Sabtu, Februari 28, 2026

Hiller 360, Bawa Bung Karno Keliling Langit Jakarta

Must Read

Moneter.co.id – Ukuran fisik helikopter Hiller 360 memang mungil karena didesain sangat ringan dan ringkas. Hiller 360 yang popular dengan nama Utility Helicopter (UH)-12 diciptakan oleh Stanley Hiller (1924-2006) dan pertama kali dibuat oleh American Company United Helicopter Inc yang berpusat di Palo Alto, California, Amerika Serikat (AS). 

Hiller 360 mendapat sertifikat CAA pada 14 Oktober 1948 untuk diproduksi secara massal. Seri pertama helikopter ini dirakit pada Maret 1949 dan sebulan kemudian pada Mei 1949 sudah siap mengudara. Helikopter ini memiliki keunikan pada sistem kendali atau kontrol sederhana yang dikenal dengan 'Rotormatic'. 

Hiller 360 untuk versi sipil dikenal dengan sebutan 'Utility', sedangkan versi VIP yang dikenal dengan 'Executive' mulai dipasarkan pada 1950. Saat itu, helikopter Hiller 360 versi 'Utility' dijual dengan harga sekitar USD19,995 dan menjadi helikopter paling ekonomis di pasaran.

Hiller 360 mempunyai dua bilah baling-baling dengan konfigurasi satu pilot dan dua penumpang. Uniknya, posisi pilot berada di kursi tengah dan penumpang ada di samping kiri dan kanan pliot (side by side). Konsol kemudi pun menggunakan tuas yang tersambung ke bagian atas (bukan model stick).

Hiller 360 mengadopsi mesin tunggal enam silinder Franklin 6V4-178-B33 dengan fan cooled. Dengan kapasitas bahan bakar sebanyak 102 liter, Si Mungil ini mampu menempuh jarak 250-300 Km. Kecepatan maksimum Hiller 360 mencapai 135 Km per jam dan kecepatan jelajah 122 Km per jam, helikopter ini cocok untuk keperluan survei udara.

Dalam sejarah penerbangan Republik Indonesia (RI), Hiller 360 merupakan helikopter pertama yang dimiliki Indonesia setelah kemerdekaan. Pada September 1950, Komodor Muda Wiweko Soepono mewakili TNI AU mengunjungi pameran dirgantara di Farnborough, Inggris. Lalu dia terbang ke Amerika Serikat untuk membeli puluhan pesawat.

Dalam buku Pengabdian Angkatan Udara tahun 1946-2003, disebutkan pesawat yang dibeli adalah 25 pesawat AT-6, 40 pesawat BT-13 Valiant, enam PBY Catalina, dan enam Helikopter Hiller 360. Helikopter ini datang ke tanah air pada Desember 1950, lalu dirakit dan diterbangkan pertama kali oleh Komodor Wiweko Supono pada 24 Desember 1950.

Helikopter ini merupakan yang pertama yang dimiliki Indonesia dan cikal bakal pembentukan skadron helikopter TNI AU. Pada 1953, TNI AU mulai merinitis skadron percobaan helikopter, tentunya dengan Hiller 360 sebagai peletak pondasinya.

Kemudian pada 15 Januari 1951, untuk pertama kalinya Komodor Wiweko Supono terbang membawa Presiden Soekarno mengelilingi ibu kota Jakarta selama 15 menit menggunakan Hiller 360 dengan nomor registrasi H-101. Ibu negara Fatmawati juga ikut keliling Jakarta secara bergantian terbang dengan Hiller 360. 

Pada saat itu helikopter belum popular bagi masyarakat penerbangan. Bahkan masih banyak penerbang yang takut menerbangkan benda terbang dengan baling-baling di atasnya itu. Namun, Bung Karno menjadi presiden pertama di dunia yang berani terbang dengan helikopter. 

Saat itu, istilah helikopter kepresidenan pun belum dikenal, namun sejak itu Hiller 360 mulai dikenal sebagai helikopter kepresidenan pertama. Indonesia adalah negara pertama di dunia yang menyediakan fasilitas pesawat helikopter untuk transportasi presidennya. Dan, Bung Karno adalah presiden pertama dunia yang memiliki helikopter kepresidenan.

Dalam buku Kisah Istimewa Bung Karno karya Penerbit Buku Kompas 2010 disebutkan, Bung Karno tercatat sebagai presiden pertama dunia yang memiliki helikopter kepresidenan, mengalahkan presiden negara adidaya AS (Amerika Serikat). Presiden AS Dwight Eisenhower baru menggunakan helikopter Bell- 47J 2 Ranger pada Juli 1957. Jadi (Bung Karno) enam tahun lebih dulu daripada presiden AS. 

Saat itu, Eisenhower ingin buru-buru pulang ke Pennsylvania dan pesawat Air Force One tak dapat mampu mendarat di sana. Pilihan akhirnya jatuh pada helikopter militer tersebut. Dulu helikopter Presiden AS disebut Army One, kini setelah ditangani Korps Marinir maka nama helikopter kepresidenan AS menjadi Marine One. 

Pada 1951 kegemaran utama Bung Karno adalah membuat sketsa Jakarta dengan naik helikopter Hiller 360. Kelak sketsa-sketsa inilah yang dikembangkan untuk penataan ibu kota Jakarta. Salah satu ide Bung Karno adalah menjatuhkan bunga semanggi di depan gerbang Senayan. Tempat bunga semanggi jatuh,  kelak dibangun sebagai Jembatan Semanggi. 

Selepas dari Hiller 360, Presiden Soekarno makin akrab dengan helikopter kepresidenan. Hiller 360 segera digantikan dengan Bell-47G (berkapasitas dua penumpang) dan Bell -47J 2A Ranger (tiga penumpang). Helikopter Bell-47 J2A yang di beri nama “Walet” ini dioperasikan oleh Setneg pada 1960-1965 dan pertama kali dipiloti oleh Letkol Udara Yum Soemarsono untuk presiden Soekarno. 

Pada 1960, helikopter kepresidenan bertambah dengan kehadiran satu unit Sikorsky S-58 berkapasitas 12 penumpang, hadiah dari Presiden Dwight Eisenhower. Tiga unit helikopter itu menjadi bagian dari unit Istana Kepresidenan yang dikelola oleh personel AURI (TNI AU) sebelum nantinya diserahkan kepada Skuadron 17.

Helikopter Kepresidenan Sikorsky S-58 juga menjadi saksi bisu lengsernya Soekarno dari kursi kepresidenan. Pada 11 Maret 1966, Soekarno menumpang helikopter kepresidenan ini untuk meninggalkan Istana Merdeka menuju ke Istana Bogor. Sore harinya, Soekarno didatangi oleh tiga jenderal yang meminta membuat surat yang dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar).

Sumber: heli-archive.ch / dirgantara.museumjogja.org / indomiliter / indonesiatanahairku-indonesia.blogspot.com / museumangkut.com / sindonews.com

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Motorola Resmi Luncurkan razr 60 di Indonesia: Era Baru Ponsel Lipat Pintar Berbasis AI

Motorola kembali menggebrak pasar ponsel premium tanah air dengan mengumumkan kehadiran motorola razr 60 di Jakarta pada Rabu, 25...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img