Greenvolt Power Indonesia bersama PT Cahaya Alam Sejati secara resmi memulai babak baru dalam pemanfaatan energi terbarukan melalui peresmian commercial operation date pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di fasilitas produksi yang berlokasi di Kawasan Industri Medan (KIM).
Langkah strategis ini menandai penggunaan sumber energi bersih pertama bagi PT Cahaya Alam Sejati sejak mulai beroperasi lebih dari dua dekade silam. Dengan kapasitas terpasang sebesar 372 kWp, infrastruktur hijau ini diproyeksikan mampu mereduksi emisi karbon hingga 412 ton CO₂e setiap tahunnya.
Sebagai produsen kemasan dus karton yang menyuplai sektor FMCG, agribisnis, elektronik, hingga e-commerce, PT Cahaya Alam Sejati menyadari bahwa industri pengemasan kini memegang peran vital dalam menentukan jejak karbon produk akhir, terutama pada kategori emisi tidak langsung atau Scope 3. Inisiatif dekarbonisasi ini menjadi jawaban atas meningkatnya standar keberlanjutan yang ditetapkan oleh para pelanggan global dalam memilih mitra produksi mereka.
Operational General Manager PT Cahaya Alam Sejati, Edwin Tiaras, menjelaskan bahwa transisi menuju energi surya adalah bagian dari visi jangka panjang untuk menjaga stabilitas operasional di tengah tuntutan pasar yang semakin hijau. Beliau menekankan pentingnya kemitraan dalam mencapai target tersebut.
“Transisi ini kami jalankan melalui kolaborasi yang konstruktif dengan Greenvolt Power Indonesia, sehingga solusi yang dihadirkan benar-benar relevan dengan kebutuhan produksi kami. Pengoperasian PLTS atap ini memungkinkan kami meningkatkan efisiensi energi sambil berkontribusi pada upaya pelanggan kami dalam menurunkan jejak karbon rantai pasok mereka,” ujar Edwin.
Kehadiran PLTS atap ini juga memperkuat posisi Kawasan Industri Medan dalam mentransformasi ekosistemnya menuju praktik kawasan industri hijau. Bagi Greenvolt Power Indonesia, proyek ini menjadi bukti nyata komitmen mereka sebagai mitra strategis yang membawa keahlian global selama 20 tahun ke dalam dinamika pasar lokal. Solusi yang ditawarkan dirancang secara spesifik untuk memenuhi karakteristik unik dari setiap fasilitas industri tanpa mengganggu jalannya produksi.
Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia, Bobby Benly, menegaskan bahwa pendekatan perusahaan selalu menitikberatkan pada kolaborasi jangka panjang yang terukur. Menurutnya, setiap pelaku industri memiliki profil konsumsi energi yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang personal.
“Kami memahami bahwa setiap fasilitas industri memiliki karakteristik operasional, profil konsumsi energi, dan target bisnis yang berbeda. Peran kami adalah menjadi partner yang membantu klien mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam strategi bisnis mereka secara berkelanjutan dan terukur,” ungkap Bobby.
Lebih lanjut, Bobby menambahkan bahwa implementasi teknologi ini sangat efisien karena memanfaatkan infrastruktur atap pabrik yang sudah tersedia. Menariknya, transisi energi ini dapat dilakukan tanpa memerlukan belanja modal awal maupun biaya operasional bagi pihak industri.
Dengan adanya proyek ini, diharapkan muncul efek domino bagi perusahaan lain di Sumatera Utara untuk segera memulai langkah dekarbonisasi demi menjaga daya saing di pasar internasional yang semakin ketat terhadap isu lingkungan.




