MONETER – Muhammad
Andri Perdana peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai dana
hasil Initial Public Offering (IPO) PT
Global Digital Niaga Tbk (Blibli) yang akan digunakan untuk membayar utang,
akan membuat perseroan menjadi lebih fleksibel dalam mengelola aset.
“Sebanyak Rp5,5 triliun dari Blibli itu digunakan untuk
memperbaiki dari struktur modal, mengurangi utang, sehingga dapat mengurangi Debt Equity Rasionya (DER). Dengan
penurunan DER ini, perusahaan menjadi lebih fleksibel dalam pengelolaan aset
yang dimiliki, termasuk potensi pembagian dividen kepada investor di masa
mendatang,” katanya dikutip dari Antara, Senin, (7/11/2022).
Menurutnya, Blibli
memiliki potensi untuk berkembang sebagaimana perusahaan e-commerce di luar negeri. “Mereka sustain karena
memiliki bisnis di beberapa sektor usaha, sehingga ketika kondisi ekonomi sulit
sekalipun, sebagian bisnis yang berkembang dapat menopang sektor bisnis lainnya
yang terdampak ekonomi. Yang satu mengalami kesulitan, yang lain mengalami
kenaikan,” jelasnya.
Andri juga menilai
wajar atas utang yang dimiliki oleh Blibli dan perusahaan rintisan atau startup lainnya.
Menurut dia, startup memiliki
utang untuk investasi serta pengembangan bisnisnya. “Selama utang
itu sehat dan terukur dari segi DER, Profitabilitias dan Likuiditasnya, maka
wajar-wajar saja, bukan masalah,” ujarnya.
Diketahui, Blibli
akan melantai di bursa pada 8 November 2022 diperkirakan akan mengumpulkan dana
sebesar Rp7,9 triliun. Dana tersebut akan dipergunakan untuk pembayaran
saldo utang fasilitas, sementara sisanya akan dialokasikan sebagai modal kerja
dalam mendukung kegiatan usaha.




