Langkah transisi energi di sektor perhotelan nasional kian konkret. Fairfield by Marriott Bali Kuta Sunset Road mulai mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 134,42 kWp sebagai bagian dari strategi efisiensi energi sekaligus pengurangan emisi karbon.
Implementasi ini menjadikan properti tersebut sebagai salah satu hotel dalam jaringan Marriott International di Indonesia yang mulai mengintegrasikan energi terbarukan dalam operasionalnya. Proyek ini dijalankan melalui kemitraan dengan Greenvolt Power Indonesia, yang menyediakan solusi energi berbasis kebutuhan bisnis.
Secara hitungan, penggunaan PLTS ini berpotensi menekan emisi hingga 146.923 kilogram karbon dioksida per tahun. Angka tersebut setara dengan kontribusi penyerapan karbon oleh ribuan pohon, sekaligus memperkuat posisi hotel dalam memenuhi standar keberlanjutan global yang semakin ketat.
General Manager Fairfield by Marriott Bali Kuta Sunset Road, Eric Gozal, menyebut adopsi energi surya sebagai langkah strategis yang melengkapi berbagai inisiatif ramah lingkungan yang telah dijalankan sebelumnya.
“Sejalan dengan berbagai inisiatif ramah lingkungan yang telah kami lakukan, seperti penghapusan penggunaan plastik sekali pakai, adopsi energi surya menjadi suatu langkah penting bagi Fairfield dalam mengelola energi sekaligus mengurangi jejak lingkungan,” ujarnya dalam peresmian commercial operation date (COD), Selasa (21/4).
Menurut Eric, kolaborasi dengan Greenvolt menjadi faktor kunci dalam menjaga kualitas implementasi. “Kami bangga dapat bermitra bersama Greenvolt Power Indonesia dalam transisi ini. Pengalaman global mereka membantu kami memastikan standar internasional Marriott kami tetap terjaga, sekaligus memastikan proses transisi berjalan lancar dan terkelola dengan baik,” katanya.
Di sisi lain, Head of Operations Greenvolt Power Indonesia, Fanny Susanti, menilai bahwa adopsi energi bersih kini telah bergeser menjadi kebutuhan strategis, terutama bagi sektor dengan konsumsi energi tinggi seperti perhotelan.
“Transisi energi di kalangan pelaku usaha kini menjadi langkah strategis untuk memastikan ketahanan bisnis jangka panjang, bukan lagi sekadar pilihan untuk lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemudahan skema pembiayaan menjadi pendorong utama percepatan adopsi. Skema tanpa investasi awal (zero-capex) hingga tanpa biaya operasional tambahan (zero-opex) dinilai mampu membuka akses lebih luas bagi pelaku usaha untuk beralih ke energi terbarukan tanpa membebani arus kas.
Inisiatif ini juga menjadi bagian dari agenda keberlanjutan global Marriott, Serve 360, yang mendorong efisiensi energi dan pengurangan emisi di seluruh jaringan hotelnya. Ke depan, kolaborasi serupa diproyeksikan semakin masif, seiring meningkatnya tuntutan pasar global terhadap praktik bisnis yang lebih hijau.
Dengan langkah ini, sektor perhotelan domestik mulai menunjukkan pergeseran arah menuju operasional rendah karbon, sekaligus memperkuat daya saing industri pariwisata Indonesia di tengah tren global yang semakin menitikberatkan aspek keberlanjutan.




