Senin, Oktober 12, 2026

Stok Bahan Baku Naik, PMI Manufaktur RI Menguat ke 52,4 pada September 2026

Must Read

Pelaku industri manufaktur Indonesia mulai meningkatkan persediaan bahan baku untuk mengantisipasi kenaikan kebutuhan produksi. Tren tersebut sejalan dengan penguatan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur nasional yang mencapai 52,4 pada September 2026, mencerminkan aktivitas industri yang masih berada di zona ekspansi.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, peningkatan PMI didukung oleh menguatnya permintaan domestik, bertambahnya penyerapan tenaga kerja, serta kenaikan pembelian dan persediaan bahan baku. Kombinasi indikator tersebut menunjukkan pelaku usaha mulai mempersiapkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar.

“Di Indonesia PMI manufakturnya juga meningkat ke 52,4, yang kalau kita tahu selama angkanya di atas 50 berarti ini ada indikasi ekspansi manufaktur,” ungkap Suahasil dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Jumat (9/10/2026).

PMI manufaktur merupakan indikator aktivitas bisnis yang menggunakan angka 50 sebagai batas antara ekspansi dan kontraksi. Posisi di atas 50 mengindikasikan aktivitas industri meningkat dibandingkan periode sebelumnya, sedangkan angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas mengalami penurunan.

Penguatan manufaktur Indonesia berlangsung ketika sebagian besar negara juga mencatatkan ekspansi. Berdasarkan data yang dipaparkan pemerintah, sekitar 75% negara memiliki PMI manufaktur di atas 50 pada akhir September 2026. Sementara itu, sekitar 25% negara lainnya masih berada dalam fase kontraksi.

“Meskipun tiap bulan angka ini berubah-ubah, tapi kita cukup comfortable untuk angka Indonesia itu ada di sisi 52,4 atau ekspansi,” jelas Suahasil.

Dari sisi permintaan, konsumsi domestik menjadi salah satu penopang peningkatan aktivitas manufaktur. Permintaan yang menguat mendorong perusahaan meningkatkan produksi barang dan jasa, termasuk untuk memenuhi pesanan ekspor. Jika tren tersebut berlanjut, industri berpeluang mempertahankan momentum pertumbuhan produksi pada periode berikutnya.

Sinyal penguatan juga terlihat dari penyerapan tenaga kerja yang kembali ekspansif. Di saat yang sama, akumulasi pesanan atau backlog meningkat, mengindikasikan masih adanya kebutuhan untuk menyelesaikan pesanan yang masuk. Kondisi ini berpotensi mendorong perusahaan menambah aktivitas produksi dan menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja.

Kenaikan pembelian bahan baku menjadi indikator lain yang dicermati pemerintah. Perusahaan yang menambah stok input dinilai tengah mengantisipasi peningkatan kebutuhan produksi, meskipun realisasi pertumbuhan output tetap akan bergantung pada perkembangan permintaan.

“Pengusaha itu kalau dia beli dan stok input, itu karena dia memikirkan bahwa produksi akan naik. Permintaan akan meningkat, saya akan harus produksi lebih banyak,” kata Suahasil.

Strategi penambahan persediaan tersebut menjadi penting bagi perusahaan untuk menjaga kelancaran produksi dan memenuhi pesanan tepat waktu. Namun, peningkatan stok juga perlu diimbangi pengelolaan persediaan yang efisien agar tidak membebani modal kerja apabila permintaan pasar tidak tumbuh sesuai perkiraan.

Di tengah peningkatan aktivitas tersebut, tekanan harga input dan output dilaporkan mulai melandai. Perkembangan ini berpotensi membantu pelaku industri mengelola biaya produksi, meskipun dampaknya terhadap keuntungan perusahaan akan berbeda-beda sesuai struktur biaya dan kemampuan meneruskan perubahan harga kepada konsumen.

Suahasil menjelaskan, pelaku usaha tetap meningkatkan pembelian bahan baku meskipun tekanan harga mulai mereda.

“Harga input ada melandai dikit, harga output juga agak melandai. Tapi imbangan ini direspon oleh pengusaha dengan melakukan pembelian dan stok input yang meningkat,” pungkasnya.

Penguatan PMI manufaktur ke level 52,4 menjadi indikasi bahwa aktivitas industri nasional masih memiliki momentum pertumbuhan. Namun, tantangan bagi sektor manufaktur selanjutnya adalah memastikan peningkatan pesanan dan persediaan bahan baku benar-benar berujung pada kenaikan produksi serta penyerapan tenaga kerja.

Keberlanjutan ekspansi juga akan bergantung pada daya beli domestik, permintaan ekspor, dan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi biaya. Dengan demikian, pergerakan PMI pada bulan-bulan berikutnya akan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai apakah penguatan aktivitas manufaktur September mampu berlanjut menjadi pertumbuhan industri yang lebih konsisten.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Indonesia Perkuat Peran di Pengawasan Bank Global, 60 Negara Bahas Risiko Digital

Transformasi digital, perkembangan aset kripto, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai menjadi perhatian utama dalam pengawasan perbankan global. Otoritas...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img