Jumat, Oktober 9, 2026

INDEF Soroti 87 Persen Tenaga Kerja Alami Mismatch, Perlindungan Pekerja Platform Perlu Diperkuat

Must Read

Peneliti Center of Digital Economy & SMEs INDEF, Fadhila Maulida, menyoroti tingginya ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan pasar kerja atau mismatch di Indonesia.

Berdasarkan data yang disampaikannya, sekitar 87 persen tenaga kerja masih mengalami ketidaksesuaian tersebut, baik karena tingkat pendidikan atau keterampilan yang belum memenuhi kebutuhan pekerjaan maupun kualifikasi yang tidak sesuai dengan lowongan yang tersedia.

Fadhila menjelaskan, kelompok pekerja undereducated membutuhkan peningkatan keterampilan agar mampu memenuhi persyaratan pekerjaan. Sementara itu, kelompok overeducated memerlukan ketersediaan lapangan kerja yang sesuai dengan tingkat pendidikan dan kompetensinya. Dalam konteks tersebut, program Magang Hub yang ditawarkan pemerintah diharapkan dapat membantu mengurangi kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Di sisi lain, salah satu karakteristik utama pekerja platform atau gig worker berfokus pada pemanfaatan ekosistem digital. Namun, walau pekerja yang menggunakan internet tumbuh sebesar 12% dalam 5 tahun, total pekerja gig tetap stagnan. Mengingat rentannya kelompok pekerja ini, pemerintah perlu memastikan adanya perlindungan dan lapangan pekerjaan yang diciptakan dapat membuat perekonomian lebih produktif.

Fadhila juga mempertanyakan apakah batasan 8% dalam Perpres No. 27 Tahun 2026 sudah mewakili kesejahteraan para pengemudi ojol, mengingat hanya sekitar 12,3% pengemudi yang terdaftar di BPJS. Padahal, dari segi makro, ojol memberikan dampak sebesar 2,37% terhadap PDB nasional, di mana angka ini mencerminkan 2,91 juta pengemudi langsung dan 2,62 juta turunannya, yaitu pihak-pihak yang terbantu karena keberadaan ojol.

Dari segi pembiayaan, kebutuhan akses pendanaan semakin tinggi, namun pertumbuhan kredit macet juga semakin bertambah sebanyak 2 kali lipat semenjak tahun 2025. Alih-alih dipakai untuk sesuatu yang produktif, dua pertiga pinjaman daring (pindar) dipakai untuk keperluan konsumsi. Sementara itu, terlepas dari penggunaan QRIS yang tumbuh 82%, penggunaannya di 6 negara yang sudah tersambung masih belum optimal. Sebaliknya, wisatawan asing menggunakan QR negara asalnya sebanyak 3,5 lebih banyak dibanding masyarakat Indonesia yang menggunakan QRIS di luar negeri. Pada sektor perbankan, Seabank masih menguasai pangsa pasar bank digital berkat keterhubungannya dengan ekosistem platform.

Sebagai kesimpulan, Fadhila menekankan kontribusi besar pekerja platform kepada perekonomian, tetapi juga masih sangat rentan secara sosial ekonomi. Selain itu, kredit digital tumbuh dengan cepat, namun tanpa kualitas yang membaik, kredit yang diberikan banyak untuk konsumtif.

Fadhila merekomendasikan dua arah kebijakan, yaitu melindungi dan menaikkan kesejahteraan pekerja platform, serta memperbaiki kualitas kredit digital dan mengarahkannya ke sektor yang lebih produktif.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Fenomena Makan Tabungan Meningkat, Rata-Rata Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun 45 Persen

Fenomena “mantab” atau makan tabungan semakin menjadi perhatian di tengah meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat. Kondisi ini terjadi ketika pendapatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img