Peneliti Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, Murniati Mukhlisin, menekankan pentingnya redefinisi ibadah kurban agar tidak hanya dipahami sebagai ritual tahunan semata, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam membangun ketahanan pangan dan keadilan ekonomi nasional. Melalui konsep “Green & Blockchain Kurban”, ia menawarkan model integratif yang memadukan prinsip syariah dengan teknologi modern untuk menciptakan sistem kurban yang transparan, amanah, dan berkelanjutan.
Murniati menjelaskan bahwa teknologi blockchain digunakan untuk membangun trust architecture melalui pencatatan transaksi yang bersifat permanen atau immutable. Sistem ini juga memungkinkan pelacakan hewan kurban melalui QR Code sehingga shohibul kurban dapat memantau proses distribusi secara lebih akuntabel.
Selain blockchain, model tersebut memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), satelit, dan big data untuk memetakan wilayah rawan pangan secara presisi. Dengan pendekatan ini, distribusi daging kurban diharapkan tidak lagi menumpuk di wilayah perkotaan, tetapi dapat menjangkau daerah yang benar-benar membutuhkan.
Konsep Green & Blockchain Kurban juga mengedepankan ekonomi sirkular melalui pengelolaan limbah ternak menjadi biogas dan pupuk organik. Bahkan, terdapat program “satu hewan satu pohon” sebagai bagian dari upaya pemulihan ekologi dan pengurangan dampak lingkungan.
Menurut Murniati, implementasi teknologi ini memang memerlukan investasi awal yang cukup besar, diperkirakan mencapai Rp2,25 miliar per tahun. Namun, investasi tersebut diyakini mampu meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus memperkuat kepercayaan filantropi global dalam jangka panjang.
“Ketika teknologi dipadukan dengan nilai syariah, kurban menjadi instrumen pemberdayaan sosial-ekonomi yang berdampak nyata bagi umat dan lingkungan,” ujar Murniati yang akrab disapa Madam Ani.
Lebih lanjut, ekosistem ini dirancang agar terintegrasi dengan Halal Value Chain, yang menghubungkan ibadah kurban dengan berbagai sektor ekonomi syariah. Mulai dari tabungan emas kurban, pariwisata ramah Muslim, hingga pemanfaatan produk turunan seperti gelatin untuk industri farmasi dan kosmetik.
Dengan pendekatan komprehensif tersebut, kurban dinilai dapat bertransformasi menjadi instrumen filantropi digital yang transparan sekaligus mampu menjawab tantangan global, seperti pengentasan kelaparan dan pengurangan ketimpangan ekonomi nasional.




