Melihat wajah seseorang dalam hitungan detik belum tentu membuat seseorang benar-benar mengenalnya. Gagasan tersebut menjadi titik berangkat seniman multidisipliner muda Indonesia, Rajata Hakim, dalam pameran tunggal perdananya bertajuk “Terlihat / Terasa” di ArtSphere Gallery, Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan.
Pameran yang dikuratori Melissa Sunjaya dan menjadi bagian dari Project 1830 tersebut menghadirkan 63 dari total 150 potret orang asing yang dibuat Rajata menggunakan cat akrilik di atas kertas kalkir berukuran A4. Sebelumnya, seluruh 150 potret ditampilkan dalam pameran 1830 di Taman Ismail Marzuki (TIM). Di ArtSphere Gallery, karya-karya tersebut hadir berdampingan dengan karya lain di atas kanvas, kayu, tas, medium transparan, hingga instalasi.
Melalui rangkaian karya tersebut, Rajata mengeksplorasi hubungan antara apa yang terlihat, apa yang dirasakan, dan apa yang dipahami seseorang ketika berhadapan dengan orang lain. Menurutnya, semakin lama seseorang diamati, semakin terlihat pula keterbatasan manusia dalam mengubah pengamatan menjadi pemahaman.
“Saya tertarik pada titik ketika memandang mulai terasa seperti mengetahui, padahal kita kerap keliru menganggap keduanya sama. Semakin saksama saya mengamati seseorang, semakin saya menyadari bahwa perhatian tidak serta-merta melahirkan pemahaman. Keterbatasan tersebut justru saya biarkan membentuk karya,” ujar Rajata.
Pengalaman visual dalam pameran ini juga diperluas melalui suara. Sejumlah potret dipasangkan dengan rekaman suara pribadi para partisipan yang mendeskripsikan diri secara anonim. Kehadiran suara tersebut mempertemukan wajah yang digambarkan seniman dengan cara subjek mendefinisikan dirinya sendiri.
Perbedaan antara tampilan fisik dan suara personal itu kemudian membuka pertanyaan mengenai bagaimana seseorang memandang orang lain. Pengunjung diajak mempertimbangkan apakah yang mereka lihat benar-benar sosok di hadapan mereka atau justru interpretasi yang terbentuk berdasarkan pengalaman dan persepsi masing-masing.
Eksplorasi mengenai identitas juga terlihat dalam karya yang mengangkat sosok Pangeran Diponegoro. Dalam karya tersebut, Rajata sengaja menyamarkan wajah figur sejarah itu dan menampilkan sosok yang sedang menunggangi kuda putih. Identitasnya dibiarkan menjadi teka-teki bagi pengunjung.
“Saya sengaja menyamarkan wajah Diponegoro karena saya ingin melihat apa yang terjadi ketika sebuah identitas yang biasanya kita anggap sudah pasti justru dibuat tidak sepenuhnya terlihat. Biar publik menebak sendiri sosok yang menunggang kuda jingkrak berwarna putih itu siapa,” kata Rajata.
Menurut kurator Melissa Sunjaya, pendekatan Rajata berkaitan erat dengan arsip dan memori. Melalui Project 1830, Rajata juga mengembangkan pemahamannya terhadap konsep amongraga dan amongrasa, yang masing-masing berkaitan dengan disiplin dalam memberikan bentuk pada gagasan serta penghayatan batin yang memberi makna pada bentuk tersebut.
“Rajata tidak mencoba menghadirkan masa lalu atau seseorang sebagai sesuatu yang sudah selesai dan dapat dipahami sepenuhnya. Justru melalui keterbatasan pengamatan itu, karya-karyanya membuka pertanyaan tentang bagaimana kita membangun pengetahuan, bagaimana kita mengarsipkan, dan bagaimana pengalaman personal akhirnya ikut membentuk memori kolektif,” jelas Melissa.
Rajata juga mempertahankan unsur-unsur yang tidak sepenuhnya disempurnakan dalam karya-karyanya. Tepian yang terbuka dan guratan yang menyimpan ketidakpastian menjadi bagian dari proses penciptaan yang menurutnya mencerminkan kerentanan sebelum sebuah bentuk mencapai kepastian.
“Saya tidak berkarya untuk menuntaskan suatu pengalaman atau melindunginya dari kemungkinan menghilang. Saya berkarya untuk tinggal bersamanya cukup lama hingga kompleksitasnya dapat dikenali, sekaligus menyisakan ruang bagi orang lain untuk menemukan sesuatu dari dirinya sendiri di dalam karya tersebut,” ungkapnya.
Seniman berusia 22 tahun itu mengembangkan praktik lintas medium dari pengalaman personal dan pengamatannya terhadap orang lain. Ketertarikannya mencakup arsip, memori, kegembiraan, keintiman, dan kerentanan manusia.
Rajata sebelumnya menempuh pendidikan di Tanglin Trust School, Singapura, kemudian mempelajari seni rupa selama satu tahun di University of British Columbia, Kanada, dan meraih predikat Dean’s List. Saat ini, ia melanjutkan pendidikan di BINUS University.
Selain seni, Rajata juga memiliki pengalaman di dunia olahraga. Ia pernah mewakili Indonesia dalam cabang bola basket dan beberapa kali meraih penghargaan MVP. Pengalaman tersebut turut membentuk cara kerjanya yang terstruktur dalam proses, namun tetap terbuka terhadap kemungkinan yang muncul selama proses berkarya.
Melalui “Terlihat / Terasa”, Rajata mengajak pengunjung melihat kembali kebiasaan sehari-hari dalam menilai seseorang berdasarkan wajah dan penampilan. Pameran tersebut sekaligus membuka ruang untuk mempertanyakan batas antara melihat, merasakan, mengingat, dan benar-benar mengenal.
Pameran tunggal perdana “Terlihat / Terasa” masih berlangsung hingga 27 September 2026 di ArtSphere Gallery, lantai 2 Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan, dan terbuka untuk umum.




