Moneter.id
–
PT Bank Mega Tbk (Bank Mega) membukukan laba bersih sebesar Rp 3 triliun sepanjang
tahun 2020. Realisasi ini meningkat 50% jika dibandingkan dengan kinerja tahun sebelumnya
yang sebesar Rp 2 triliun.
Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib bilang, pertumbuhan
laba tersebut diperoleh dari pendapatan bunga bersih (net interest income) yang naik sebesar 9% menjadi Rp 3,9 triliun
dari posisi tahun 2019 sebesar Rp 3,58 triliun.
“Fee based
income juga turut andil dalam menyumbang kenaikan laba, dimana terjadi
kenaikan sebesar 26% menjadi Rp 2,9 triliun dari posisi 2019 sebesar Rp 2,3
triliun,” ucapnya di Jakarta, Rabu (17/2/21).
Hingga akhir Desember 2020, total aset Bank Mega juga
berhasil mencapai Rp 112,2 triliun atau naik 11% dibanding tahun 2019 sebesar
Rp 100,8 triliun.
Dana pihak ketiga (DPK) meningkat sebesar 9% menjadi
Rp 79,19 triliun dari posisi tahun 2019 sebesar Rp 72,8 triliun. Dari sisi
komposisi, deposito masih mendominasi DPK yaitu sebesar 72%, disusul oleh
tabungan sebesar 17% dan giro sebesar 11%.
Dari sisi kredit, pertumbuhan kredit perseroan
mencatatkan tren negatif sebesar minus 6% menjadi Rp 48,5 triliun dari Rp 51,0
triliun pada tahun 2019.
Namun, secara komposisi, kredit korporasi masih tumbuh
positif dibandingkan segmen lainnya, yaitu sebesar 55% menjadi Rp 26,2 triliun.
Perseroan juga mencatatkan rasio permodalan (capital adequacy ratio/CAR) sebesar
31,04% atau meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 23,68%.




