PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics) mencatat tingkat okupansi fasilitas pergudangan terintegrasi di Osowilangun, Surabaya, mencapai 82%. Tingginya utilisasi tersebut menjadi sinyal meningkatnya kebutuhan industri terhadap fasilitas logistik yang terhubung dengan jalur perdagangan Jawa Timur dan Indonesia Timur.
Fasilitas Osowilangun memiliki luas kompleks mencapai 140.000 meter persegi, termasuk Pusat Logistik Berikat (PLB) seluas 20.000 meter persegi. CKB Logistics mengoperasikan fasilitas tersebut sebagai hub yang mengintegrasikan pergudangan, pengelolaan persediaan, penanganan barang, layanan kepabeanan hingga distribusi.
Penguatan kapasitas logistik tersebut berlangsung ketika sektor transportasi dan pergudangan masih mencatat pertumbuhan kuat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor Transportasi dan Pergudangan tumbuh 6,81% secara kumulatif pada semester I-2026. Pada triwulan II-2026, sektor ini memberikan kontribusi 6,16% terhadap struktur Produk Domestik Bruto (PDB).
Secara tahunan, sektor Transportasi dan Pergudangan tumbuh 8,04% pada triwulan I-2026 dan 5,65% pada triwulan II-2026. Supply Chain Indonesia juga memproyeksikan sektor tersebut mencapai Rp1.713,24 triliun pada 2027 atau tumbuh 7,69%.
Direktur Utama CKB Logistics Iman Sjafei mengatakan pertumbuhan aktivitas ekonomi di Jawa Timur turut menciptakan kebutuhan terhadap infrastruktur logistik yang mampu menghubungkan pusat produksi dengan pasar yang lebih luas.
“Fasilitas Osowilangun bukan sekadar ruang gudang. Fasilitas ini merupakan simpul yang menghubungkan kebutuhan industri Jawa Timur dengan pergerakan barang menuju Indonesia Timur. Dengan hub yang terintegrasi, kami ingin menghadirkan visibilitas, kecepatan, dan kepastian proses yang lebih baik bagi pelanggan,” ujar Iman di Surabaya, Rabu (30/9/2026).
BPS mencatat ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96% pada triwulan I-2026 dan 5,72% pada triwulan II-2026. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sepanjang 2026 berada di kisaran 4,9%-5,7%, ditopang konsumsi, investasi, ekspor, perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi.
Pertumbuhan sektor-sektor tersebut secara langsung meningkatkan kebutuhan terhadap rantai pasok yang efisien, terutama fasilitas yang dapat menghubungkan kegiatan industri, pelabuhan, penyimpanan dan distribusi.
Dalam ekosistem tersebut, CKB Logistics mengoperasikan Osowilangun sejak 2017. Kehadiran PLB menjadi salah satu layanan yang ditawarkan untuk memberikan fleksibilitas bagi pelaku usaha dalam mengelola arus barang.
Fasilitas PLB tersebut mendukung proses inbound dan outbound, penyimpanan sesuai ketentuan kepabeanan, hingga repacking, pelabelan dan konsolidasi. Skema PLB juga memungkinkan penundaan pembayaran bea dan pajak sampai barang dikeluarkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain memperkuat kapasitas, CKB Logistics mulai mengarahkan operasional Osowilangun pada efisiensi dan keberlanjutan. Perusahaan memanfaatkan pencahayaan alami melalui skylight serta forklift listrik untuk mendukung efisiensi penggunaan energi.
“Skylight membantu mengoptimalkan penggunaan energi sesuai kebutuhan area. Dengan demikian kami bisa mengoptimalkan penggunaan energi sesuai kebutuhan area. CKB terus meningkatkan keamanan, keandalan, integrasi, digitalisasi, ESG, efisiensi operasional, dan dukungan terhadap kebutuhan pelanggan secara berkelanjutan,” kata Iman.
Komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan juga mencakup kepatuhan terhadap regulasi, penerapan Good Corporate Governance (GCG), inklusivitas dan penyerapan tenaga kerja. Di sisi lingkungan, CKB Logistics menjalankan program penanaman mangrove di Romokalisari, Surabaya, serta menerapkan penggunaan kendaraan berstandar Euro 4.
Menurut Iman, pengembangan fasilitas logistik ke depan tidak hanya bertumpu pada penambahan kapasitas gudang. Integrasi data, digitalisasi, keselamatan dan efisiensi menjadi bagian penting untuk menjaga daya saing layanan ketika kebutuhan rantai pasok semakin kompleks.
“Ke depan, kami akan terus meningkatkan keamanan, keandalan, integrasi, digitalisasi, ESG, efisiensi operasional, dan dukungan terhadap kebutuhan pelanggan secara berkelanjutan. Digitalisasi membantu kami membaca kebutuhan pelanggan dengan lebih cepat, sementara penerapan ESG memastikan pertumbuhan logistik berjalan seiring dengan efisiensi dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” tutup Iman Sjafei.




