Jumat, Agustus 28, 2026

PLTS 100 GWp Dikebut, Pemerintah Incar Efisiensi BBM dan Ekonomi Desa

Must Read

Pemerintah mulai mengakselerasi pengembangan energi surya nasional melalui program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas total 100 Giga Watt peak (GWp). Program tersebut tak hanya diarahkan untuk memperbesar pasokan energi bersih, tetapi juga menekan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) dan mendorong aktivitas ekonomi di daerah.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan pembangunan program PLTS 100 GWp di Monumen Operasi Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8). Dalam agenda tersebut, pemerintah juga meresmikan sejumlah proyek PLTS di berbagai daerah, termasuk PLTS Desa berkapasitas 1 MWp di Pulau Sembur, Batam, Kepulauan Riau yang dikembangkan oleh Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE).

Program PLTS 100 GWp menjadi bagian dari strategi pemerintah mempercepat pemanfaatan energi terbarukan sekaligus memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional. Prabowo menilai peningkatan kapasitas energi bersih merupakan langkah penting untuk membuat Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya.

“Dengan 100 GW, kita akan menjadi bangsa yang benar-benar berdiri di atas kaki sendiri,” ujar Prabowo dalam peresmian di Monumen Operasi, Gilimanuk, Bali, Selasa (25/8).

Besarnya kapasitas yang dibidik pemerintah menunjukkan bahwa energi surya mulai ditempatkan sebagai salah satu instrumen utama dalam agenda ketahanan energi nasional. Namun, implementasi di lapangan menjadi faktor penting agar ambisi tersebut tidak berhenti pada penambahan kapasitas pembangkit.

PLTS Pulau Sembur menjadi salah satu gambaran bagaimana proyek energi terbarukan diarahkan untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengatakan proyek tersebut merupakan bentuk kolaborasi Pertamina dengan Kementerian ESDM, Kementerian Koperasi, serta pemerintah daerah.

“Hari ini kita menyaksikan visi kemandirian energi mulai terwujud. Pertamina bersama Kementerian ESDM, Kementerian Koperasi, dan pemerintah daerah berhasil menghadirkan PLTS 1 MWp di Pulau Sembur, sekaligus memperkuat peran koperasi dan membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi desa,” kata Oki.

PLTS Pulau Sembur memiliki kapasitas 1 MWp dan dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 1 MWh. Proyek tersebut mulai memasuki tahapan pembangunan sejak groundbreaking pada 20 Desember 2025. Konstruksi dimulai pada 13 Maret 2026 dan commissioning dilakukan pada 17 Agustus 2026.

Sekretaris Ditjen EBTKE ESDM Haris mengatakan pengembangan PLTS membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Pulau Sembur menjadi salah satu proyek percontohan dalam pelaksanaan program PLTS 100 GWp.

“Kolaborasi perlu terus diperkuat dengan melibatkan seluruh stakeholder untuk menyukseskan program 100 GWp. Karena kehadiran PLTS membawa manfaat nyata bagi masyarakat, seperti di Pulau Sembur yang kini dapat menikmati listrik 24 jam,” ujar Haris.

Sebelum adanya PLTS, masyarakat Pulau Sembur yang belum terhubung dengan listrik masih mengandalkan genset pribadi. Pasokan listrik dari genset tersebut hanya tersedia sekitar tiga hingga empat jam pada malam hari.

Dengan hadirnya PLTS, sekitar 200 kepala keluarga dapat memperoleh akses listrik, termasuk 158 rumah. Selain rumah tangga, pembangkit tersebut juga ditujukan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas umum serta menunjang aktivitas ekonomi masyarakat.

Direktur Utama Pertamina NRE John Anis mengatakan proyek Pulau Sembur dirancang dengan konsep productive use of energy. Artinya, listrik yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga diarahkan menjadi modal bagi kegiatan ekonomi masyarakat.

“PLTS Pulau Sembur menjadi contoh bagaimana energi bersih dapat menjadi penggerak aktivitas produktif masyarakat. Kehadiran listrik yang lebih andal akan mendukung pengembangan cold storage, ice maker, dan aktivitas ekonomi koperasi serta nelayan,” ujar John.

Untuk memperkuat rantai pasok hasil perikanan, proyek tersebut dilengkapi ice maker berkapasitas 4 ton per hari dan cold storage berkapasitas 5 ton. Fasilitas ini diharapkan membantu nelayan mempertahankan kualitas hasil tangkapan sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi produk perikanan.

Dari sisi efisiensi energi, penggunaan PLTS juga diperkirakan mampu memangkas konsumsi BBM hingga sekitar 877 liter per hari atau sekitar 320.000 liter per tahun. Penghematan biaya BBM diproyeksikan mencapai sekitar Rp3,5 miliar hingga Rp5 miliar per tahun.

Potensi penghematan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan energi surya di wilayah terpencil tidak hanya berkaitan dengan isu transisi energi. Pergeseran dari genset berbahan bakar minyak ke pembangkit surya juga dapat mengurangi biaya operasional sekaligus meningkatkan keandalan pasokan listrik.

Program 100 GWp yang dicanangkan pemerintah pada akhirnya akan diuji oleh kemampuan proyek-proyek tersebut menciptakan dampak nyata. Selain mengejar kapasitas pembangkit, pemerintah perlu memastikan infrastruktur pendukung, penyimpanan energi, jaringan listrik, serta pemanfaatan produktif dapat berjalan beriringan.

Model Pulau Sembur menjadi salah satu contoh bahwa pengembangan energi terbarukan dapat diarahkan lebih jauh dari sekadar menyediakan listrik. Energi bersih dapat menjadi pengungkit ekonomi lokal, mengurangi konsumsi BBM, dan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BEI Luncurkan IDX Green Equity Designation untuk Perkuat Ekosistem Keuangan di Lantai Bursa

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan IDX Green Equity Designation (Penetapan Saham Berbasis Hijau) sebagai salah satu langkah strategis...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img