Rabu, September 2, 2026

Harga Batubara Jadi Penyelamat, Laba PTBA Tembus Rp2,65 Triliun

Must Read

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih menghadapi tekanan dari sisi produksi pada semester I-2026. Namun, kenaikan harga jual batubara dan strategi ekspor membuat kinerja keuangan emiten tambang tersebut tetap solid.

PTBA mencatat pendapatan usaha sebesar Rp22,03 triliun hingga Juni 2026, tumbuh 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut dicapai ketika volume penjualan justru turun 2% secara tahunan.

Penguatan harga menjadi penyelamat kinerja PTBA. Harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) perseroan naik 10% secara tahunan. Kenaikan ini sejalan dengan Newcastle Index yang melonjak 25% dan ICI-3 yang meningkat 15% secara tahunan.

Alhasil, PTBA mampu mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,65 triliun. EBITDA perseroan juga mencapai Rp4,27 triliun dengan margin laba bersih 12% dan margin EBITDA 19%.

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan pemulihan kinerja mulai terlihat lebih kuat pada kuartal II-2026. Produksi melonjak 94% secara kuartalan, sedangkan penjualan meningkat 8%. ASP juga naik 14% dibandingkan kuartal sebelumnya.

“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan,” kata Bambang dalam keterbukaan informasi kepada BEI dan OJK, Selasa (1/9/2026).

Strategi ekspor menjadi salah satu senjata PTBA untuk menangkap momentum pasar. Hingga akhir Juni 2026, porsi penjualan ekspor mencapai 49%, hanya terpaut tipis dari pasar domestik yang berkontribusi 51%.

Vietnam menjadi tujuan ekspor terbesar PTBA, disusul Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. Penguatan harga komoditas sekaligus penetrasi pasar ekspor membuat penurunan volume penjualan belum menjadi pukulan besar terhadap pendapatan.

“Di tengah momentum penguatan harga batubara global, Perseroan mampu mengoptimalkan peluang pasar melalui strategi penjualan yang adaptif, yang didukung oleh pelaksanaan program efisiensi secara cermat dan tepat sasaran,” ujar Bambang.

Meski demikian, tekanan di sektor operasional belum sepenuhnya hilang. Produksi batubara PTBA sepanjang semester I-2026 masih turun 10% secara tahunan. Volume angkutan juga terkoreksi 6%.

Tekanan lainnya datang dari biaya bahan bakar. Konflik di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 membuat harga BBM yang digunakan perseroan naik menjadi Rp19.503 per liter hingga akhir Juni 2026, atau melonjak 34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan harga BBM berpotensi mengerek biaya jasa penambangan dan angkutan kereta api. Namun, PTBA mampu menahan beban pokok pendapatan pada Rp17,78 triliun, turun 2% YoY.

Efisiensi juga terlihat dari stripping ratio yang turun menjadi 5,26 kali, dibandingkan 6,17 kali pada semester I-2025.

Di tengah tekanan tersebut, arus kas operasi justru melonjak. Kas bersih dari aktivitas operasi mencapai Rp4,63 triliun, naik 108% dari Rp2,22 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan terutama didorong oleh meningkatnya penerimaan dari pelanggan.

PTBA juga terus menggelontorkan investasi untuk memperkuat infrastruktur logistik batubara. Sampai Juni 2026, realisasi belanja modal mencapai Rp1,09 triliun atau 30% dari target setahun penuh sebesar Rp3,64 triliun. Mayoritas dana tersebut digunakan untuk pengembangan angkutan batubara relasi Tanjung Enim-Kramasan.

Secara neraca, total aset PTBA meningkat 10% menjadi Rp48,10 triliun per 30 Juni 2026. Ekuitas juga naik 12% menjadi Rp25,34 triliun, sementara liabilitas meningkat 7% menjadi Rp22,76 triliun.

Untuk tahun ini, PTBA masih membidik produksi 49,55 juta ton dan penjualan 49,51 juta ton. Target angkutan ditetapkan sebesar 41 juta ton dengan stripping ratio 5,63 kali. Perseroan mengalokasikan capex sebesar Rp3,64 triliun.

Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno menilai perbaikan operasional dan peningkatan ekspor menjadi sinyal positif bagi kinerja perseroan hingga akhir tahun.

“Pemulihan kinerja operasional serta peningkatan penjualan ekspor menunjukkan kemampuan Perseroan dalam menjaga momentum pertumbuhan dan merespons dinamika pasar secara adaptif,” kata Eko.

PTBA pun masih mengandalkan efisiensi dan disiplin operasional sebagai tameng menghadapi volatilitas harga komoditas dan kenaikan biaya produksi.

“Dengan disiplin operasional dan pengelolaan bisnis yang prudent, Perseroan optimistis dapat menjaga kinerja yang sehat dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” pungkasnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Setelah Defisit, Neraca Dagang Indonesia Kembali Surplus US$120 Juta

Neraca perdagangan Indonesia kembali ke zona surplus pada Juli 2026. Setelah sempat mengalami defisit US$450 juta pada Juni, neraca...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img