PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan potensi nilai ekspor sebesar US$8,32 juta atau setara Rp148,75 miliar dari partisipasi 12 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaannya dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Nilai potensial tersebut meningkat 34,12% dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya sebesar Rp110,9 miliar.
Potensi transaksi itu diperoleh melalui 122 kegiatan business matching dan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), dengan peluang jejaring bisnis ke 20 negara tujuan. Capaian tersebut menunjukkan peluang perluasan pasar internasional bagi UMKM, meski realisasi ekspor masih bergantung pada tindak lanjut negosiasi, pemesanan, dan kesepakatan dagang.
Dalam pameran yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, BCA melalui program BCA UMKM Go Export memfasilitasi 12 UMKM binaan Bakti BCA untuk memperkenalkan produk unggulan kepada calon pembeli dari pasar global.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, penguatan daya saing UMKM di pasar internasional membutuhkan pendampingan yang mencakup aspek legalitas, kesiapan produk, hingga akses kepada calon pembeli.
“UMKM Indonesia memiliki kualitas dan potensi untuk bersaing di pasar global. Melalui BCA UMKM Go Export, kami mendampingi pelaku usaha secara bertahap, mulai dari meningkatkan kesiapan legalitas, sertifikasi, dan perizinan produk internasional, pembuatan company profile, katalog, hingga memperluas akses pasar dan mempertemukan mereka dengan calon pembeli,” ujar Hera.
Sebelum mengikuti TEI 2026, BCA terlebih dahulu mengkurasi 148 UMKM binaan dari periode 2023–2025. Pelaku usaha yang terpilih kemudian mengikuti tiga kelas inkubasi daring yang membahas pengembangan produk dan katalog ekspor business-to-business (B2B), strategi negosiasi harga dan pemesanan sampel, serta simulasi transaksi ekspor dan pembayaran yang aman.
Sebanyak 12 UMKM yang tampil dalam pameran berasal dari sektor makanan dan minuman serta pertanian. Produk yang ditawarkan mencakup kopi, kakao, rempah-rempah, bahan alami, hasil pertanian, benih, mi kering, mi instan, saus, bumbu, makanan nabati, hingga produk makanan beku.
BCA juga menyediakan booth Bakti BCA sebagai sarana promosi dan fasilitasi pertemuan dengan calon pembeli, atase perdagangan, serta perwakilan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC). Perseroan turut memfasilitasi penandatanganan MoU untuk membuka peluang kerja sama komersial antara UMKM dan mitra potensial.
Di luar fasilitasi promosi, BCA menawarkan solusi perbankan bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan bisnis berorientasi ekspor. Dukungan tersebut mencakup pembiayaan modal kerja, penerimaan pembayaran dari luar negeri, serta layanan pembayaran untuk mendukung transaksi perdagangan internasional.
Menurut Hera, pembukaan akses pasar perlu diikuti kesiapan operasional dan dukungan finansial agar peluang bisnis dapat dikonversi menjadi transaksi riil.
“Bagi BCA, perluasan akses pasar perlu berjalan seiring dengan kesiapan usaha dan dukungan finansial yang sesuai. Kami berharap partisipasi di TEI 2026 menjadi langkah awal bagi UMKM binaan untuk menindaklanjuti peluang bisnis, mulai dari negosiasi dan pemesanan hingga realisasi ekspor,” jelasnya.
Ke depan, tantangan program UMKM Go Export tidak hanya terletak pada peningkatan jumlah calon pembeli atau nilai potensi transaksi, tetapi juga pada kemampuan pelaku usaha memenuhi standar pasar tujuan, menjaga konsistensi pasokan, dan merealisasikan pesanan menjadi ekspor berkelanjutan.
Dengan demikian, kenaikan potensi ekspor yang dicatatkan dalam TEI 2026 menjadi indikator terbukanya peluang pasar bagi UMKM binaan BCA. Namun, realisasi transaksi akan menjadi tolok ukur penting untuk menilai sejauh mana fasilitasi akses pasar tersebut mampu mendorong pertumbuhan bisnis dan memperkuat kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional.




