Rabu, Maret 4, 2026

Fenomena Berburu Takjil Kini Menjadi Tradisi Tak Tergantikan Bagi Gen Z dan Milenial

Must Read

Memasuki bulan suci Ramadan, aktivitas masyarakat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tradisi berburu takjil. Secara etimologi, kata ‘takjil’ berakar dari kata ‘ajila’ yang dalam bahasa Arab berarti menyegerakan untuk berbuka puasa. Namun, di Indonesia, makna tersebut telah mengalami pergeseran menjadi sebutan untuk berbagai jenis panganan dan minuman pembatal puasa.

Riset terbaru yang dirilis oleh Populix mengungkapkan bahwa kini telah terjadi pergeseran makna yang lebih dalam, di mana berburu takjil bukan lagi sekadar aktivitas menunggu waktu berbuka, melainkan sebuah akulturasi tradisi yang melekat kuat pada bulan Ramadan.

​Research Director Populix, Susan Adi Putra, menjelaskan bahwa fenomena berburu takjil saat ini telah menempati posisi sebagai aktivitas ngabuburit yang paling populer, terutama di kalangan Gen Z dan milenial. Popularitas kegiatan ini bahkan melampaui aktivitas santai lainnya seperti berselancar di media sosial atau memasak sendiri di rumah untuk keperluan berbuka.

Menurut Putra, terdapat alasan emosional di balik antusiasme tersebut karena bagi sebagian besar anak muda, momen ini memiliki arti yang lebih mendalam dari sekadar mencari makanan.

​“Tak hanya itu, 41% anak muda menganggap kegiatan berburu takjil bukan sekadar self-reward setelah seharian berpuasa, melainkan menjadi sebuah tradisi khas bulan Ramadan yang tidak tergantikan,” jelas Putra.

​Temuan riset ini juga mempertegas bahwa berburu takjil telah bertransformasi menjadi rutinitas harian yang melibatkan seluruh gender. Lebih dari setengah responden, baik laki-laki maupun perempuan, mengaku membeli takjil hampir setiap hari selama bulan puasa.

Hanya sebagian kecil atau sekitar 5% responden yang mengaku membeli takjil kurang dari seminggu sekali atau tidak melakukannya sama sekali. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan masyarakat terhadap kehadiran pedagang takjil selama bulan Ramadan.

​Mengenai preferensi jenis kudapan, minuman manis seperti es teh, es buah, hingga es campur tetap mendominasi sebagai pilihan utama, khususnya bagi kalangan Gen Z. Di sisi lain, kelompok responden perempuan dan generasi milenial menunjukkan kecenderungan yang lebih kuat untuk memilih kue-kue tradisional.

Selain kategori tersebut, menu favorit lain yang selalu dicari meliputi gorengan, buah kurma, dessert kekinian, hingga makanan berat seperti nasi dan lontong.

​Meskipun aktivitas pembelian secara langsung di pedagang kaki lima masih menjadi pilihan mayoritas, tren digital juga mulai memberikan pengaruh besar terhadap omzet pedagang.

Putra menambahkan bahwa sekitar sepertiga responden, yang didominasi oleh perempuan, mengaku lebih memilih membeli takjil melalui aplikasi pesan makanan online, media sosial, atau aplikasi pesan instan. Peluang pasar digital ini diprediksi akan terus tumbuh seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang menginginkan kepraktisan.

​Survei bertajuk “Berburu Takjil Menurut Gen Z dan Milenial” ini sendiri dilakukan pada 18-19 Februari 2025 melalui platform PopSurvey. Penelitian tersebut melibatkan 1.000 responden milenial dan Gen Z dengan proporsi gender yang seimbang.

Mayoritas responden atau sebanyak 93% beragama Islam dan berasal dari tingkat ekonomi menengah ke atas, yang memberikan gambaran komprehensif mengenai perilaku konsumen selama bulan Ramadan di Indonesia.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Metrodata Electronics Perkuat Talenta Digital Sebagai Fondasi Transformasi AI di Indonesia

PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), emiten Teknologi Informasi (TI) dan peralatan komunikasi terbesar di Indonesia, kini tengah mengoptimalkan pemanfaatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img