Senin, Agustus 31, 2026

SBI Holdings Suntik US$270 Juta ke Ajaib, Sinyal Baru Modal Global ke Teknologi RI

Must Read

Modal asing kembali mengalir deras ke sektor teknologi Indonesia. Kali ini, SBI Holdings, raksasa keuangan asal Jepang, menggelontorkan investasi strategis sebesar US$270 juta atau sekitar Rp4,8 triliun ke Ajaib.

Investasi tersebut menjadi pendanaan terbesar yang diterima perusahaan teknologi Indonesia dalam lebih dari empat tahun terakhir. Dengan tambahan modal ini, total pendanaan yang telah dihimpun Ajaib sejak berdiri pada 2019 kini telah melampaui US$500 juta atau sekitar Rp8,9 triliun.

Besarnya nilai investasi menjadi sorotan karena datang ketika pendanaan startup teknologi global masih menghadapi tekanan. Bagi Ajaib, masuknya SBI Holdings bukan sekadar tambahan modal untuk memperbesar bisnis, tetapi juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi digital Indonesia.

Co-Founder dan CEO Ajaib Anderson Sumarli mengatakan investasi tersebut pada akhirnya ditujukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap investasi, terutama kelompok investor pemula yang selama ini menjadi basis utama nasabah Ajaib.

“Kalau ditanya investasi US$270 juta ini sebenarnya untuk siapa, jawabannya sederhana: untuk teman-teman yang setiap gajian menyisihkan sedikit demi sedikit untuk nabung saham dan kripto. Ini kepercayaan dunia kepada kalian, bukan cuma kepada kami,” kata Sumarli.

Sejak meluncurkan platformnya pada 2019, Ajaib telah mengembangkan layanan investasi yang mencakup saham Indonesia, aset kripto hingga saham Amerika Serikat. Mayoritas penggunanya merupakan investor pemula, termasuk masyarakat dari kota-kota lapis kedua dan ketiga.

Model bisnis tersebut sekaligus menyasar persoalan klasik pasar modal Indonesia, yakni rendahnya akses dan literasi investasi di luar pusat-pusat ekonomi. Melalui aplikasi, masyarakat dapat membuka rekening investasi melalui telepon genggam dalam hitungan menit tanpa setoran minimum.

Potensi pasar yang dibidik pun masih sangat besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan usia median sekitar 30 tahun, Indonesia memiliki basis masyarakat produktif yang sebagian besar masih berada pada tahap awal perjalanan investasi.

Di pasar aset digital, Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan adopsi yang signifikan. Chainalysis menempatkan Indonesia dalam tujuh besar dunia untuk adopsi aset digital sekaligus menjadi negara dengan tingkat adopsi tertinggi di Asia Tenggara.

Sumarli melihat perkembangan tersebut sebagai peluang untuk membuat pertumbuhan ekonomi lebih inklusif melalui kepemilikan aset.

“Ekonomi kita tumbuh sekitar lima persen setiap tahun. Pertanyaannya, siapa yang menikmati pertumbuhan itu?” ujarnya.

Menurut dia, pasar modal dan pasar aset digital dapat menjadi salah satu sarana untuk memperluas distribusi manfaat pertumbuhan ekonomi. “Pasar modal dan pasar aset digital adalah cara terbaik untuk mendistribusikan pertumbuhan ekonomi ke semua orang karena siapa pun bisa ikut memiliki dan tumbuh bersama perusahaan serta aset, di Indonesia maupun di seluruh dunia,” katanya.

Masuknya SBI Holdings juga memperkuat daftar investor global di belakang Ajaib. Sebelumnya, perusahaan telah memperoleh dukungan dari Horizons Ventures milik Li Ka-shing, DST Global dan Ribbit Capital, yang dikenal memiliki portofolio investasi di perusahaan teknologi finansial global.

SBI Holdings sendiri merupakan kelompok jasa keuangan Jepang yang tercatat di Bursa Tokyo. Perusahaan tersebut didirikan oleh Yoshitaka Kitao, salah satu tokoh yang dikenal dalam perkembangan industri keuangan digital Jepang.

Ajaib menilai kepercayaan investor global terhadap Indonesia turut ditopang oleh perkembangan regulasi. Perusahaan memberikan apresiasi kepada pemerintah, Kementerian Keuangan, OJK, Bank Indonesia dan Bappebti atas kerangka regulasi yang dinilai semakin membuka ruang bagi inovasi dan investasi.

Menurut Ajaib, kepastian hukum dan pengawasan menjadi fondasi penting untuk menarik lebih banyak modal asing ke sektor teknologi nasional. Setelah fintech dan platform investasi, perusahaan berharap arus modal global berikutnya juga mengarah ke sektor strategis seperti kecerdasan buatan dan pusat data.

Dana baru tersebut juga akan digunakan untuk memperluas perekrutan Ajaib di Indonesia. Perusahaan menilai kualitas talenta dalam negeri mampu bersaing dengan sumber daya manusia teknologi terbaik di dunia.

Meski dana investasi akan dialokasikan ke sejumlah lini bisnis Ajaib di Asia Tenggara, perusahaan menegaskan Indonesia tetap menjadi prioritas utama.

“Harapan kami, porsi terbesar dari investasi ini terus tertanam di Indonesia,” ujar Sumarli.

Ia menambahkan, komitmen tersebut akan terus diperbesar sepanjang pemerintah dan regulator mempertahankan ruang bagi inovasi. “Kami berkomitmen untuk terus membangun bersama Indonesia,” katanya.

Di tengah derasnya minat masyarakat terhadap saham dan kripto, Ajaib juga menghadapi pekerjaan rumah untuk memastikan pertumbuhan jumlah investor berjalan beriringan dengan literasi keuangan.

“Cuan itu datang dari sabar, belajar, dan konsisten, bukan dari FOMO,” kata Sumarli.

Dengan suntikan US$270 juta dari SBI Holdings, Ajaib kini bukan hanya mendapatkan amunisi untuk berekspansi. Perusahaan juga membawa ekspektasi lebih besar bahwa startup teknologi Indonesia mampu naik kelas, menarik modal global dalam skala jumbo, sekaligus mengubah pertumbuhan ekonomi digital menjadi kepemilikan aset yang lebih luas di masyarakat.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Harga Emas Tertekan Prospek Kenaikan Suku Bunga The Fed, Investor Waspadai NFP

JAKARTA – Harga emas kembali menghadapi tekanan pada awal pekan. Harga emas dibuka melemah ke level US$4.456 per troy...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img