Kesenjangan ekonomi antara pekerja perempuan dan laki-laki di Indonesia masih menjadi persoalan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2026 mencatat rata-rata upah buruh perempuan sebesar Rp2,86 juta per bulan, jauh di bawah laki-laki yang mencapai Rp3,69 juta. Selisihnya sekitar Rp830.000 atau 22%.
Namun, persoalan perempuan di dunia kerja ternyata tidak berhenti pada nominal gaji. Di luar pekerjaan berbayar, perempuan justru menanggung porsi pekerjaan domestik dan pengasuhan yang lebih besar dibandingkan laki-laki.
Kajian Populix bertajuk “Studi Lanjut Kesenjangan Upah: Beban Pengasuhan dan Kerja Domestik yang Luput dari Hitungan Ekonomi” menunjukkan perempuan memang menghabiskan waktu 22 menit lebih sedikit untuk pekerjaan berbayar. Tetapi setelah digabung dengan pekerjaan domestik, total waktu kerja perempuan setiap hari justru 19 menit lebih panjang dibandingkan laki-laki.
Anisa Dwi Ariyani, Policy & Social Researcher Populix, mengatakan perempuan menghabiskan rata-rata 3 jam 14 menit setiap hari untuk pekerjaan domestik. Durasi tersebut 41 menit atau 27% lebih lama dibandingkan laki-laki yang mengalokasikan sekitar 2 jam 33 menit.
“Pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan masih dianggap sebagai unpaid labor (pekerjaan tanpa upah), dan luput dari hitungan ekonomi,” kata Anisa.
Menurut dia, apabila waktu tersebut dikonversi ke nilai ekonomi, selisih pekerjaan domestik dan pengasuhan yang dibebankan kepada perempuan setara dengan 31 hari kerja dengan asumsi delapan jam kerja per hari.
Temuan ini menunjukkan adanya pekerjaan yang secara ekonomi bernilai tetapi tidak tercermin dalam pendapatan maupun statistik pekerjaan berbayar. Perempuan tetap mencurahkan waktu dan tenaga untuk aktivitas yang menopang rumah tangga, meski kontribusi tersebut tidak menghasilkan upah secara langsung.
Persoalan semakin berat ketika masuk ke aspek pengasuhan anak. Populix menggunakan Gendered Care Burden Index untuk mengukur beban pengasuhan berdasarkan waktu, pengambilan keputusan dan beban mental, serta ketersediaan dukungan pengasuhan.
Hasilnya, skor rata-rata beban pengasuhan rumah tangga urban mencapai 45,7 dari 100 atau berada dalam kategori menengah. Sebanyak 65,1% responden masuk kategori tersebut, sedangkan 3,4% berada dalam kategori beban tinggi.
Yang menarik, tekanan terbesar bukan berasal dari lamanya waktu pengasuhan. Keterbatasan dukungan pengasuhan justru mencatat skor tertinggi sebesar 57,5, diikuti beban keputusan dan mental sebesar 54,6. Sementara beban waktu hanya mencapai 24,9.
Kondisi ini membuat persoalan pengasuhan berpotensi berubah menjadi persoalan ekonomi keluarga. Layanan pengasuhan yang terbatas, mahal, serta kekhawatiran terhadap kualitas dan keamanan membuat sebagian perempuan harus menyesuaikan aktivitas ekonominya.
“Kombinasi antara keterbatasan layanan, biaya yang tinggi, dan keraguan terhadap kualitas menempatkan banyak keluarga dalam pilihan yang sulit. Akibatnya sebagian perempuan harus mengurangi waktu kerja, menolak peluang karier, atau mempertimbangkan berhenti bekerja karena tidak menemukan dukungan pengasuhan yang sesuai,” jelas Anisa.
Beban perempuan juga terlihat dari tanggung jawab pengambilan keputusan di dalam rumah tangga. Skor beban keputusan dan mental perempuan mencapai 59,7, sedangkan laki-laki 48,5. Artinya terdapat selisih 11,2 poin atau sekitar 23%.
Sebanyak 71,7% perempuan mengatur sedikitnya 60% keputusan pengeluaran harian rumah tangga. Tanggung jawab tersebut mencakup memikirkan kebutuhan keluarga, mengatur jadwal anak, merencanakan belanja hingga memastikan tagihan terpenuhi.
Tekanan tersebut ikut memengaruhi kondisi psikologis sehari-hari. Sebanyak 34,9% perempuan mengaku sering atau sangat sering merasa kewalahan akibat tanggung jawab rumah tangga. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan laki-laki sebesar 18,4%.
“Pekerjaan domestik yang dilakukan perempuan tidak berhenti pada aktivitas fisik yang terlihat. Ada tanggung jawab untuk terus mengingat, merencanakan, dan mengambil keputusan bagi seluruh anggota keluarga. Beban ini tidak memiliki jam mulai dan selesai, tetapi dapat menguras energi serta ruang yang tersedia untuk pekerjaan berbayar,” ujar Anisa.
Beban ganda bahkan tetap terjadi ketika perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga. Populix mencatat kelompok perempuan pencari nafkah utama memiliki skor beban pengasuhan 51,9, lebih tinggi dibandingkan rata-rata keseluruhan responden sebesar 45,7.
Beban keputusan dan mental kelompok ini bahkan mencapai 67,0. Jika dibandingkan dengan laki-laki yang juga menjadi pencari nafkah utama, perempuan memiliki skor beban keputusan 17,3 poin lebih tinggi dan beban waktu 9,9 poin lebih tinggi.
Tekanan tersebut juga beririsan dengan kondisi ekonomi keluarga. Populix menemukan 35,2% responden berada dalam kelompok Double Burden, yakni rumah tangga yang menghadapi tekanan ekonomi sekaligus beban pengasuhan menengah hingga tinggi. Sebanyak 65,1% anggota kelompok tersebut merupakan perempuan.
Perempuan juga sekitar 1,5 kali lebih mungkin masuk kelompok Double Burden dibandingkan laki-laki, masing-masing 41,8% dan 27,2%. Bahkan 46,6% responden dalam kelompok tersebut mengaku sering atau sangat sering merasa kewalahan, sementara 54,3% tidak menggunakan layanan pengasuhan apa pun.
Anisa menegaskan, kesenjangan upah tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kesempatan perempuan untuk bertahan dan berkembang di pasar kerja. Meski kajian Populix tidak secara langsung mengukur penyebab kesenjangan upah, studi tersebut menunjukkan perempuan masih menghadapi beban domestik dan pengelolaan rumah tangga yang lebih besar.
“Isu kesetaraan upah perlu dibaca bersama dengan kesempatan perempuan untuk bertahan dan berkembang di dunia kerja,” kata Anisa.
Dengan rata-rata upah perempuan yang masih lebih rendah Rp830.000 per bulan dibandingkan laki-laki, sementara total waktu kerja harian setelah memperhitungkan pekerjaan domestik justru lebih panjang, persoalan kesetaraan upah menjadi semakin kompleks.
Beban domestik yang tidak dibayar bukan sekadar persoalan pembagian pekerjaan di rumah. Bagi perempuan pekerja, beban tersebut dapat menentukan seberapa besar waktu, energi dan kesempatan yang tersisa untuk pekerjaan berbayar serta pengembangan karier.




