Moneter.co.id – PT Pan
Brothers Tbk. perusahaan produsen garmen berencana menambah dua pabrik di anak
usaha, termasuk PT Eco Smart Garment Indonesia, dengan tambahan kapasitas sebesar
21 juta helai per tahun dengan hasil total kapasitas menjadi 48
juta helai per tahun. Pabrik ini direncanakan mulai berproduksi komersial
pada tahun 2018.
Corporate Secretary Pan Brothers Iswar Deni mengatakan,
perusahaan berencana menambah kapasitas dengan pembangunan satu pabrik baru di
bawah bendera PT Teodore Pan Garmindo yang berlokasi di Tasikmalaya dan
ditargetkan selesai pada akhir 2018. Pabrik ini memiliki kapasitas terpasang
sebesar 6 juta potong garmen per tahun.
“Kapasitas terpasang untuk garmen kami
di akhir 2017 akan naik dari 90 pieces juta
per tahun menjadi 111 juta pieces per
tahun. Tahun depan naik lagi menjadi 117 juta potong garmen per tahun,”
ujarnya.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat
selama periode Januari-Oktober 2017 ekspor pakaian jadi mencapai
US$3,42 miliar atau naik 7,18% secara tahunan dari US$3,19 miliar
pada periode yang sama tahun lalu.
Pan Brothers merupakan perusahaan
tekstil berorientasi ekspor. Sebanyak 95% hingga 97% dari produksi dikirim ke
luar negeri. Produk Pan Brothers sebagian besar dikirim ke negara-negara Asia
dengan porsi sebesar 56%, diikuti negara-negara di Amerika sebesar 26%, dan
sisanya ke negara-negara di Eropa.
Iswar berharap pemerintah dapat
memperbanyak perjanjian dagang dengan negara lain untuk meningkatkan kinerja
ekspor produk tekstil dalam negeri. “Kami harap pemerintah dapat
memperbanyak bilateral agreement mengenai tarif,” katanya.
Saat ini,
ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia dinilai masih kecil dibandingkan
negara lain. Pada tahun lalu ekspor tekstil dari pabrikan nasional sebesar 1,8%
dari pasar tekstil dan produk tekstil dunia. Pabrikan garmen dalam negeri
ditargetkan memasok 5% dari kebutuhan tekstil dan produk tekstil dunia pada
2030.
Dengan free trade agreement,
Iswar berpendapat ekspor ke negara lain akan lebih mudah dan harga produk
Indonesia bisa bersaing karena saat ini bea masuk ke negara-negara lain itu
bisa berkisar dari 8% hingga 30%. (SAM)




