Penelitian terbaru Kaspersky menunjukkan pergeseran kuat dalam cara masyarakat menyimpan data pribadi, dengan generasi Z dan milenial semakin mengandalkan media digital, sementara kelompok usia yang lebih tua masih mempertahankan metode konvensional berupa catatan fisik.
Berdasarkan riset yang dilakukan pusat riset pasar Kaspersky pada November 2025 terhadap 3.000 responden di 15 negara, mayoritas masyarakat kini memilih menyimpan informasi sensitif secara elektronik. Sebanyak 84% responden mengaku menyimpan data pribadi penting seperti KTP, informasi keuangan, data kesehatan, hingga arsip foto dalam format digital.
Tren ini terlihat lebih kuat pada kelompok usia 18 hingga 34 tahun. Di rentang usia tersebut, angka penyimpanan digital melonjak menjadi 90%, mencerminkan tingkat digitalisasi yang sangat tinggi di kalangan generasi muda.
Sebaliknya, hanya 16% responden secara umum yang masih sepenuhnya mengandalkan salinan fisik. Angka ini meningkat signifikan pada kelompok usia di atas 55 tahun, di mana hampir 30% responden masih memilih cara tradisional dengan menuliskan data penting di kertas atau catatan.
Dalam hal media penyimpanan, lebih dari separuh responden global atau 56% menyimpan data penting di komputer maupun perangkat keras seperti hard drive, sementara 45% menggunakan layanan cloud dan 20% mempercayakan penyimpanan kepada layanan digital pemerintah.
Khusus di Indonesia, pola penggunaan media digital tercatat lebih tinggi. Sebanyak 61% responden menyimpan data penting di komputer atau perangkat keras, 61% lainnya menggunakan solusi cloud, dan 14% memanfaatkan layanan digital pemerintah.
Meski demikian, Kaspersky mengingatkan bahwa digitalisasi tidak serta-merta berarti lebih aman. Setiap metode penyimpanan memiliki risiko tersendiri, mulai dari media fisik yang rawan hilang atau rusak, perangkat eksternal yang kurang praktis saat bepergian, hingga layanan cloud yang berpotensi menjadi sasaran akses tidak sah.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, Kaspersky merekomendasikan penerapan strategi pencadangan 3-2-1, yakni memiliki setidaknya tiga salinan data penting, menyimpannya di dua jenis media berbeda, serta satu salinan di lokasi terpisah seperti cloud atau penyimpanan fisik eksternal.
Selain itu, perusahaan keamanan siber tersebut juga menekankan pentingnya perlindungan tambahan untuk data sensitif seperti kata sandi, dokumen identitas, dan detail keuangan melalui penggunaan pengelola kata sandi dengan fitur brankas digital.
Menurut data Kaspersky, 98% responden telah mengambil setidaknya satu langkah untuk melindungi data pribadi mereka. Namun, masih ada 36% yang menggunakan kata sandi sederhana dan mudah diingat, yang dinilai rentan terhadap serangan brute force.
Karena itu, Kaspersky menyarankan pengguna untuk mengaktifkan otentikasi dua faktor (2FA) atau menggunakan teknologi passkey guna meningkatkan keamanan akses ke data digital.
Di sisi lain, fitur pencadangan otomatis juga dinilai menjadi solusi praktis agar pengguna tidak lalai melakukan backup secara berkala. Layanan seperti iCloud, Google Drive, maupun OneDrive disebut dapat membantu menjaga data tetap aman dan mudah dipulihkan saat dibutuhkan.
“Kita semua tahu bahwa pencadangan itu penting, tetapi sebagian besar dari kita tidak pernah melakukannya karena kita mencoba mencadangkan semuanya sekaligus dan itu menjadi sangat merepotkan. Pendekatan yang lebih cerdas? Terapkan pencadangan seperti alur kerja lainnya. Beri tag pada file Anda – penting, kritikal, prioritas rendah. Otomatiskan pencadangan waktu nyata untuk hal-hal penting, jadwalkan pencadangan mingguan atau bulanan untuk sisanya. Dan untuk data sensitif seperti kata sandi dan ID, gunakan solusi khusus kami dengan brankas rahasia untuk menjaganya tetap aman. Ketika Anda mengotomatiskan dan memprioritaskan, Anda melindungi apa yang benar-benar penting tanpa menjadi kewalahan,” ujar Marina Titova, Wakil Presiden untuk Bisnis Konsumen di Kaspersky.
Riset ini mempertegas bahwa transformasi digital telah mengubah perilaku penyimpanan data lintas generasi, dengan generasi muda menjadi motor utama adopsi teknologi, sementara aspek keamanan tetap menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.




