Sekitar 2.000 peserta mengikuti Endgame Town Hall 2026 bertema “Cosmos of Knowledge” yang digelar di Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta, pada Sabtu (19/9/2026). Selama 13 jam, mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB, acara ini menghadirkan diskusi lintas bidang yang membahas sains, kemanusiaan, peradaban, hingga refleksi tentang diri.
Endgame Town Hall merupakan forum berbagi gagasan yang lahir dari siniar Endgame, dipandu oleh Gita Wirjawan, pendidik, pengusaha, sekaligus Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2011–2014. Memasuki penyelenggaraan tahun ketiga pada periode 2024–2026, acara ini mempertemukan pelajar, guru, dosen, profesional, pembuat kebijakan, dan seniman dalam ruang pembelajaran bersama.
Tema “Cosmos of Knowledge” menggambarkan keterhubungan berbagai bidang pengetahuan yang disajikan dalam tiga babak utama, yakni Universe (Semesta), Humanity (Kemanusiaan), dan Self (Diri).
Babak Universe membuka rangkaian diskusi dengan pembahasan mengenai jagat raya dan ruang angkasa dari perspektif sains, filsafat, kebudayaan, politik, hingga industri. Sesi ini mengajak peserta memahami posisi manusia di tengah luasnya alam semesta serta melihat hubungan antara pengetahuan dan kehidupan.
Selanjutnya, babak Humanity menghadirkan tujuh sesi yang membahas manusia sebagai makhluk sosial dan organisatoris, termasuk perannya dalam membangun negara, bangsa, dan peradaban. Sementara itu, babak Self menutup acara melalui dua sesi reflektif mengenai pengendalian diri dari perspektif spiritualisme serta hakikat manusia dan konsekuensinya dalam menjalani kehidupan.
Sejumlah tokoh dari berbagai bidang turut berbagi pemikiran dalam forum tersebut. Mereka antara lain Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, mantan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, diplomat Dino Patti Djalal, filsuf Karlina Supelli, astronom Premana Premadi, aktor Reza Rahadian, penulis Leila S. Chudori, musisi Baskara “Hindia” Putra, serta ekonom Bhima Yudhistira.
Selain itu, hadir pula Rocky Gerung, Bivitri Susanti, Dian Sastrowardoyo, Habib Husein Ja’far Al-Hadar, Fahruddin Faiz, Adi Rahman Adiwoso, dan sejumlah pembicara lainnya. Penampilan grup paduan suara Svara Nusantara turut melengkapi rangkaian kegiatan.
Gita Wirjawan menggambarkan forum tersebut sebagai sebuah “maraton intelektual”, mengingat padatnya pembahasan dan beragamnya perspektif yang disampaikan sepanjang acara.
Paragon Corp dan Indosat Soroti Pentingnya Pendidikan STEM
Dukungan terhadap penyelenggaraan Endgame Town Hall 2026 datang dari sejumlah pihak, termasuk Paragon Corp dan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH). Keduanya turut berkontribusi dalam diskusi mengenai pendidikan, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan kemajuan teknologi.
Paragon Corp kembali berkolaborasi dengan Endgame Town Hall setelah kerja sama pada 2025. Dalam forum tersebut, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, Sari Chairunnisa, bersama Group CEO ParagonCorp, Harman Subakat, membahas pentingnya rasa ingin tahu, pendidikan, dan pemberdayaan guru dalam mendorong lahirnya inovasi.
Sebanyak 100 guru dan dosen binaan Paragon melalui program Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecture Program (ILP) juga hadir sebagai peserta. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya mendorong pembelajaran berkelanjutan, termasuk bagi para pendidik.
Harman Subakat menekankan pentingnya keterkaitan antara adab, ilmu, amal, dan manfaat dalam membangun peradaban.
“Adab, Ilmu, Amal, Manfaat. InsyaAllah kita akan perbaiki peradaban bersama-sama,” ujar Harman.
Sementara itu, HR Director Indosat Ooredoo Hutchison, Irsyad Sahroni, membahas peran sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau STEM dalam mendorong kemajuan industri. Ia juga menyoroti pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) serta pentingnya kolaborasi antara dunia industri dan perguruan tinggi dalam mengembangkan talenta.
Menurut Irsyad, pertumbuhan industri dapat menciptakan nilai ekonomi yang selanjutnya mendukung lahirnya lebih banyak talenta di bidang sains dan teknologi.
Ia menyampaikan bahwa penguatan talenta STEM membutuhkan keterkaitan antara kebutuhan industri, pendidikan tinggi, dan pengembangan kompetensi agar Indonesia mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi.




