Moneter.co.id –
Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta secara tegas untuk menyingkirkan para Sangkuni yang masih berada di lingkaran kekuasaan.
Hal itu ditegaskan Sekjend Rumah Gerakan 98 Sayed Junaidi Rizaldi di Jakarta, Selasa (25/4). “Kalahnya pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 ini ada indikasi banyak Sangkuninya,” kata dia.
Analisa Sayed, kekalahan Ahok-Djarot juga membuktikan bahwa peta kekuatan relawan dan pendukung Jokowi-JK dalam Pilpres 2014 lalu terbelah.
Sangkuni adalah adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan paman para Korawa dari pihak ibu.
Sangkuni terkenal sebagai tokoh licik yang selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa. Ia berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui sebuah permainan dadu.
Menurut Sayed, kekuatan relawan hingga Kabinet Kerja bentukan Presiden Jokowi hanya setengah hati mendukung pasangan Ahok-Djarot.
“Banyak Sangkuni dalam barisan pendukung dan relawan Jokowi yang sudah menikmati pertarungannya pada Pilpres 2014 lalu,” jelas dia.
Dia menegaskan, dalam politik tidak perlu terlalu banyak bicara hal yang normatif. Pasalnya, politik semacam gelanggang pertarungan yang harus selalu dimenangkan.
“Presiden Jokowi jangan terlalu mengakomodir kepentingan lawan. Misalnya saja saat ini masih banyak ratusan jabatan komisaris yang diduduki oleh orang dari rezim sebelumnya,” ujar dia.
Kemudian, jajaran deputi maupun dirjen kementerian yang masih banyak dijabat oleh kaki tangan rezim lama juga mesti segera dicopot. “Sekarang, mereka harus loyal pada siapapun yang jadi presiden,” katanya.
Lalu, lanjut Sayed, Presiden Jokowi juga mesti bertindak tegas terhadap partai politik yang hatinya masih mendua dan sebenarnya ingin menggerogoti pemerintahan saat ini.
“Dalam politik itu yang penting setia dan loyal. Kalau ada parpol yang tidak loyal dan setia kepada pemerintah, Presiden Jokowi harus putuskan tali koalisinya,” katanya.
Penjelasan Sayed, kekalahan Ahok-Djarot dalam Pilkada DKI Jakarta mesti dijadikan momentum penting untuk mengevaluasi seluruh mesin pendukung Jokowi-JK dalam Pilres 2014.
“Ketika Pilkada Jakarta ini kalah, Presiden Jokowi harus berhitung betul menghadapi 2019. Presiden Jokowi harus menendang jajaran menteri yang saat ini masih mendua dalam hal loyalitas.,” ujarnya.
Reporter : Inka




