PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) semakin agresif memperkuat bisnis air minum dalam kemasan (AMDK) di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Strategi perluasan jaringan produksi dan distribusi mulai membuahkan hasil dengan mendorong penjualan perseroan mencapai Rp2,6 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 25,5% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan tersebut juga diikuti peningkatan profitabilitas. CLEO membukukan laba bersih sebesar Rp377,1 miliar atau naik 23,6% YoY. Kenaikan laba ini ditopang pertumbuhan pendapatan yang dibarengi optimalisasi efisiensi operasional.
CEO CLEO Melisa Patricia mengungkapkan, produk air minum dalam kemasan botol masih menjadi mesin utama pertumbuhan perseroan. Hingga kuartal III-2026, segmen tersebut menyumbang 56,9% dari total penjualan.
“Segmen botol masih menjadi penyokong utama penjualan Perseroan, dengan kontribusi mencapai 56,9% dari total penjualan,” ujar Melisa dalam keterangan tertulis, Selasa (3/11/2026).
Secara rinci, penjualan segmen botol mencapai Rp1,5 triliun atau meningkat 29,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun segmen nonbotol mencatatkan penjualan Rp1,1 triliun, tumbuh 22,9% YoY.
Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan CLEO berlangsung di seluruh lini produk. Kondisi ini menjadi modal bagi perseroan untuk mempertahankan ekspansi pasar hingga penghujung tahun.
Untuk menopang pertumbuhan bisnis, CLEO mengandalkan jaringan operasional yang mencakup 33 pabrik di berbagai wilayah Indonesia. Perseroan juga memiliki 500 simpul distribusi internal dan bekerja sama dengan lebih dari 12.000 mitra distribusi.
Tidak berhenti di situ, CLEO menyiapkan tambahan kapasitas produksi melalui pembangunan dua pabrik baru di Pekanbaru dan Pontianak. Kedua fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026.
Penambahan fasilitas produksi menjadi bagian dari strategi ekspansi terukur CLEO untuk memperkuat penetrasi pasar dan mendekatkan kapasitas produksi dengan konsumen di berbagai daerah.
Selain mengejar pertumbuhan penjualan, perseroan juga mengembangkan strategi keberlanjutan melalui inovasi kemasan. CLEO menghadirkan Cleo Ecogreen yang menggunakan 100% plastik daur ulang serta Cleo Ecolite yang diklaim sebagai produk dengan kemasan botol teringan di dunia dan telah mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Upaya tersebut mulai tercermin dari penggunaan kemasan sirkular yang mencapai 18% dari total kemasan perseroan pada 2025. Pada tahun ini, CLEO menargetkan peningkatan porsi kemasan sirkular seiring dengan bertambahnya volume penjualan.
Kemasan sirkular merupakan kemasan yang dirancang agar materialnya dapat didaur ulang sehingga mengurangi ketergantungan terhadap kemasan sekali pakai.
Dengan dukungan pertumbuhan seluruh segmen, perluasan jaringan distribusi, serta tambahan kapasitas produksi, CLEO optimistis mampu mempertahankan pertumbuhan dobel digit sepanjang tahun buku 2026. Ekspansi tersebut sekaligus menjadi strategi perseroan untuk memperkuat posisi di industri AMDK nasional.




