Kamis, April 30, 2026

Bisnis Mobil Bekas Mengilap, ASLC Catat Pertumbuhan Pendapatan 27%

Must Read

PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) mencatatkan awal tahun yang positif di tengah kondisi industri otomotif yang masih menghadapi tekanan daya beli dan ketidakpastian ekonomi. Perseroan membukukan pendapatan Rp283,6 miliar pada kuartal I-2026, tumbuh 27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp222,5 miliar.

Pertumbuhan ini terutama digerakkan oleh bisnis penjualan mobil bekas melalui Caroline.id yang kini menjadi tulang punggung utama kinerja Perseroan. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, Caroline.id mencatatkan pendapatan Rp234,4 miliar atau melonjak 51% secara tahunan dari Rp154,8 miliar pada kuartal I-2025.

Yang lebih penting, unit bisnis tersebut untuk pertama kalinya berhasil mencetak laba operasi sebesar Rp2,6 miliar. Capaian ini menjadi titik penting bagi ASLC, mengingat bisnis omnichannel mobil bekas selama ini masih berada dalam tahap pengembangan dan ekspansi.

Presiden Direktur PT Autopedia Sukses Lestari Tbk, Jany Candra, mengatakan pencapaian tersebut menunjukkan bahwa strategi transformasi digital dan penguatan jaringan cabang mulai membuahkan hasil.

“Peningkatan pendapatan yang signifikan ini semakin bermakna karena telah membuat unit bisnis Caroline.id membukukan laba operasi pertama sebesar Rp2,6 miliar. Ini juga menjadi petunjuk bagi kami, bahwa Perseroan telah berada di jalur yang tepat untuk mencapai visi menjadi omnichannel automotive marketplace yang paling terpercaya di Tanah Air,” ujar Jany.

Kontribusi dominan Caroline.id sekaligus menggeser peta bisnis ASLC yang sebelumnya lebih banyak ditopang unit lelang JBA. Pada kuartal pertama 2026, bisnis lelang JBA justru mengalami kontraksi dengan pendapatan Rp50,1 miliar, turun dari Rp66,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini mencerminkan tekanan yang masih membayangi sektor otomotif nasional. Melemahnya penjualan mobil baru sepanjang 2025 berdampak pada terbatasnya suplai mobil bekas yang masuk ke pasar lelang.

Di saat yang sama, sikap konservatif perusahaan pembiayaan dan perbankan dalam menyalurkan kredit kendaraan turut mempersempit perputaran aset di pasar sekunder.

“Peningkatan kehati-hatian lembaga pembiayaan dalam menyalurkan pinjaman membuat jumlah kredit kepemilikan mobil yang dicairkan menurun, dan tentu saja akibatnya semakin sedikit juga jumlah mobil yang ditarik untuk kemudian dilelang karena gagal bayar,” kata Jany.

Namun, ASLC menilai tekanan pada bisnis lelang bukan kondisi permanen. Perseroan memperkirakan suplai kendaraan bekas akan kembali meningkat seiring mulai bergesernya kepemilikan kendaraan konvensional dan kendaraan listrik di pasar.

Untuk menjaga momentum, JBA juga mulai memperluas kategori lelang ke luar sektor otomotif, termasuk perangkat elektronik seperti komputer dan laptop. Diversifikasi ini diharapkan menjadi bantalan tambahan bagi kinerja unit lelang di tengah siklus industri kendaraan yang melambat.

Sementara itu, lini bisnis baru Perseroan melalui MotoGadai mulai menunjukkan kontribusi awal. Pada kuartal pertama tahun ini, unit pegadaian tersebut menyumbang pendapatan Rp527,6 juta. Nilainya memang masih terbatas, tetapi menjadi indikasi awal bahwa diversifikasi bisnis ASLC mulai berjalan.

Manajemen melihat ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik masih menjadi tantangan utama sepanjang tahun ini. Karena itu, fokus Perseroan diarahkan pada penguatan bisnis inti, khususnya Caroline.id yang dinilai memiliki ruang pertumbuhan lebih besar di tengah tren konsumen yang mulai beralih ke mobil bekas berkualitas.

Jany menegaskan, meski kinerja awal tahun cukup kuat, Perseroan belum ingin berpuas diri. Menurut dia, masih ada banyak ruang perbaikan, terutama dalam meningkatkan kualitas layanan di seluruh jaringan cabang.

“Tentu saja patut kita syukuri bahwa business model Caroline.id sebagai omnichannel mobil bekas mulai memberikan hasil. Namun demikian, kami sadar sebagai model bisnis yang relatif baru dan masih dalam tahap pengembangan, masih banyak hal yang perlu ditingkatkan. Oleh karenanya tidak boleh berpuas diri, kami justru akan semakin giat meningkatkan kemampuan dan layanan dari setiap cabang yang ada. Dengan kinerja entitas bisnis yang semakin solid, kami optimis target pertumbuhan pendapatan 2-digit akan dapat dicapai pada tahun 2026,” tutupnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Bank Neo Commerce Kantongi Laba Rp136,98 Miliar, Permodalan Menguat di Awal 2026

PT Bank Neo Commerce memulai 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp136,98 miliar pada kuartal I/2026. Kinerja positif ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img