Moneter.id – Jakarta – Bank Mandiri memprediksi nilai inflasi
Indonesia dapat turun ke kisaran 3-3,2 persen pada akhir tahun 2023.
Kata Chief Economist
Bank Mandiri Andry Asmoro, perkiraan inflasi tersebut lebih baik dibandingkan
proyeksi awal di 3,6 persen. Inflasi yang terkendali akan mendukung pertumbuhan
dan stabilitas sektor keuangan.
“Saat ini inflasi
semakin terkendali meskipun tantangan El Nino dapat meningkatkan potensi
gangguan pasokan pangan. Hingga Juli 2023, inflasi tercatat 3,08 persen secara
year on year (yoy) dan telah kembali dalam target Bank Indonesia di kisaran 2-4
persen,” ucapnya di Jakarta, Selasa (22/8/2023).
Menurutnya, El Nino
diperkirakan dapat mempengaruhi produksi pangan di Indonesia sehingga perlu
dipersiapkan strategi untuk mengantisipasinya. Kenaikan harga pangan sejak 2022
mayoritas dipengaruhi oleh kenaikan akan biaya input petani bersamaan dengan
permintaan yang kembali pulih pasca pandemi.
Potensi El Nino atau
musim kemarau ekstrem pada 2023 akan menyebabkan penurunan curah hujan di
Indonesia. Puncak El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus-September 2023. El
Nino dikhawatirkan mempengaruhi ketersediaan air dan produktivitas tanaman
pangan.
Sementara itu,
pemerintah telah membahas persiapan menghadapi dampak El Nino, fenomena
pemanasan suhu muka laut di atas kondisi normalnya di Samudera Pasifik bagian
tengah yang dapat menurunkan curah hujan dan memicu kekeringan di wilayah Indonesia.
Pemerintah juga terus
konsisten dalam mengendalikan inflasi dengan berbagai upaya stabilisasi antara
lain dengan menjaga pasokan dan kelancaran distribusi, serta mengantisipasi
dampak gangguan cuaca dan risiko kekeringan.
Inflasi terus melanjutkan
tren penurunan. Inflasi tahunan pada Mei 2023 tercatat empat persen dibanding
periode sama tahun sebelumnya (yoy), menurun dari April 2023 yang sebesar 4,3
persen (yoy) dan merupakan angka terendah sejak awal tahun.
Selama ini, pemerintah
terus melakukan upaya stabilisasi harga pangan dalam rangka menjaga ketahanan
pangan. Hal tersebut tercermin pada pergerakan inflasi harga pangan bergejolak
(volatile food) yang melambat ke level 3,3 persen (yoy), lebih rendah dari
April 2023 yang sebesar 3,7 persen (yoy).




