Rabu, Juni 10, 2026

Indonesia Turun ke Posisi Empat SGIE 2025–2026, Apa Penyebabnya?

Must Read

Indonesia mengalami penurunan peringkat dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025–2026, dari posisi ketiga menjadi peringkat keempat dunia. Meski memiliki potensi pasar halal yang besar dan masih menjadi pemain utama di sejumlah sektor ekonomi syariah, capaian tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam memperkuat industri halal dan ekosistem ekonomi syariah nasional.

Isu tersebut menjadi sorotan dalam Diskusi Publik INDEF bertajuk “SGIE Indonesia Merosot: Evaluasi Kebijakan dan Industri Halal Nasional”.

Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, Nur Hidayah, menilai bahwa penurunan peringkat Indonesia mencerminkan adanya kesenjangan antara potensi ekonomi syariah nasional dengan kekuatan ekosistem pendukung yang ada saat ini.

Menurut Nur, Indonesia masih menunjukkan performa kuat pada sejumlah sektor. Indonesia menempati peringkat pertama dunia dalam sektor modest fashion, serta berada di posisi keempat untuk sektor wisata ramah Muslim, farmasi halal, dan kosmetik halal. Namun, pada sektor keuangan syariah, Indonesia masih berada di peringkat keenam dunia.

“Situasi ini menunjukkan adanya paradoks. Indonesia memiliki kekuatan pada sektor riil ekonomi syariah, tetapi belum didukung oleh sektor keuangan syariah yang mampu menjadi penggerak utama bagi perkembangan industri halal nasional,” ujar Nur Hidayah.

Ia menjelaskan, hingga saat ini masih banyak pelaku UMKM yang telah mengantongi sertifikat halal namun tetap menggunakan pembiayaan konvensional. Hal tersebut terjadi karena layanan keuangan syariah dinilai belum cukup kompetitif dan belum menjadi pilihan utama bagi para pelaku usaha. Selain itu, regulasi halal yang ada masih lebih berfokus pada aspek bahan baku dan proses produksi, sementara aspek pembiayaan halal belum terintegrasi secara optimal.

Nur menegaskan, penguatan ekosistem halal harus dilakukan secara menyeluruh melalui integrasi rantai halal dari hulu hingga hilir. Menurutnya, sektor keuangan syariah harus memainkan peran lebih besar dalam mendukung pertumbuhan industri halal nasional.

Untuk mencapai tujuan tersebut, INDEF mendorong adanya strategi nasional yang lebih terkoordinasi antarlembaga, pemberian insentif pembiayaan bagi UMKM halal, serta penguatan berbagai instrumen keuangan syariah. Selain itu, pangsa pasar keuangan syariah yang saat ini masih berada di kisaran 11 persen perlu ditingkatkan menjadi 15 hingga 20 persen.

“Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya menjadi konsumen halal terbesar di dunia, tetapi juga menjadi salah satu pusat pengelolaan keuangan syariah global,” kata Nur.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

KB Bank Gelontorkan Rp720 miliar Kepada MGM Bosco Logistics untuk Memperkuat Ekosistem Rantai Dingin Nasional

PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) menegaskan komitmennya untuk mendukung pertumbuhan sektor riil melalui penyediaan fasilitas pembiayaan hingga...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img