkaitan dengan pertambangan
dan proses produksi.

“Kemenperin dan Kementerian ESDM sudah sepakat
bahwa kalau ada investor atau perusahaan yang berdiri sendiri, kemudian
melakukan kegiatan smelting, maka dia akan menggunakan Izin Usaha Industri
(IUI),”
kata Menperin seusai menghadiri Rapat
Kerja dengan Komisi VII DPR RI dengan agenda pembahasan tentang RUU Minerba di
Jakarta, Kamis (13/2).

Kata Menperin, bagi
perusahaan smelter yang lokasinya sudah terintegrasi dengan lahan pertambangannya,
menggunakan Izin Usaha Pertambangan (IUP). “Oleh karena itu, kami sangat mendukung
upaya dari revisi UU minerba ini. Sebab, akan mengakselerasi langkah hilirisasi
itu sendiri,” tegasnya.

Pada
hasil raker hari ini, DPR dan pemerintah akhirnya mengesahkan Panitia Kerja
(Panja) Rancangan Undang-undang Mineral dan Batu Bara (RUU Minerba). Ketua dan
anggota Panja terdiri atas 26 orang perwakilan DPR dan 60 orang perwakilan
pemerintah.

Panja tersebut, nantinya membahas mengenai
Daftar Isian Masalah (DIM) dari RUU Minerba yang sudah dibuat oleh pemerintah. DPR
menargetkan kerja Panja ini selesai pada Agustus tahun 2020.

Sebelumnya, Agus menegaskan, hilirisasi perlu
ditopang dengan penggunaan teknologi baru, termasuk penerapan era industri 4.0
untuk menggenjot produktivitasnya secara lebih efisien. “Kita semua punya pandangan
yang sama mengenai pentingnya inovasi. Pandangan hilirisasi harus didorong di
Indonesia. Ini menjadi salah satu program utama dari pemerintah,” tuturnya.

Lebih lanjut, dengan tekad pemerintah tersebut,
sejumlah industri besar skala global sudah ada yang berminat masuk dan membuka
kegiatan produksi serta risetnya di Indonesia.

“Sejalan hal itu, pemerintah sedang mendorong
peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kegiatan litbang untuk inovasi.
Itu menjadi keunggulan komparatif Indonesia dibanding negara lain,” imbuhnya.

Kemenperin mencatat, hilirisasi industri
telah berjalan baik di berbagai sektor, misalnya di sektor pertambangan. Kawasan
Industri Morowali, Sulawesi Tengah menjadi salah satu contohnya, yang saat ini sudah
berhasil melakukan hilirisasi terhadap nickel ore menjadi stainless
steel
.

Sebagai gambaran, harga jual nickel ore
sekitar USD40-60, sedangkan ketika sudah menjadi stainless steel harganya
bisa di atas USD2000. Sementara itu, nilai ekspor Kawasan Industri Morowali sudah
mampu menembus USD4 miliar, baik itu pengapalan produk hot rolled coil
maupun cold rolled coil ke Amerika Serikat dan China.

Kontribusi Kawasan Industri Morowali juga terlihat
dari capaian investasi yang terus menunjukkan peningkatan, dari tahun 2017
sebesar USD3,4 miliar menjadi USD5 miliar sepanjang tahun 2018. Jumlah
penyerapan tenaga kerjanya pun terbilang sangat besar, yaitu hingga 30 ribu
orang.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Hadirkan Saham AS, Kini Diversifikasi Aset Lebih Praktis di Satu Aplikasi Valbury

Perusahaan pialang berjangka, Valbury Asia Futures (Valbury) memulai langkah di awal 2026 ini dengan memperkuat layanan multi aset di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img