Jumat, September 18, 2026

Ekspor Florikultura Indonesia Tembus Rp3,51 Triliun, Jangkau 96 Negara

Must Read

Komoditas florikultura Indonesia semakin menunjukkan potensi di pasar internasional. Berdasarkan data Badan Karantina Indonesia (Barantin), nilai ekspor florikultura Indonesia mencapai Rp3,51 triliun sepanjang 1 Januari hingga 14 September 2026, dengan tujuan pengiriman ke 96 negara.

Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan capaian tersebut menunjukkan tanaman hias dan florikultura memiliki potensi ekonomi yang lebih besar dan tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai bagian dari hobi masyarakat.

“Keindahan tanaman harus mampu kita transformasikan menjadi nilai tambah dan daya saing Indonesia. Florikultura bukan sekadar hobi, melainkan bagian penting dari ekonomi hijau, industri kreatif, inovasi, penyerapan lapangan kerja, dan peluang ekspor nasional,” ujar Karding saat membuka Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026 di Tangerang, Kamis (17/9).

FLOII Expo 2026 mengusung tema “United by Nature” dan mempertemukan berbagai unsur dalam industri florikultura, mulai dari petani, breeder, nursery, pelaku usaha hingga pemerintah.

Menurut Karding, kolaborasi antarpemangku kepentingan diperlukan untuk mengembangkan kekayaan biodiversitas Indonesia menjadi produk bernilai tambah sekaligus mampu bersaing di pasar global.

Data sistem layanan karantina Best Trust per 14 September 2026 mencatat nilai ekspor florikultura sepanjang 2025 mencapai Rp4,42 triliun dengan volume 93,9 juta komoditas yang dikirim ke 95 negara.

Sementara itu, hingga 14 September 2026, ekspor telah mencapai Rp3,51 triliun dengan volume 59,6 juta komoditas dan menjangkau 96 negara. Sejumlah komoditas yang diekspor antara lain bunga krisan, bibit krisan, bibit lilium, bibit Saintpaulia, tanaman akuarium, serta berbagai jenis bibit tanaman hias.

Barantin menilai perluasan pasar florikultura harus berjalan beriringan dengan pemenuhan persyaratan karantina dan ketentuan yang berlaku di negara tujuan.

Hal tersebut menjadi perhatian karena perdagangan tanaman lintas negara tidak hanya berkaitan dengan nilai ekonomi, tetapi juga memiliki risiko terhadap penyebaran organisme pengganggu tumbuhan dan perlindungan biodiversitas.

“Ketika tanaman Indonesia terbang ke luar negeri, yang kita bawa bukan sekadar komoditasnya, namun juga nama baik, reputasi, dan kepercayaan pasar dunia terhadap Indonesia,” kata Karding.

Karding menambahkan, peran karantina saat ini tidak hanya berfokus pada pengawasan lalu lintas komoditas. Barantin juga mendorong fasilitasi perdagangan dengan tetap menjalankan fungsi perlindungan keamanan hayati atau biosecurity.

Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan sistem berbasis risiko, integrasi layanan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung kelancaran perdagangan sekaligus menjaga keamanan hayati.

FLOII Expo 2026 juga menjadi momentum menjelang peringatan Hari Karantina Indonesia ke-149 dan HUT ke-3 Barantin yang jatuh pada 18 Oktober 2026.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Bidik Industri Manufaktur hingga Tambang, Shell Geber Bisnis Grease di Indonesia

Shell Indonesia memperluas kapasitas manufaktur produk pelumas di Indonesia dengan mengoperasikan Pabrik Manufaktur Gemuk (Grease Manufacturing Plant) di Marunda,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img