Kamis, November 5, 2026

Produksi dan Harga Timah Melonjak, TINS Kantongi Laba Rp4,12 Triliun

Must Read

PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan kinerja keuangan impresif sepanjang Januari–September 2026. Emiten pertambangan timah ini membukukan laba bersih Rp4,12 triliun, melonjak 584% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp602,42 miliar.

Lonjakan laba tersebut ditopang kenaikan harga jual timah, peningkatan volume produksi dan penjualan, serta efisiensi biaya operasional. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026, pendapatan usaha TINS tumbuh 144% menjadi Rp16,15 triliun dari Rp6,61 triliun pada periode sembilan bulan pertama 2025.

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba usaha perseroan melesat 594% menjadi Rp5,6 triliun dari Rp807,25 miliar. Sementara itu, EBITDA meningkat 323% menjadi Rp6,18 triliun dibandingkan Rp1,46 triliun pada periode sebelumnya.

Direktur Utama PT Timah Tbk Restu Widiyantoro mengatakan, pencapaian tersebut merupakan hasil penguatan kinerja keuangan dan operasional yang didukung kebijakan pemerintah, pengawasan, serta penegakan aturan di sektor pertambangan.

“Capaian ini mencerminkan penguatan kinerja keuangan dan operasional sekaligus bentuk konkret atas efektivitas dari dukungan pemerintah melalui kebijakan, pengawasan, serta penegakan aturan,” ujar Restu, Selasa (3/11/2026).

Dia menambahkan, sinergi dalam ekosistem BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID serta dedikasi seluruh pihak di lingkungan PT Timah turut berkontribusi terhadap pencapaian tersebut.

Kinerja TINS tidak hanya ditopang peningkatan volume produksi, tetapi juga penguatan harga jual logam timah. Pada sembilan bulan pertama 2026, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) timah mencapai US$51.011 per metrik ton.

Angka tersebut 52% lebih tinggi dibandingkan ASP periode yang sama tahun lalu sebesar US$33.596 per metrik ton. Realisasi ASP juga melampaui target perusahaan dalam RKAPP sebesar 11%.

Kenaikan harga jual tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan dan margin perseroan, terutama di tengah lonjakan volume penjualan logam timah yang mencapai 16.304 metrik ton.

Volume penjualan tersebut meningkat 72% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 9.469 metrik ton. Pasar ekspor masih mendominasi penjualan, sehingga kinerja komersial TINS turut dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan harga timah global.

Dari sisi operasional, produksi bijih timah TINS mencapai 18.883 ton Sn sepanjang Januari–September 2026. Realisasi tersebut meningkat 55% dibandingkan 12.190 ton Sn pada periode yang sama tahun lalu dan telah mencapai 97% dari target RKAPP.

Sementara itu, produksi logam timah meningkat 49% menjadi 16.190 metrik ton Sn dari sebelumnya 10.855 metrik ton Sn.

Manajemen menargetkan volume produksi hingga akhir 2026 lebih tinggi dibandingkan realisasi produksi sepanjang 2025. Peningkatan produktivitas menjadi salah satu strategi perusahaan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan kinerja.

Di sisi lain, TINS juga mencatat perbaikan efisiensi biaya dengan menekan beban pokok pendapatan hingga 16% di bawah target RKAPP. Perusahaan turut memperkuat likuiditas dengan saldo kas akhir periode mencapai Rp4,25 triliun, naik dari Rp1,34 triliun pada September 2025.

Di tengah peningkatan aktivitas produksi dan penjualan, TINS tetap mempertahankan aspek keselamatan kerja dengan mencatatkan Zero Fatality dan Zero Process Safety Event sepanjang 2026.

Restu menegaskan, perseroan akan terus memperkuat tata kelola pertambangan yang ramah lingkungan, menjaga disiplin keselamatan kerja, serta meningkatkan kontribusi bagi perekonomian nasional dan daerah.

“Kami berkomitmen untuk terus menjaga disiplin keselamatan kerja, mengoptimalkan tata kelola pertambangan yang ramah lingkungan, serta memperkuat kontribusi nyata bagi perekonomian nasional dan daerah,” ujar Restu.

Dengan pertumbuhan laba yang signifikan hingga kuartal III-2026, tantangan TINS selanjutnya adalah mempertahankan kinerja operasional dan efisiensi di tengah fluktuasi harga komoditas global. Keberlanjutan pertumbuhan produksi dan penjualan akan menjadi faktor penting bagi perseroan dalam menjaga performa hingga tutup tahun.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Hilirisasi Mineral Kritis Harus Sejalan dengan Perlindungan Lingkungan dan Kesejahteraan Masyarakat

Pengembangan hilirisasi mineral kritis di Indonesia dinilai perlu diimbangi dengan komitmen kuat terhadap perlindungan lingkungan, keselamatan pekerja, serta pemerataan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img