Kamis, Agustus 20, 2026

Panas Bumi Dinilai Strategis untuk Dorong Hilirisasi dan Ketahanan Energi

Must Read

Indonesia mempunyai potensi besar panas bumi yang dapat melengkapi sumber pembangkit energi terbarukan variabel seperti tenaga surya dan angin dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan.

Pengembangan panas bumi memiliki posisi penting dalam agenda penguatan ketahanan energi, terlebih di tengah meningkatnya kebutuhan listrik untuk mendukung industrialisasi dan hilirisasi.

Hal tersebut disampaikan Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno pada “Workshop on Energy Security: The Potential of Geothermal Energy” di Jakarta, Selasa (18/8/2026).

“Pemerintah berkomitmen untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai fondasi penting bagi sistem energi yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” ujar Tri.

Menurutnya, arah pengembangan ketenagalistrikan nasional telah diperkuat melalui Kebijakan Energi Nasional (KEN), Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025–2060, dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Ketiga dokumen tersebut menjadi landasan transformasi sistem ketenagalistrikan menuju sistem yang lebih andal, berkelanjutan, dan resilien.

Dalam sistem kelistrikan nasional, panas bumi memiliki keunggulan karena dapat menyediakan pasokan listrik secara stabil. Hingga semester I 2026, panas bumi berkontribusi sekitar 4% terhadap produksi listrik nasional.

Karakteristik tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan variabel atau Variable Renewable Energy (VRE), seperti tenaga surya dan angin. Panas bumi sebagai Stable Renewable Energy dapat berperan dalam menjaga keseimbangan dan keandalan sistem ketika penetrasi pembangkit VRE terus meningkat.

“Energi Terbarukan yang stabil, termasuk panas bumi, akan memainkan peran penting dalam menjaga keandalan dan resiliensi sistem,” ungkap Tri.

Workshop ini merupakan forum yang diinisiasi oleh New Zealand bersama dengan negara ASEAN yang tergabung dalam forum East Asia Summit (EAS) yang akan berperan sebagai co-host dalam workshop yaitu Filipina dan Indonesia. Workshop bermanfaat dalam pengembangan energi bersih yaitu panas bumi, dimana Indonesia dan Filipina merupakan 2 negara ASEAN pemilik potensi panas bumi terbesar di ASEAN.

Sedangkan New Zealand sendiri merupakan negara anggota East Asia Summit (EAS) atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Timur yang memiliki potensi dan teknologi dibidang panas bumi. (RO)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Okupansi Kantor CBD Jakarta Naik, Gedung Premium Jadi Rebutan Penyewa

Pasar perkantoran Jakarta mulai memasuki fase pemulihan, meski laju perbaikannya masih berjalan terbatas. Laporan terbaru Colliers menunjukkan tingkat okupansi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img