Senin, Oktober 12, 2026

Cadangan Listrik Sumatera Cuma 4%, PLTA Batang Toru Rp21,6 Triliun Dikebut

Must Read

Tipisnya cadangan operasional listrik di Sumatera menjadi tantangan bagi keandalan pasokan energi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mempercepat penyelesaian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) agar dapat segera menopang kebutuhan listrik Sumatera bagian utara.

Waduk PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mulai digenangi pada Jumat (9/10). Tahapan ini menjadi salah satu proses penting sebelum pembangkit senilai Rp21,6 triliun tersebut menjalani serangkaian pengujian untuk masuk ke jaringan PT PLN.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengungkapkan, cadangan operasional listrik Sumatera saat ini baru mencapai 4%, jauh di bawah tingkat ideal sebesar 15%–20%. Kondisi itu membuat tambahan kapasitas pembangkit dibutuhkan untuk mengantisipasi kenaikan konsumsi listrik pada akhir tahun.

“Cadangan operasional hanya 4 persen. Idealnya kan sekitar 15 sampai 20 persen,” ungkap Yuliot.

Kebutuhan tambahan pasokan semakin relevan karena sistem kelistrikan Sumatera bagian utara masih mendapat dukungan dari Sumatera bagian selatan melalui jaringan transmisi. Sementara itu, pertumbuhan beban listrik Sumatera Utara diperkirakan mencapai 100 MW–120 MW per tahun.

Dengan kapasitas 510 MW, PLTA Batang Toru diproyeksikan dapat menopang pertumbuhan kebutuhan listrik Sumatera Utara selama empat hingga lima tahun ke depan. Kehadiran pembangkit ini sekaligus diharapkan memperkuat keandalan sistem kelistrikan regional dan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari wilayah lain.

Meski demikian, kapasitas besar tersebut belum bisa langsung dimanfaatkan sebelum seluruh tahapan teknis diselesaikan. Penggenangan waduk diperlukan untuk menguji kesiapan fasilitas pembangkit, termasuk powerhouse, ketinggian air sesuai target, serta sistem penyaluran daya ke jaringan transmisi.

“Jadi, tanpa penggenangan, kita tidak bisa melakukan uji coba atas seluruh fasilitas yang ada di sini,” ujar Yuliot.

Pemerintah menargetkan percepatan penggenangan pada kuartal IV-2026, dilanjutkan dengan pengujian seluruh instrumen selama dua pekan. Setelah itu, PLTA Batang Toru akan menjalani uji coba koneksi dengan jaringan PLN sebelum dinyatakan siap beroperasi.

Kementerian ESDM akan memastikan kesiapan teknis pembangkit sebelum menerbitkan sertifikat laik operasi (SLO). Dengan demikian, pencapaian target operasi tidak hanya bergantung pada penyelesaian konstruksi, tetapi juga keberhasilan pengujian dan pemenuhan persyaratan yang berlaku.

“Dari Kementerian ESDM tinggal memastikan bisa berjalan baik. Kalau sudah berjalan dengan baik, kita akan menerbitkan sertifikat laik operasi,” kata Yuliot.

Di sisi lain, percepatan proyek ini juga melibatkan penyelesaian kewajiban administratif dan lingkungan. Penggenangan dapat dilaksanakan setelah seluruh persoalan terkait kewajiban kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) dan Kementerian Kehutanan diselesaikan.

Proses tersebut dikawal bersama oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, Kementerian Kehutanan, serta Kejaksaan Agung. Koordinasi lintas kementerian dan lembaga ini ditujukan untuk memastikan proyek strategis tersebut dapat berlanjut tanpa mengabaikan ketentuan yang berlaku.

Dari sisi sumber energi, PLTA Batang Toru mengandalkan pasokan air yang hulunya terhubung dengan Danau Toba. Ketersediaan air tersebut dinilai memadai, termasuk ketika fenomena El Nino berpotensi memengaruhi pasokan air bagi pembangkit listrik tenaga air di wilayah lain.

Proyek yang dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) ini terdiri atas empat unit pembangkit, masing-masing berkapasitas 127,5 MW. Selain proyek utama, pengembang juga telah menyiapkan kajian untuk tahap kedua dengan tambahan kapasitas 160 MW.

Rencana ekspansi tersebut membuka peluang penambahan pasokan listrik pada masa mendatang, seiring meningkatnya kebutuhan energi di Sumatera Utara. Pemerintah juga menyebut sebagian besar tenaga kerja proyek berasal dari masyarakat lokal, sementara penggunaan peralatan dalam negeri dilakukan sejauh memungkinkan.

Dengan dimulainya penggenangan waduk, PLTA Batang Toru memasuki tahap penting menuju pengoperasian. Namun, bagi sistem kelistrikan Sumatera, manfaat proyek ini baru akan terasa setelah pembangkit lolos pengujian dan dapat menyalurkan daya secara resmi. Di tengah cadangan operasional yang masih terbatas, realisasi target tersebut menjadi penentu tambahan kapasitas 510 MW dapat segera memperkuat pasokan listrik regional.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Indonesia Perkuat Peran di Pengawasan Bank Global, 60 Negara Bahas Risiko Digital

Transformasi digital, perkembangan aset kripto, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai menjadi perhatian utama dalam pengawasan perbankan global. Otoritas...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img